Agar tidak Sekedar Marah-marah, Inilah Pedoman bagi Penceramah

Pernah kita mendengar di suatu majlis yang mengulas persoalan keagamaan, tetapi isinya penuh amarah bahkan tuduhan dan kata kasar? Ceramah agama yang dilakukan dengan cara marah-marah seperti ini kadang pula diperdengarkan dengan pengeras suara. Dengan metode ini seolah-olah sang penceramah berharap para jamaah akan terpanggil, patuh dan takut. Apakah benar begitu tuntunan dakwa Islam yang diajarkan Nabi?

Cara berdakwah dengan bermodal suara lantang, keras dan menakut-nakuti justru kontra produktif dengan hasil yang didapatkan. Dalam Qur’an Allah memuji salah satu cara sikap lembut Nabi dalam memimpin dan memberi pelajaran kepada para sahabat:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Al Imron : 159).

Inilah pedoman bagi para penceramah agar tidak selalu mengandalkan suara lantang, keras, kasar tetapi justru memalingkan para jamaah. Tuhan telah mengajarkan untuk berlemah lembut dalam mengajak dalam kebaikan. Nabi mengajarkan dakwah dengan santun dan lembut.

Baca juga : Ulama yang Sejati menurut Imam Syafi’i
 

Dalam ayat Allah lebih detail menjelaskan bagaimana sikap bagi para da’i:

 ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS: An-Nahl 125).

Sehingga dapat disimpulkan penceramah itu bukan mengajak kasar atau memaksa orang lain. Da’I untuk bukan propokator yang melempar propaganda agar yang lain mudah percaya. Da’i atau penceramah itu adalah orang yang perkataannya sangat santun, tindakannya menjadi teladan dan sifatnya menjadi panutan.

Pedoman Model dalam berdakwah

1.  Dakwah dilaksanakan dengan hikmah

HIkmah adalah memberikan pelajaran dari suatu nilai dengan menyampaikan secara bijaksana. Bijak berarti tidak mudah menghakimi dan keras ketika melihat kemunkaran.

Salah satu pelajaran misalnya Dari Abu Umamah r.a., "Seorang pemuda datang kepada Nabi yang meminta izin untuk berzina. Para sahabat yang di samping Nabi marah dan berteriak: Diam Kau! Tetapi apa yang dilakukan Nabi? Nabi memintanya untuk mendekat. Pemuda itu mendekat kepada Rasulullah dan duduk di samping Nabi. Nabi tidak memberikan ceramah keagamaan, tetapi hikmah dari ajaran agama. Nabi berkata 'Apakah engkau suka zina itu terjadi pada ibumu?' Pemuda itu menjawab,'Tidak, sumpah demi Allah!' Rasulullah berkata,'Orang lain juga tidak suka zina itu terjadi pada ibu-ibu mereka. Beliau melanjutkan dengan pertanyaan, 'Apakah engkau suka zina itu terjadi pada putrimu dan saudara perempuanmu?' Pemuda itu pun menjawab tegas, 'Tidak, sumpah demi Allah!'Beliau berkata, 'Orang-orang pun tidak suka itu terjadi pada putrid an saudara perempuan mereka.' Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya di pundak pemuda itu dan berkata, Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan jagalah kemaluannya.'Setelah peristiwa itu sang pemuda tidak jelalatan lagi." (HR. Ahmad).  

Sungguh sangat mulia sikap Nabi. Beliau tidak marah-marah melihat kemunkaran, tetapi bijak da jeli untuk merubah sikap seseorang. Dengan pendekatan hikmah orang diajak untuk melihat hal lain dari sisi kebaikan dan keburukan dan berdampak pada perubahan sikap. Artinya, dakwah bukan sekedar marah-marah, menebar dalil menakut-nakuti, tanpa memberi hikmah.

2.  Dakwah dilakukan dengan mauidzatul hasanah

Nasehat yang baik adalah dilakukan dengan perkataan yang baik, persuasif (tanpa kekerasan) dan edukatif (memberikan pengajaran). Ada dua prinsip dalam nasehat yang baik.

Pertama, sampaikan nasehat dan ajaran keagamaan dengan kalimat yang sejuk, ramah dan santun. Hindari pilihan kata-kata yang mudah menghakimi dan menghujat. Perkataan kasar justru akan menjauhkan dan memalingkan dari kebenaran.

Kedua, Salah satu prinsip nasehat baik adalah dengan memperhatikan tata bahasa yang sesuai kadar akal pendengar dan topik yang menarik bagi mereka.

Sayyidina Ali r.a. mengajarkan :  "Berbicaralah dengan masyarakat dengan tema pembicaraan yang mereka ketahui. Apa kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (HR. Bukhari).

3.  Dakwah dengan uswatun hasanah.

Dakwah dengan uswatun hasanah adalah dakwah dengan cara memberikan teladan. Cara inilah sebenarnya yang lebih melekat. Nabi seringkali memberikan pelajaran kepada sahabat dengan cara memberikan teladan.

Dari Abu Hurairah r.a., "Seorang Arab badui kencing di masjid, kemudian masyarakat menangkapnya dan Rasulullah berkata kepada mereka,'Biarkan dia. 'Ketika orang itu selesai dari kencingnya, Nabi menyuruh : siramlah bekas kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk menjadi orang-orang yang mempermudah, bukan orang-orang yang mempersulit'." (HR. Bukhari).

Bagaimana Islam yang mudah dan tidak mempersulit dicontohkan langsung oleh Nabi. Islam tidak butuh marah-marah dan mempersulit. Apabila hal itu bisa dilakukan dengan mudah kenapa harus memakai emosi dan menumbuhkan kebencian.  Itulah pelajaran dari teladan yang langsung dipraktekkan oleh Nabi.

4.  Dakwah dilakukan dengan mujadalah

Dakwah dengan model ini adalah dakwah dengan diskusi atau tukar pikiran yang berjalan secara dinamis dan santun serta menghargai pendapat orang lain. Nabi seringkali berdebat dengan non muslim yang datang ke rumah Nabi. Nabi menerima dengan lapang dada dan menghormati. Ada sebagian dari mereka yang masuk Islam dan sebagian lain tetap dengan keyakinannya.

Ada dua prinsip dalam mujadalah. Pertama, menghormati perbedaan dan menghargai tukar pikiran sebagai cara menari kebenaran. Kedua, prinsip tawakkal. Ketika sudah selesai berdebat kita tidak bisa memaksakan kehendak terhadap orang lain. Serahkan urusan petunjuk kebenaran kepada Allah.

“Berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. an-Nahl/16:125).

Pedoman-pedoman tersebut penting sekali diperhatikan oleh para da’i dan calon penceramah agama. Para penceramah tidak hanya menyampaikan ajaran kebaikan, tetapi juga harus memperhatikan cara-cara kebaikan, kesantunan dan teladan yang baik. Jangan pernah menyelipkan makian, perkataan kasar, hasutan, kepentingan pribadi dan kelompok dalam berceramah.

Comment

LEAVE A COMMENT