bulan syaban
bulan syaban

Ada Apa dengan Sya’ban (4): Bulan Bershalawat kepada Nabi

Tidak disangkal lagi, bershalawat kepada Nabi adalah keharusan bagi umat Islam meskipun tidak diwajibkan. Kenapa? Karena tanpa Nabi Muhammad kita bukan siapa-siapa. Hadits Qudsi bilang: “Andaikan bukan karena Nabi Muhammad, manusia tak ubahnya binatang, bahkan lebih sesat”. Kita semua bisa selamat dan bahagia, di dunia terutama akhirat, semata karena beliau, karena kasih sayang beliau kepada umatnya.

Muslim yang sadar akan hal ini akan mewajibkan dirinya untuk selalu bershalawat kepada Baginda Nabi. Disamping itu, shalawat menjadi satu-satunya ibadah yang pasti diberi pahala sekalipun yang membaca riya’, pamer, dan sebagainya. Inilah keutamaan shalawat.

Pahala Bershalawat kepada Nabi

Seberapa besar pahalanya? Besarnya pahala shalawat kepada Nabi dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Nasa’i. “Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”.

Abdullah bin Umar menceritakan: “Siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad sekali, Allah dan malaikat bershalawat kepadanya tujuh puluh kali”. (HR. Imam Ahmad).

Masih banyak lagi hadis yang menjelaskan keutamaan bershalawat kepada Nabi. Shalawat merupakan ibadah yang tidak terikat oleh waktu dan tempat. Dimana saja dan kapan saja boleh membacanya.

Namun demikian, ada waktu-waktu tertentu dimana bershalawat kepada Nabi lebih tinggi nilai dan keutamaannya. Yakni, di bulan Sya’ban. Pada bulan ini sangat dianjurkan bershalawat kepada Nabi. Begitu besarnya keutamaan bershalawat di bulan ini sampai-sampai bulan Sya’ban disebut “Bulan bershalawat kepada Nabi”.

Kenapa demikian? Satu faktornya adalah karena ayat anjuran bershalawat kepada Nabi turun pada bulan Sya’ban. Yakni, surat al Ahzab ayat 56.

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawat salamlah kepadanya”.

Berdasarkan kenyataan ini para ulama kemudian memberi nama Sya’ban dengan “Bulan bershalawat kepada Nabi”. Hal ini seperti dikatakan oleh Syaikh Abi al Shaif al Yamani mengutip pendapat Imam Ahmad bin Hijazi al Fusyni dalam kitabnya Tuhfatu al Ikhwan. Pendapat yang sama dikatakan oleh Syaikh Syihabuddin al Qosthalani dalam kitabnya al Mawahib. Dan, seperti dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar mengutip pendapat Imam Abi Dzar al Harawi, ayat seruan bershalawat kepada Nabi turun pada tahun ke 3 Hijriah. Pendapat lain mengatakan turun disaat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Baca Juga:  Catatan Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki (2): Apakah Nabi Isra' Mi'raj dengan Ruh dan Jasad?

Hakikat Bershalawat kepada Nabi

Dalam ayat tersebut, Allah sangat menganjurkan kepada umat Islam untuk selalu bershalawat kepada Nabi. Allah juga menyindir umat Islam yang malas membaca shalawat. Ayat tersebut hendak menyampaikan; “Allah dan para malaikat saja bershalawat kepada Nabi Muhammad, apalagi umat Islam yang segalanya bergantung kepada syafaatnya”.

Syaikh ‘Izzuddin bin Abdissalam mengatakan: “Perlu diingat, bershalawat kepada Nabi tidak berarti shalawat salam tersebut adalah pemberian dan permohonan kita supaya Rasulullah dikasihi oleh Allah. Akan tetapi, shalawat adalah untuk kepentingan mereka yang membaca. Andai kata tidak ada satupun muslim yang bershalawat, tidak akan mengurangi kapasitas beliau sebagai kekasih Allah dan manusia paling sempurna.

Bershalawat kepada Nabi supaya keutamaan, kebaikan, dan cahaya keimanan yang ada pada Nabi memancar kepada kita. Karena tanpa perantara Rasulullah sulit untuk dekat kepada Allah, bahkan bisa dikatakan tidak mungkin seseorang menjadi kekasi Allah tanpa perantara Rasulullah.

Itulah, Allah memotivasi kita bershalawat, dimana saja  dan kapan saja. Sampai-sampai untuk membuktikan dahsyatnya bershalawat Allah sendiri dan para malaikat juga bershalawat kepada Baginda Nabi.

Dan, sekali lagi, momentum bulan Sya’ban sebagai bulan bershalawat kepada Nabi hendaklah kita manfaatkan sebaik-baiknya. Di bulan ini, seperti dijelaskan sebelumnya, merupakan waktu yang spesial untuk bershalawat kepada Nabi. Spesial berarti memiliki nilai lebih dibandingkan membaca shalawat pada selain bulan Sya’ban.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

qorun

Kisah Qarun: Simbol Oligarki Finansial dalam Al Qur’an

Terlalu sederhana, hanya menceritakan Qarun sebagai pengusaha tamak sampai lupa perintah zakat. Hampir tidak ada …

haman

Haman: Kisah Politikus Rakus pada Zaman Fir’aun yang Diceritakan Al-Quran

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair, namun hancur di tangan politikus Dr. Muhammad Iqbal Haman …