nabi musa
nabi musa

Adu Sakti Musa dan Firaun : Ketika Sihir Tidak Bisa Mengalahkan Mukjizat

Kisah Nabi dan Firaun tentu adalah bagian dari sejarah yang mengandung pelajaran berharga. Quran memang tidak menyebutkan detail tentang kejadian karena apa yang diinginkan dari proses umat Islam adalah belajar dari hal yang implisit dari sejarah bukan sekedar yang eksplisit.

Kisah Nabi Musa dan Firaun mempunyai banyak kisah yang dalam al-Quran dikisahkan secara terpisah-pisah. Hal ini tentu berbeda semisal dengan kisah yang lebih runut seperti cerita Nabi Yusuf. Tentu apa yang ingin dipelajari bahwa setiap kisah perjalanan Nabi Musa memiliki hikmah dan pelajaran berharga, termasuk kisah tentang Nabi Musa dan Tukang Sihir Firaun.

Firaun bukan nama asli tetapi merupakan sebutan untuk penguasa Mesir Kuno. Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun yang dihadapi oleh Nabi Musa ialah raja Ramses ke II. Persinggungan Fir’aun dan Nabi Musa memang cukup panjang hingga meruncing pada satu kejadian pembuktian kenabian Nabi Musa. Siapa yang lebih Sakti?

Adu sakti Nabi Musa yang seorang Nabi dengan Fir’aun yang mengau Tuhan disepakati dalam bentuk adu kekuatan. Allah bersabda, Dia (Musa) berkata, “Perjanjian waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (duha)  (QS. Thaha: 59).  

Mengetahui kesepakatan itu, para penduduk Mesir mulai berhias dan berkumpul untuk menyaksikan apa yang akan terjadi antara Musa dan raja mereka. Pertemuan yang disepakati antara Nabi Musa dan Firaun untuk mengadu kehebatan itu terjadi di waktu duha atau tengah waktu. 

Pada jaman Nabi Musa, yang dianggap luar biasa adalah kekuatan sihir, jadi merekapun sepakat untuk melakukan tanding ilmu sihir untuk membuktikan siapa yang paling unggul. 

Pertandingin ini bukanlah pertandingan antara Nabi Musa melawan Firaun, namun pertandingan Nabi Musa bersama saudaranya Nabi Harun melawan puluhan tukang sihir di bawah kekuasaan Firaun. Puluhan tukang sihir firaun berkumpul dengan senjata masing-masing, mereka membawa tongkat maupun tali yang biasa mereka gunakan untuk melakukan sihir. 

Baca Juga:  Kisah Rasulullah Terkena Sihir dan Dahsyatnya Dua Surat Penangkal Sihir

Dalam al-Quran disebutkan, ahli-ahli sihir berkata: “Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?”. Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). (al-A’raf 115-116). 

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa, para tukang sihir tersebut memberikan pilihan kepada Nabi Musa untuk memulai lebih dahulu atau mereka yang memulainya, dan dengan penuh keyakinan. Nabi Musa mempersilahkan mereka untuk memulai dahulu.

Dan ketika para tukang sihir Firaun memulai, merekapun melempar tali dan tongkat yang mereka bawa, mata orang-orang pun terkelabui, seolah-olah apa yang mereka lakukan itu benar-benar terjadi. Padahal sebenarnya hal itu merupakan kamuflase belaka. Orang-orang pun tercengang dan ketakutan. Para ahli sihir itu memang telah melakukan suatu bentuk sihir yang hebat dan mengagumkan. 

Ular-ulat tersebut seakan benar-benar bergerak. Mereka bergerak dan memanjang dan terlihat seperti ular sungguhan yang berjalan. Ketakutan juga menimpa Nabi Musa dan Nabi Harun. Mereka melihat pengaruh khayalan dan permainan sihir. Rasa takut yang menghinggapi Nabi Musa dan Harun adalah bentuk fitrah mereka sebagai manusia.

Ibnu Katsir mengungkapkan, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Jangan takut wahai Musa! Sesungguhnya kamulah yang paling unggul. Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu!” 

Maka, dilemparkanlah tongkat Nabi Musa, dan dalam sekejab tongkat tersebut berubah menjadi ular yang jauh lebih besar. Dan tak disangka, ular Nabi Musa melahap ular milik tukang sihir firaun hingga tak tersisa. Dan ketika Nabi Musa memegang ular besar tersebut, ular besar tersebut langsung berubah menjadi tongkat seperti sedia kala. 

Baca Juga:  Kisah Nabi Musa Bertanya kepada Tuhan tentang Kedudukan yang Paling Mulia

Melihat kejadian tersebut, para tukang sihir Firaun tersadar bahwa apa yang telah dilakukan Nabi Musa bukanlah sebuah ilmu sihir, Namun benar-benar mukjizat yang turun dari langit. Merekapun berkesimpulan bahwa, Nabi Musa bukanlah seorang penyihir. Mereka pun tersungkur sembari berkata, “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.” 

Melihat keimanan para tukang sihirnya, Firaunpun murka, ia merasa sangat dipermalukan di hari itu. Firaun pun mengancam mereka dengan hukuman yang pedih dengan cara memotong tangan dan kaki para tukan sihir tersebut serta merekapun akan disalip.

Namun keimanan para tukang sihir tersebut sudah bulat. Merekapun tak pernah takut akan ancaman Firaun. Begitu besar kekuasaan Allah, sampai-sampai membuat penyihir yang dahulu sombong akan kemampuannya, dan sekarang mau tunduk atas perintah Allah.

Cerita lama ini sebenarnya mengajarkan banyak hal kepada kita semua. Terkadang untuk melawan sesuatu harus dilawan dengan sesuatu yang sama tetapi berlebih. Melawan para tukang sihir perlu dilawan dengan kekuatan yang serupa tetapi lebih besar. Harapannya kekuatan itu sebagai hujjah bukan sekedar kesombongan. Mukjizat sebagai hujjah kenabian berhasil mengajak para tukang sihir tersebut bertobat.

Kedua, bagaimana pun besar kekuatan manusia dengan otoritas menyuruh dan memerintah atau bahkan bisa mengeksploitasi kekuatan alam tidak akan bisa melawan kekuatan yang menciptakan semesta. Manusia tidak boleh sombong karena apa yang dilakukan hari ini hanya beberapa titik dari kebesaran Tuhan yang tak tertandingi.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

Geliat Pengharaman Musik yang Makin Menggelinjang

Tak berapa lama berselang, viral video sekelompok santri yang menutupi telinganya karena ada suara musik …

Ustad Adi Hidayat

Soal Adi Hidayat dan Imam al Zuhri : Kasus Sama, Endingnya Beda

Adi Hidayat kembali berulah. Setelah sebelumnya menyatakan doa iftitah tidak ada dalil hadisnya, kali ini …