Abu Bakar
Abu Bakar

Abu Bakar as-Shiddiq: Penyelamat Islam Setelah Nabi Muhammad Saw Wafat

Pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 10 H atau bertepatan dengan 08 Juni 632 M, manusia terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad Saw wafat. Hari itu, umat Islam berduka karena kehilangan pemimpin, kekasih, panutan dan pembimbing terbaik yang telah membebaskan jazirah Arab dari kegelapan.

Umar bin Khathab adalah sahabat yang paling tidak percaya dengan kabar wafatnya Nabi Muhammad Saw. Bahkan, Umar akan menebas siapa saja yang berani mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw., wafat. Tapi sekuat apa pun Umar menolak dan mengingkari kabar tersebut, ketetapan tersebut tidak dapat berubah, Nabi Muhammad Saw., telah wafat.

Pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw., umat Islam mengalami kegamangan dan kebingungan. Permasalahan pertama yang muncul kemudian, siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw? Tidak ada yang bisa menjawab.

Umat semakin bingung karena sebelum wafat, Nabi Muhammad Saw tidak memberikan wasiat atau menunjuk seseorang untuk menggantikannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, bisa dikatakan bahwa persoalan yang muncul pertama kali dalam Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., adalah persoalan politik, bukan masalah teologi. Demikian menurut pendapat Prof. Karim.

Nabi Muhammad Saw., tidak menunjuk siapa pun untuk menggantikannya, maka terjadi saling klaim antara Kaum Ansar dan Muhajirin. Kaum Ansar mengklaim bahwa mereka yang berhak menjadi pemimpin umat Islam karena mereka yang menolong Nabi Muhammad Saw., dan umat Islam ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Sementara kaum Muhajirin juga ngotot merekalah yang berhak memimpin, karena mereka rela berkorban meninggalkan keluarga, harta benda dan tanah kelahiran demi mengikuti Nabi Muhammad Saw., hijrah.

Di tengah perdebatan sengit tersebut, muncullah Umar bin Khathab yang langsung membaiat Abu Bakar as-Shiddiq menjadi khalifah. Tanpa perdebatan, umat Islam lalu mengikuti Umar bin Khathab. Abu Bakar adalah sahabat paling senior Nabi Muhammad Saw., dan berasal dari Suku Quraisy. Dua faktor tersebut membuat umat Islam mau dan rela apabila dipimpin oleh Abu Bakar. Sebab dalam tradisi kepemimpinan di Jazirah Arab pra Islam, kedua faktor tersebut menjadi penentu utama: senioritas dan berasal dari Suku Quraisy.

Baca Juga:  Belajar dari Semangat Pasukan Badar

Setelah menjadi khalifah, pekerjaan besar menunggu Abu Bakar. Seperti misalnya munculnya nabu-nabi palsu dan murtadnya sebagian kaum muslim. Selain itu, orang-orang Islam yang murtad juga tidak lagi mau membayar zakat dan pajak lain-lain. Mereka beranggapan bahwa bersamaan dengan meninggalnya Rasulullah Saw., maka berakhir pula kontrak/perjanjian membayar pajak kepada negara.

Menghadapi para pembangkang tersebut, Khalifah Abu Bakar bersikap tegas. Ia memberikan dua pilihan: tunduk tanpa syarat atau jika tidak mau tunduk, maka akan diperangi. Segera setelah mendapat konfirmasi sebagian mereka tidak mau tunduk, Abu Bakar lalu mengirimkan tentara perang untuk membasmi para pembangkang tersebut. Selain itu, Abu Bakar juga melanjutkan ekspedisi ke Syam di bawah kepimpinan Usamah bin Zaid untuk menghadapi Bizantium.

Langkah melanjutkan ekspedisi ke Syam awalnya ditentang oleh Umar bin Khathab. Umar bin Khathab berpendapat bahwa keamanan Kota Madinah lebih penting daripada melanjutkan ekspedisi ke Syam. Tapi Abu Bakar bergeming, ia tetap menjalankan kebijakannya tersebut. Ternyata hal itu memiliki dampak besar di mata musuh. Musuh-musuh Islam, yakni Sasania di Timur dan Romawi di barat beranggapan bahwa pemerintahan Islam di Madinah dalam kondisi stabil dan kuat pasca ditinggal Rasulullah. Sebab, Islam berani mengirimkan ekspedisi ke luar wilayahnya.

Anggapan tersebut akhirnya membuat dua musuh Islam tersebut tidak berani menyerang Madinah. Padahal, saat itu kondisi Madinah sedang tidak stabil karena muncul banyak pemberontakan. Saat jendral-jendral perang Islam dikirimkan untuk memberantas kaum pemberontak dan melanjutkan ekspedisi ke Syam, keamanan Kota Madinah dipercayakan kepada Ali bin Abi Thalib, sahabat dan menantu Rasulullah Saw.

Dengan strategi jitu tersebut, dalam kepemimpinannya, Abu Bakar mampu menumpas kaum pemberontak sekaligus mengembalikan kestabilan Kota Madinah. Abu Bakar juga memiliki jasa besar dalam membukukan al-Qur’an dalam satu mushaf atas usulan Umar. Saat itu Umar gelisah karena banyak sahabat penghafal al-Qur’an yang gugur dalam perang Yamamah. Maka Umar usul kepada Abu Bakar agar al-Qur’an dibukukan dalam satu mushaf. Abu Bakar menerimanya dan langsung menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin proyek tersebut dibantu oleh Ali bin Abi Thalib. Proyek inilah yang nantinya akan dilanjutkan oleh Khalifah Utsman bin Affan.

Baca Juga:  Masjid yang Menyebarkan Proklamasi Kemerdekaan RI

Tahun 634 M, Abu Bakar as-Shiddiq menghembuskan nafas terakhirnya. Menjelang wafat, ia menunjuk Umar bin Khathab untuk menggantikannya sebagai khalifah. Berkat jasa dan perannya saat menjadi khalifah, Abu Bakar mendapat julukan sebagai the savior of Islam after the Prophet Muhammad (penyelamat Islam setelah Nabi Muhammad Saw wafat). Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Nur Rokhim

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY