moderasi beragama dalam al-quran
Alquran

4 Prinsip Ajaran Moderasi Beragama dalam Al-Qur’an

Moderasi beragama berdasarkan definisi yang diberikan oleh kementerian agama lewat buku yang disusunnya berjudul ModerasiBeragama, bermakna kepercayaan diri terhadap substansi (esensi) ajaran agama yang dianutnya, dengan tetap berbagi kebenaran sejauh terkait tafsir agama. Dalam artian moderasi agama menunjukkan adanya penerimaan, keterbukaan, dan sinergi dari kelompok keagamaan yang berbeda. Kata moderasi yang bentuk bahasa latinnya moderâtio berarti kesedangan, juga berarti penguasaan terhadap diri. Dalam bahasa inggris disebut moderation yang sering dipakai dalam arti average (rata-rata), core (inti), standard (baku), atau non-aligned (ketidak-berpihakan). Secara umum, moderat berarti mengutamakan keseimbangan terkait keyakinan, moral, dan prilaku (watak).

Berbagai ayat dan hadis yang menunjukkan konsep moderasi beragama dalam Islam, dengan merujuk pada kata yang lebih spesifik penggunaannya yaitu kata wasatha. Islam merupakan agama wasathan. Wasathan yang meliputi trilogi Islam yaitu dalam dimensi aqidah, ketuhanan antara Atheisme dan Poletheisme, dimensi syariah, meliputi Ketuhanan dan Kemanusiaan, dimensi tasawuf meliputi syariat dan hakikat dalam konsep tersebut menunjukkan akan sifat moderat itu sendiri yang berada di tengah-tengah.

Menurut Quraish Shihab, karakter dari moderasi Islam digambarkan dengan sikap moderat yaitu tidak cenderung kepada sikap berlebih-lebihan (ifrath) atau sikap meremehkan (tafrith) terkait berbagai permasalahan agama maupun duniawi. Tidak termasuk golongan moderat yang ekstrem dalam beragama. Karena moderasi Islam menggabungkan dua hak, yaitu hak roh dan jasad, dengan tidak melalaikan satu sisi terhadap sisi lainnya. Begitu juga dalam melihat sesuatu, mereka berpikir objektif, dan komprehensifJadi, untuk sampai kepada moderasi agama dibutuhkan kemampuan berpikir secara objektif dan komprehensif terkait berbagai permasalahan yang ada, utamanya dalam memandang isu-isu pluralitas agama. Maka ketepatan dalam menalar teks-teks keagamaan dalam wujud penafsiran sangat dibutuhkan. Agar melahirkan konsep beragama yang moderat, tidak ekstrim dan radikal.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (8) : Menyangka Sudah Waktu Berbuka, Ternyata Keliru, Bagaimana Hukum Puasanya?

4 Prinsip Ajaran Moderat dalam Al-Qur’an

Pertama, Islam sebagai rahmah li al-‘alamin

Keberadaan Islam sebagai rahmah li al-‘alamin disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’: 107 yang menekankan hakikat diutusnaya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ayat dipahami sebagai dasar terbangunnya konsep Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kata “rahmah” yang disebutkan 88 kali dalam Al-Qur’an, di antaranya berarti hati yang lembut, kecenderungan yang mendorong pemberian maaf, atau perbuatan yang melahirkan kebaikan dan anugerah.

Pewahyuan ayat ini berkaitan dengan apa yang seharusnya diambil terkait tawanan dalam perang Badar. Abu Bakar berpendapat, bahwa orang-orang yang ditawan itu hendaknya dikembalikan kepada keluarganya dan diganti dengan cara membayar tebusan, sedangkan Umar mengusulkan agar tawanan perang itu dibunuh agar mereka tidak lagi menghina Islam dan yang membunuh adalah keluarganya sendiri. Akhirnya Allah SWT mewahyukan ayat tersebut. Al-Hasan al-Basri menyatakan bahwa rahmah merupakan sikap lemah lembut yang dianugerahkan oelah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dalam berinteraksi dengan sesama.

Dalam pandangan Ali Mustafa Yaqub, sikap lemah lembut yang dimiliki Nabi Muhammad SAW ini menandai karakteristik dakwah Islam yang beliau sampaikan, sebagaimana yang juga diperintahkan kepada para nabi sebelum beliau. QS. Taha: 43-44, misalnya, berisi perintah kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS untuk mengedepankan sikap lemah-lembut ketika menghadapi Fir’aun.

Kedua, Menghindari Kekerasan dalam Dakwah Islam

Agama Islam melarang penyebaran dakwah dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Sebagaimana sering dikemukakan dalam berbagai tulisan, larangan penggunaan kekerasan itu tercantum dalam QS Al-Nahl (16): 25, yang menekankan sikap bijak dalam berdakwah yang diungkapkan dengan kata yaitu al-hikmah, al-mau’idah al-hasanah dan wa-jādilhuml bi al-lati hiya ahsan. Ketiga metode dakwah sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an ini sebagai nilai-nilai perdamaian dalam dakwah. Ibn Taymiyah menyatakan adanya aturan-aturan pokok yang harus diikuti dalam penyampaian dakwah Islam, yaitu sikap pengertian dan sabar, bukan dengan jalan menggunakan kekerasan.

Baca Juga:  Azyumardi Azra: Sejak Awal Muhammadiyah Penganut Moderasi Beragama

Ketiga, Melarang Memaki Sesembahan Orang Lain

Firman Allah SWT dalam Surah al-An`am ayat 108 menegaskan sikap Islam yang membenci tindakan memaki sesembahan pihak lain. Mustafa Yaqub menyebut pewahyuan ayat ini berkaitan dengan sikap sebagian umat Islam yang mencaci berhala-berhala yang dijadikan sesembahan orang musyrik. Dengan begitu, mereka akhirnya melakukan balasdendam dengan mencaci-maki Allah SWT. Pesan larangan memaki sesembahan orang lain ini kemudian dituangkan dalam kontrak sosial oleh Nabi Muhammad SAW dengan menyepakati “Piagam Madinah”.

Di antara isi Piagam Madinah yang terkait dengan larangan memaki sesembahan orang lain tersebut dalam pasal yang berbunyi: Orang Islam, Yahudi dan warga Madinah yang lain, bebas memeluk agama dan keyakinan mereka masing-masing. Mereka dijamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah. Tidak seorangpun dibenarkan mencampuri urusan agama orang lain. Orang Yahudi yang menandatangani (menyetujui) piagam ini berhak memperoleh pertolongan dan perlindungan serta tidak diperlakukan zhalim. Sebagaimanya diuangkapkan dalam Piagam Madinah, ini tampak sekali bahwa kesatuan masyarakat merupakan sesuatu yang sangat prinsip bagi Nabi.

Nabi Muhammad SAW membangun kota Madinah atas kerjasama warganya yang memiliki beragam keyakinan. Warga Madinah tidak diperbolehkan melakukan kekerasan kepada siapa pun selama mereka tidak diperlakukan secara zalim. Nabi Muhammad SAW tidak pernah memulai perang atau melakukan penyerangan. Jika kemudian terjadi perang, maka perang itu dilakukan oleh Nabi sebagai upaya untuk mempertahankan diri. Warga yang bukan muslim pun juga tidak dipaksa untuk mengikuti Islam. Alih-alih, Nabi bahkan memberikan kebebasan berkeyakinan kepada mereka dan beribadah menurut keyakinan mereka.

Keempat, Tidak Memaksa dalam Beragama

Perihal tidak bolehnya pemaksaan dalam beragama disebutkan dalam Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 256. Terkait dengan pewahyuan ayat ini, ada beberapa riwayat asbāb al-nuzūl yang saling menguatkan, yang memberikan penegasan bahwa cara-cara pemaksaan dalam beragama tidak dibenarkan oleh Islam. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW sendiri hanya merupakan “muballigh” yang tidak punya kewenangan untuk melakukan pemaksaan, seperti dinyatakan dalam Surah al-Gasyiyah ayat 21-22 dan Surah Yunus ayat 99.

Baca Juga:  FKUB Harus Terus Bumikan Moderasi Beragama

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid menegaskan bahwa memaksa seseorang untuk mengikuti suatu agama tak dibenarkan. Kata “la dalam kalimat la ikraha fi al-din adalah “la linafyi al-jins”, yang bertujuan untuk menafikan semua ragam pemaksaan dalam hal beragama. Dalam pada itu, ayat ini pun diungkapkan dengan menggunakan kata yang bersifat umum (lafz ‘am). Dalalah kata yang bersifat umum, menurut ushul fikih Hanafiyah, bersifat qat’i (jelas-tegas), sehingga tidak ada kemungkinan untuk ditakhsis apalagi dinaskh oleh dalil yang bersifat zanni.

Di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Hakim, Rasyid Rida mengungkapkan bahwa perihal kebebesan beragama merupakan salah satu prinsip dasar ajaran Islam, sehingga tak ada ayat Al-Qur’an atau hadis Nabi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran tersebut. Dikarenakan keimanan merupakan fondasi keagamaan yang prinsip esensialnya terkait dengan ketundukan, maka agama sesungguhnya tidak dapat dijalankan melalui cara-cara pemaksaan.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ulil albab

Makna dan Karakteristik Ulil Albab dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran orang-orang yang menggunakan akalnya diberi sebutan dengan gelar ulil albab (orang-orang yang …

pemerkosaan

Telaah Kisah Pemerkosaan di Masa Rasulullah SAW dan Bagaimana Islam Menyikapi?

Kasus perkosaan makin marak terjadi akhir-akhir ini, bahkan juga menimpa anak-anak di bawah umur. Mulai …