bendera islam
bendera islam

Adakah Bendera Islam dan Bendera Khilafah ?: Ragam Bendera dari Negara-negara Islam

Bendera dalam konteks negara berbangsa saat ini menjadi sangat penting untuk menegaskan sebuah kedaulatan. Setiap negara memiliki identitas yang salah satunya direpresentasikan melalui bendera. Bahkan organisasi hingga klub olahraga saja memiliki bendera. Bendera menjadi simbol kebanggaan dari suatu kelompok.

Pertanyaannya, apakah Islam sebagai sebuah agama memiliki bendera? Pertanyaan ini penting diajukan untuk memberikan narasi yang cerdas kepada orang yang sering menggiring seolah ada bendera Islam warisan Rasulullah yang harus ditegakkan. Sepenting apakah bendera dalam Islam? Sepenting al-Quran dan hadist? atau jika ada, pentingkah menegakkan bendera Islam atau yang penting menegakkan ajaran Islam di tengah masyarakat?

Bendera yang kerap dijadikan simbol untuk mewakili umat Islam adalah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Secara sederhana walaupun salah kaprah kemudian disebut bendera tauhid. Bendera ini misalnya bisa dilihat di negara resmi seperti Arab Saudi yang menjadi identitas nasional mereka, atau di beberapa negara tidak resmi seperti ISIS pada zamannya dan dimiliki pula oleh organisasi yang menginginkan negara seperti HTI dan Khilafatul Muslimin.

Bendera Negara Islam : dari Arab Saudi hingga Irak

Untuk bendera Arab Saudi tentu itu tidak menjadi soal karena sebagai kebanggaan nasional mereka. Pun mereka tidak mengklaim perwakilan bendera Rasulullah atau bendera Islam. Bender aini digunakan pemerintah Arab Saudi sejak 15 Maret 1973 yang melambangkan kalimat tauhid sebagai bentuk keimanan dan pedang yang mewakili bangsa Saud, dinasti pendiri negara tersebut.

Karena berisi kalimat tauhid bendera ini memiliki aturan sendiri yang tidak boleh digunakan pada kaus, baju atau barang lainnya. Pada perhelatan Piala dunia 2002 Pemerintah Arab Saudi memprotes FIFA yang meletakkan bendera negara-negara di bola sepak. Tentu bukan karena benderanya, tetapi ada kalimat tauhid yang berpotensi akan ditendang dan diinjak dengan kaki. Kalimat tauhid sangat sakral dalam Islam sehingga tidak boleh dijadikan atribut yang sembarangan bisa diletakkan dalam kondisi dan tempat yang tidak terhormat.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (5): Kitab Sullam al Raja Karya Usman Said Tungkal

Berbeda dengan negara-negara Islam Timur tengah lainnya yang memilih simbol keislamannya dengan kalimat takbir. Misalnya, terlihat dari bendera negara Irak dengan dasar warna merah, putih, hitam dan tulisan takbir warna hijau di tengahnya. Bendera Irak ini sempat diganti dengan runtuhnya rezim Saddam Husein dengan bendera bulan sabit, tetapi menimbulkan kontroversi.

Bendera Afganistan mempunyai dinamika yang sangat unik. Pergantian bendera nasional kerap kali mengikuti politik yang ada mengikuti penguasa yang menjadi rezim dari dinasti, kekaisaran hingga republik. Terakhir bendera yang digunakan rezim Taliban adalah bendera dasar putih dengan kalimat tauhid.

Secara umum, memang di Timur Tengah, negara-negara Islam banyak menggunakan simbol warna merah, putih dan hitam sebagai simbol perjuangan pan-arabisme yang terlihat misalnya dalam bendera Mesir, Suriah, Irak, Yaman, dan Sebagian menambahkan warna hijau semisal di Palestina, Dubai, Uni Emirat, dan lainnya.

Simbol kalimat tauhid, kalimat takbir dan bulan sabit dengan warna-warni yang beragam menjadi ciri khas bangsa Arab dalam menegaskan identitas nasional mereka masing-masing dengan filosofi dan makna sejarahnya. Pertanyaanya, kenapa mereka tidak seragam dalam bendera semisal bendera dengan kalimat Tauhid seperti Arab Saudi dan Afganistan hari ini atau dengan simbol bulan sabit secara keseluruhan?

Bendera bagi negara mempunyai sejarah masing-masing dengan simbol dan makna sebagai semangat negaranya. Apalagi tidak ada tuntutan secara syar’i yang qathi tentang sebuah bendera. Bendera tidak menjadi bagian dalam ajaran Islam yang wajib terpenuhi oleh umat Islam.  Tidak ada tuntunan tentang bendera apalagi tentang harus ada kalimat tauhid, kalimat takbir, atau bulan sabit dan bintang.

Bendera dengan Kalimat Tauhid : Bendera Rasul dan Khalifah?

Pertanyaan berikutnya, dari mana muncul bendera dengan kalimat tauhid yang seolah merepresentasikan Islam? Bahkan dari beberapa gerakan kerap kali gerakan ini mengusung bender aini semisal HT, Khilafatul Muslimin, dan ISIS. Secara resmi bendera negara yang menggunakan kalimat tauhid adalah Arab Saudi dan Afganistan.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (9): Kitab Sabil al Muhtadin Karya Syaikh Arsyad al-Banjari

Bendera dengan kalimat tauhid ini cukup menarik perhatian karena menjadi simbol penegakan khilafah bagi beberapa kelompok seperti HT, Khilafatul Muslimin dan ISIS. Bendera ini telah menjadi simbol perjuangan khilafah. Bagi HTI misalnya mengatakan tidak ada bendera HTI yang ada bendera Islam yang diajarkan Rasulullah.

Secara warna bendera dengan kalimat tauhid juga beragam. Arab Saudi yang resmi menggunakan dengan warna dasar hijau, Afganistan dengan latar putih, ISIS dengan latar hitam, Khilafatul Muslimin dengan dasar hijau dan HT dengan latar hitam. Banyak versi pula tentang bendera dengan kalimat tauhid ini yang diklaim sebagai bendera Rasulullah.

Apakah dalam bendera ada tuntunan juga tentang hitam, putih dan warna lainnya? Dalam rujukan Islam, tidak ada satupun pernyataan bahwa bendera Rasulullah harus dengan warna tertentu. Ulama salaf tidak pernah berbicara tentang kesepakatan hal itu dan menjadi rujukan dalam memilih warna bendera.

Jika berbicara tentang bendera pada zaman Rasulullah sangat beragam. Kadang umat Islam menggunakan bendera hitam, kadang juga putih dan kadang juga kuning. Menurut beberapa riwayat bahwa Rasulullah menggunakan warna hitam saat perang karena warna hitam sangat mudah diketahui terutama di padang pasir yang berdebu sehingga mempermudah para pasukan mengenal barisannya.

Bendera warna putih hanya digunakan saat damai. Adapun warna kuning adalah bendera yang digunakan oleh Muhajirin pada saat mereka tiba di Madinah.   Kemudian beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa tidak ada bendera yang paten yang digunakan oleh Rasulullah Saw selama masa hidupnya dan para khulafarrsyidin juga tidak menggunakan bendera bahkan mereka tidak pernah menegaskan bahwa inilah bendera tauhid.

Berbicara tentang khalifah, pengganti, Rasulullah, para sabahat khulafaurrasyidin hingga dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Al-Ayyubiyah juga berbeda-beda. Dinasti Umawiyah menggunakan warna putih kemudian mengganti lagi jadi warna hijau. Sementara Khilafah Abbasiah menggunakan warna hitam karena mengenang fathu Mekkah dan perang Hunaein.

Baca Juga:  Narasi Ampuh yang Menyebabkan Tindakan Radikal

Beberapa khalifah setelahnya dan di tempat lain ada yang menggunakan warna hitam dan ada juga yang menggunakan warna putih. Artinya masalah bendera ini tidak ada yang pasti dan setiap khalifah menentukan warna benderanya tanpa mengklaim bahwa ini adalah bendera tauhid apalagi bendera Islam. Tentu saja karena persoalan bendera di zaman Rasulullah tidak ada yang secara paten dianggap sebagai bendera Islam dan setiap warna bendera sebagaimana yang disebutkan tadi  hanya digunakaan pada saat-saat tertentu.

Bendera biasanya digunakan oleh Rasulullah pada saat perang. Setelah itu nabi tidak menggunakan lagi.  Jadi kalau bendera yang sering dipajang itu di mana-mana dan mengganggap sebagai bendera tauhid sangatlah tidak benar dan tidak ada tuntunannya untuk memasangnya, apalagi menganggap itu sebagai bagian dari bendera Islam. Rasulullah pun menggunakan banyak warna dalam kondisi tertentu dan tidak ada kewajiban paten yang mengikuti perubahan dan kondisi waktu.

Nah, jika ada propaganda mengatakan bahwa ada bendera Islam atau bendera khilafah yang harus diperjuangkan itu adalah bagian dari ambisi politik dan kekuasaan, bukan perjuangan agama. Negara-negara Islam dan Timur Tengah pun tidak pernah menahbiskan ada bendera Islam atau khilafah. Bahkan di Arab Saudi sangat dilarang bendera hitam dengan tulisan kalimat tauhid. Bendera dengan kalimat tauhid tidak sembarangan dicetak di baju, topi, gelas dan sebagainya yang berpotensi akan terbawa di dalam kondisi dan tempat yang tidak terhormat.

Sekali lagi umat Islam harus cerdas membedakan antara perjuangan agama yang sesungguhnya yang dilakukan oleh umat Islam melalui Pendidikan dan dakwah dengan gerakan politik yang mengatasnamakan Islam.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …