Bubur Shafar
Bubur Shafar

Tradisi Bubur Shafar; Potret Dialektika Budaya dan Islam di Nusantara

Shafar merupakan bulan ke dua dalam kalender Hijriyah. Secara literal, Shafar berasal dari Bahasa Arab shifr yang berarti kosong, nol atau sepi. Penamaan bulan ini dengan nama Shafar ditengarai kuat memiliki keterkaitan erat dengan tradisi atau kebiasaan orang-orang Arab pra-Islam. Dalam catatan sejarah, penamaan bulan ini telah berlangsung sejak masa Kilab bin Murrah, kakek nabi Muhammad saw. yang kelima.

Nama Shafar juga ditengari terambil dari kata as-Shafariyyah yaitu nama sebuah pasar besar di wilayah Yaman bagian selatan, di mana kebiasaan orang-orang Arab kala itu gemar melakukan perjalanan jauh secara berkelompok menuju pasar besar ini untuk berbelanja memenuhi kebutuhan hidup mereka.  Selain itu, tradisi kalangan Arab Jahiliyah pada bulan Shafar adalah suka melakukan peperangan, setelah mereka istirahat pada bulan Muharram. Dari kebiasan mereka yang suka melakukan perjalanan pada bulan Shafar, baik dengan tujuan berperang maupun perdagangan, menyebabkan kondisi wilayah mereka sepi, lengang dan kosong. Kondisi semacam ini dalam bahasa Arab disebut shifr  atau shafar.

Tak hanya di wilayah Arab, kaum muslimin di Indonesia juga syarat akan tradisi dan kebiasaan di bulan Shafar. Tradisi ini telah berlangsung lama sejak generasi-generasi terdahulu. Tradisi merupakan sub-sistem dari norma sosial masyarakat. Ia merupakan hasil proses interaksi antar umat manusia dengan manusia lainnya, atau dengan alam sekitar.

Proses interaksi ini telah melahirkan norma-norma atau kesepakatan sosial yang melembaga. Norma-norma yang dilakukan secara berulang-ulang oleh sebuah komunitas, dan selanjutnya diwariskan kepada generasi berikutnya secara turun-temurun itulah yang disebut sebagai tradisi.

Tradisi Tajin Merah-Putih di Bulan Shafar

Di antara tradisi yang dilakukan sebagian komunitas muslim di Indonesia khusus pada bulan Shafar adalah “bubur shafar”. Tradisi ini lazim dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur, khususnya oleh etnis Madura di sana, maupun yang tinggal di beberapa wilayah lainnya. Bubur yang terbuat dari adonan tepung beras ini memiliki warna khas, yaitu coklat muda atau merah dan warna putih. Sehingga bubur ini kerap disebut Tajin Merah Putih. Kata Tajin berasal dari Bahasa Madura yang berarti bubur.

Baca Juga:  Viral Lagu Aisyah Istri Rasulullah : Ini Fakta-Fakta tentang Sayyidah Aisyah yang Wajib Kamu Ketahui (2)

Pada tradisi ini, setelah bubur dimasak, akan dilanjutkan dengan tradisi Tér-Atér, yaitu membagi-bagikannya kepada sanak famili dan tetangga. Warga yang membuat bubur shafar juga akan mengundang seorang ustadz atau tokoh agama untuk memanjatkan do`a, dilanjutkan dengan acara makan bubur bersama. Tradisi semacam ini akan berlangsung selama sebulan penuh dalam bulan Shafar, dengan teknis bergantian antar anggota kelompok masyarakat.

Makna filosofis di balik tradisi ini, selain mengekspresikan rasa syukur kepada Allah swt. atas nikmat yang diberikan, juga menjadi media penguat silaturrahim sesama warga. Warna merah menyimbolkan keberanian, sementara putih melambangkan kebersihan, sebagaimana layaknya warna bendera Indonesia. Sehingga sebagian kalang sesepuh Madura mengaitkan tradisi ini dengan nilai-nilai pendidikan cinta tanah air. Dengan demikian, tradisi ini menjadi bentuk pengamalan empat ajaran Islam; shadaqah, syukur, silaturrahim, dan cinta tanah air.

Kompromi Budaya dan Agama dalam Tradisi Shafar

Tradisi Tajin Merah-Putih yang menjadi sub-kultur sebagian muslim di Indonesia setidaknya menampakkan adanya akulturasi antara budaya dan pengejawantahan ajaran agama, khususnya Islam. Tradisi lokal (low tradision) memberikan pengaruh terhadap pola keberagamaan masyarakat (high tradision), begitu pula sebaliknya. Proses saling mempengaruhi ini yang selanjutnya disebut sebagai dialektika budaya dan agama.

Sejak awal kehadiran nya, Islam merupakan agama yang terbuka terhadap nilai-nilai kebudayaan dan bersifat shālihun likulli zamānin wa makānin (baik untuk setiap masa dan waktu). Hubungan erat antara ajaran Islam yang bersumber pada wahyu dengan budaya  serta kondisi masyarakat setempat yang merupakan produk manusia setidaknya sudah tergambar dengan banyaknya ayat-ayat al-Qur`an yang memiliki asbāb an-Nuzûl. Sebab-sebab turunya al-Qur`an (asbāb an-Nuzûl) yang menjelaskan tentang sebab akibat atau kronologis turunnya ayat menjadi bukti adanya “kompromi” yang baik antara wahyu yang berada pada ranah transenden (ketuhanan) dengan kondisi masyarakat sebagai objek dari wahyu.

Baca Juga:  Tujuh Peristiwa Besar Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Ajaran Islam tidak pernah hadir pada masyarakat yang hampa budaya. Kapanpun dan dimanapun kehadiran Islam, pasti akan bersentuhan dengan nilai-nilai budaya setempat. Oleh karna itu, syari`at Islam telah memberikan peran tersendiri pada tradisi dan budaya serta bersifat selektif-akomodatif terhadap budaya-budaya yang ada, khususnya pada wilayah yang profan. Bukti apresiasi Islam terhadap budaya dapat dilihat dari dijadikannya `urf (adat kebiasaan) sebagai bagian dari sumber hukum Islam. Abdul Wahab Khalaf mendefiniskan `urf  ini dengan artian sesuatu yang telah dikenal luas oleh manusia dan dijalankan secara biasa, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Untuk mempertegas posisi `urf sebagai sumber hukum Islam, Samsuddin as-Sarkhasiy dalam kitab al-Mabsûth merumuskan sebuah kaedah ;

الثابت بالعرف كالثابت بالنص

Ketetapan `urf  sama seperti ketetapan nash

Kaedah ini juga memiliki kesamaan makna dengan kaedah lainnya yang menyatakan; “al-`ādatu muhakkamatun” (tradisi ini dapat menjadi sumber penetapan hukum).

Dalam praktik keagamaan, perilaku pengakomodiran terhadap nilai-nilai tradisi lokal setempat dalam kontek keberagamaan juga banyak dicontohkan oleh para ulama salaf. Imam Ibnu Muflih al-Hanbali dalam kitab al-Adab al-Syar’iyyah, juz 2, hal. 47, mengutip pendapat Ibn ‘Aqil al-Hanbali, agar tidak meninggalkan tradisi masyarakat selama tradisi tersebut tidak haram

وقال إبن عقيل في الفنون: لا ينبغي الخروج من عادة الناس إلا في الحرام

Dalam kitab itu juga dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal tidak melakukan shalat sunat dua rakaat sebelum Maghrib (walaupun beliau beranggapan shalat itu sunnah), pada saat beliau berada di sebuah komunitas yang menganggapnya tidak sunnah.

Terakhir, uraian di atas kembali menekankan bahwa budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ajaran Islam hadir ke dunia bukan untuk mengganti budaya dunia menjadi budaya Arab, sebagai tempat awal diutusnya nabi Muhammad saw. Islam sangat menghargai nilai-nilai kebudayaan sebagai hasil karya, cipta dan karsa manusia. Selama tradisi dan kebudayaan itu tidak bertentangan dengan syari`at Islam, maka eksistensinya layak untuk terus dilestarikan.

Bagikan Artikel

About Buhori, M.Pd

Avatar
Dosen IAIN Pontianak dan Wakil Ketua PW.GP ANSOR Kalba