abdurrahman bin auf
abdurrahman bin auf

Abdurrahman bin Auf: Memulai Bisnis dari Nol hingga Menjadi Sahabat yang Kaya Raya

Kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW selalu menarik diulas bukan saja karena mengandung hikmah yang luar biasa di dalamnya tetapi juga dapat menginspirasi banyak orang. Kisah Abdurrahman bin Auf adalah salah satunya.

Kisah perjuangan sahabat Abdurrahman bin Auf dalam membangun bisnis dari nol selalu relevan dan menginspirasi siapapun yang mengkaji kisahnya. Lebih-lebih bagi calon pengusaha awal yang seringkali beralasan terganjal modal saat mau memulai usaha.

Sekali lagi, kisah Abdurrahman bin Auf patut dijadikan teladan dan inspirasi dalam membangun suatu bisnis dari nol hingga sukses, kaya raya dan menyumbangkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Tak ayal jika Abdurrahman Auf dalam sejarah Islam dikenal sebagai sahabat yang sukses dunia dan akhirat. Ada kisah yang mengharukan, yaitu Abdurrahman pernah mengeluar kan 200 uqiyah emas (1 uqiyah setara 31,7475 gram) demi memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk.

Kedermawanan sahabat Abdurrahman bin Auf juga terkonfirmasi saat Nabi Muhammad menyeru kepada umat Islam untuk berinfak di jalan Allah, maka beliau pun tanpa pikir panjang dan dengan keikhlasan langsung menyumbangkan separuh hartanya.

Memulai Usaha dari Nol

Ikhwan Fauzi (2002) dalam bukunya berjudul “Sebuah Biografi Abdurrahman bin Auf” menjelaskan bahwa ketika Abdurrahman bin Auf hijrah dari Makkah ke Madinah bersama Nabi, ia tidak membawa bekal sama sekali.

Saat tiba di Madinah, kaum Anshar rela membagikan harta kekayaan kepada para Muhajirin, termasuk di dalamnya Abdurrahman bin Auf. Bahkan Abdurrahman bin Auf ditawari sebidang kebun kurma dan sejumlah harta oleh saudaranya kaum Anshar.

Alih-alih menerima tawaran tersebut, namun sahabat Abdurrahman bin Auf justru meminta petunjuk di mana keberadaan pasar. “Tolong tunjukkan kepadaku di mana arah menuju pasar”, kata Abdurrahman bin Auf.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sahabat Abdurrahman bin Auf lebih memilih kail dari pada ikan. Itu artinya, beliau lebih memilih memulai usaha, meskipun bermodal nol. Dari sini pula, kepiawaian Abdurrahman bin Auf dalam berwirausaha terasah dan tidak membutuhkan waktu lama, beliau benar-benar sukses menjadi entrepreneur.

Teladan dari Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman Auf menjadi salah satu nama yang disebutkan dalam hadis yang membahas tentang 10 sahabat yang dijanjikan surga. Sehingga kiranya sangat layak dan sudah seharusnya umat Islam meneladani beliau, terlebih pengusaha muslim.

Ada beberapa teladan yang bisa diambil dari Abdurrahman bin Auf terkait dengan membangun bisnis dari nol.

Pertama, sikap berani untuk memulai usaha atau bisnis.

Seorang businesman yang sukses seperti Abdurrahman bin Auf patut dijadikan role model atau teladan sepanjang zaman bagi orang-orang zaman now. Salah satu keteladanannya adalah berani memulai usaha.

Mentalitas pengusaha adalah berani mencoba. Hal ini sesuai dengan teori umum yang menyebutkan bahwa jika kita berani mencoba, maka akan ada dua kemungkinan: sukses atau gagal. Tetapi jika kita tidak ingin mencoba, maka akan hanya ada satu kemungkinan, yakni gagal.

Kedua, memfokuskan keahliannya.

Sikap Abdurrahman bin Auf lebih memilih ditunjukkan keberadaan pasar dibanding menerima sejumlah uang dan kebun kurma menunjukkan bahwa dalam dunia bisnis, sikap yang harus ditempuh adalah memfokuskan hobi dan keahliannya.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam berbagai kitab sirah nabawi bahwa Abdurrahman bin Auf sangat pandai berdagang. Sehingga, belia lebih memilih pasar daripada mengelola kebun kurma. Jika mengelola kebun kurma, niscaya beliau akan memulai dari nol dan dengan pengetahuan atau skill yang harus beliau pelajari lagi.

Lain halnya dengan skill berdagang, Abdurrahman bin Auf sangat lihai dan teruji. Saat itu, Abdurrahman bin Auf merintis perniagaan keju dan minyak samin. Walhasil, tidak lama setelah ditunjukkan pasar, Abdurrahman bin Auf melakukan terobosan dan berhasil meraih kesuksesan. Usahanya pun maju pesat.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf adalah menjadikan penduduk madinah sebagai partnet bisnis. Dengan begitu, bisnis yang dijalankan oleh Abdurrahman bin Auf tidak dimonopoli, melainkan saling sinergi.

Ketiga, rajin sedekah.

Abdurrahman bin Auf rajin bersedekah. Hartanya tidak lantas membuatnya lupa diri, bersikap sombong, dan suka pamer. Alih-alih sombong dan hura-hura, Abdurrahman justru bersikap tawadlu’, ringan tangan, dan suka bersedekah. Perihal sedekah, mungkin kita yang hidup di era sekarang ‘ngiri’ dan terkagum-kagum.

Bagaimana tidak. Untuk urusan sedekah, Abdurrahman tidak menggunakan perhitungan. Uang diletakkan di tangan, bukan dihati. Baginya, harta dan uang itu jalan untuk meraih kemulyaan di sisi Allah sehingga harus dibelanjakan untuk kepentingan umat.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

misteri lelaki penghuni surga

Dear Wahabi, Kunci Masuk Surga Tidaklah Cukup Hanya Melakukan Shalat Malam Saja!

Salah satu ciri gerakan dan paham Wahabi adalah gemar menyalahkan kelompok lain (selain kelompoknya) meskipun …

al-quran

Kekeliruan dalam Memahami Hadist Larangan Menafsirkan Alquran dengan Akal

Sebagian kalangan umat Islam masih memperselisihkan sebuah hadist tentang ancaman bagi orang yang berpendapat atau …

escortescort