Dalam Al Quran Surah At Tahrim Ayat 8 Allah berfirman wahai orang orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya agar Allah mengampuni segala kesalahanmu dan memasukkan engkau dalam surganya Manusia dalam kesehariannya sadar atau tidak sadar selalu melakukan kesalahan dan dosa kecil atau besar Dosa ibarat kotoran yang masuk ke dalam rumah setiap saat sehingga setiap saat juga rumah harus dibersihkan Demikian pula halnya dosa manusia setiap saat selalu saja terjadi mulai dari kata kata buruk tentang tetangga prasangka dan kecurigaan yang berlebihan terhadap orang lain menggunjing teman dan saudara secara tidak sadar semuanya menimbulkan dosa yang akan dihitung nanti di hari kemudian Allah memerintahkan hambanya agar bertaubat setiap saat sehingga apapun yang dilakukan diampuni dan dihapuskan oleh Allah Swt agar kita tidak menjadi orang yang bangkrut di hari kemudian Sebagaimana dalam satu hadis yang menyebutkan bahwa yang dimaksud orang yang bangkrut di hari kemudian adalah orang yang suka menggunjing saudara sadaranya sehingga pahalanya dilimpahkan kepada mereka yang telah digunjing dan itulah yang dimaksud dengan orang orang bangkrut di hari kemudian Bertaubat bukanlah perkara sederhana dengan mengucapkan saya telah taubat tetapi memiliki syarat syarat tertent agar dapat diterima oleh Allah Swt Taubat yang diterima oleh Allah adalah taubatan nasuha sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut di atas Yang dimaksud dengan taubatan nasuha pada ayat tersebut di atas adalah taubat yang diikuti dengan komitmen tinggi sebagaimana yang dilakukan oleh para wali dan sufi sehingga pertaubatan mereka mencapai tingkat kesempurnaan sehingga mereka mampu menyingkap kebenaran dan keagungan tuhan yang sesungguhnya Baca juga Perbanyak Dzikir Jangan Suka NyinyirDalam terminologi sufisme ada tiga hal yang menjadi kunci pertaubatan yang sesungguhnya yaitu sebagai berikut Attakhalli Attakhallli yaitu sebuah proses di mana seseorang berjanji terhadap dirinya untuk meninggalkan segala perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama mulai dari hal hal yang kecil hingga dosa besar Jika ia selama ini senang menggunjing orang menyakiti hati orang mengambil hak orang lain maka pada tahap ini seseorang sudah tidak akan lagi melakukannya Ia juga konsisten membebaskan diri dari hal hal yang dapat menyibukkan dirinya lalai mengingat tuhan seperti kesibukan mengejar harta kekayaan jabatan dan kekuasaan Jika hati dan jiwa masih penuh dengan hal hal keduniaan maka kemaksiataan akan mudah terjadi pada diri seseorang Dititik ini kesibukan mengurus hal hal yang bersifat keduniaan bukanlah suatu maksiat namun jika seseorang yang ingin menjadi hamba yang rabbani dan bertaubat secara sungguh sungguh maka kelalaian mengingat Allah menjadi sebuah maksiat besar baginya Attahalli Attahali berarti seseorang mulai memasuki sebuah proses pembentukan diri yang baik dengan mengisi jiwa dan hatinya hal hal yang terpuji seperti berserah diri pada tuhan atas segala urusannya meyakini segala sesuatu ada di tangan tuhan mencintai karena Allah selalu bersabat atas apapun yang menimpahnya selalu bersyukur kepada Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan hatinya seperti iri dengki dan hasut Pada proses tahalli ini manusia membebaskan dirinya dari segala kemaksiatan baik secara jasmani maupun ruhani semuanya bersih mulai dari tindakan prilaku perkataan hati yang bersih jiwa yang tenang Dititik ini manusia telah berada pada pertaubatan pertama yang sesungguhnya Namun masih harus memasuki pertaubatan lanjutan yaitu pertaubatan atas segala maksiat baik dzahir maupun bathin dengan harapan terwujudnya tajalli Tajalli Para ulama sufi memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan tajalli adalah berakhlak dengan akkhlak Allah jika Allah maha pengasih maka manusia harus pengasih dan jika Allah maha pengampun maka manusia harus memaafkan terhadap sesamanya tidak benci tidak dendam tidak iri hati ikhlas dan penuh kasih sayang Pada situasi seperti inilah keridhaan tuhan mulai mendekati hambanya sehingga apapun yang dialami selalu menyerahkan diri kepadaNya Sikap berserah diri ini dapat terpatri dalam jiwa seorang hamba melalui tiga ciri utama yang dapat dilihat dari sikapnya dalam menghadapi dan menerima cobaan misalnya jika seseorang kehilangan seorang anak yang dicintai maka sikapnya terhadap musibah itu ada tiga pertama bersedih namun hatinya tetap tenang menerima kenyataan itu dengan penuh kesabaran dan ketabahan Kemudian yang kedua bersedih akan tetapi ia tersenyum karena menyadari betapa pengasihnya dan lembutnya terhadap dirinya dan yang ketiga menangis akan tetapi tangisannya bukanlah karena hilangnya anak yang sangat dicintai akan tetapi ia menangis karena ia meyakini kecintaan Allah terhadap dirinya Sikap inilah terpatri dalam jiwa para dan wali menerima taqdir secara ikhlas Ketika Ibrahim putra Rasulullah Saw meninggal Nabipun menangis akan tetapi tangisannya adalah wujud keyakinannya atas kecintaan Tuhan terhadap dirinya Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bertaubat kepada Allah yang sesungguhnya atau taubaton nasuha harus melalui tiga tahap yaitu bertaubat untuk meninggalkan segala maksiat kemudian bertaubat meninggalkan maksiat dan menghiasi diri dengan segala sikap yang terpuji dan yang ketiga bertaubat dari segala sesuatu selain Allah Pada titik inilah sifat sifat ketuhanan akan terpatri pada diri orang itu dan ketika itulah seseorang akan disebut sebagai hamba yang rabbani dimana setiap doanya diterima oleh Allah dan inilah wujud daripada taubatan nasuha yang balasannya adalah pengampunan segala kesalahan dan surga dibawahnya mengalir air air yang jernih Wallahu alam bisshawab

Tinggalkan Balasan