Antara Badui dan Madinah

Antara Badui dan Madinah

Istilah Badui adalah salah satu istilah yang sering didengar di kalangan orang Arab dulu dan sekarang. Bahkan saat ini istilah tersebut masih sering disandarkan kepada orang-orang Arab yang berasal dari perkampungan yang umumnya jika masuk ke kota kota di Saudi Arabia tidak mau diatur, bahkan melawan aparat keamanan, khususnya polisi lalu lintas jika mereka memberhentikannya di tengah jalan karena melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Orang-orang Badui mengklaim merekalah masyarakat asli Arab dan penduduk asli di wilayah itu. Istilah ini identik dengan istilah jahiliyah yang disandarkan kepada orang-orang Arab sebelum masuk Islam atau sebelum risalah Islam menyentuh mereka.

Sementara Madinah adalah nama kota di Saudi Arabia yang sangat popular. Selain karena kota tersebut menjadi tujuan utama umat Islam setiap saat untuk mensiarahi kuburan Rasulullah Saw, Madinah juga memiliki sejarah panjang dalam Islam. Di Madinahlah Nabi Muhammad Saw membangun sebuah komunitas Islam yang berperadaban dan berkemajuan dan dari Madinalah Islam tersebar ke seluruh penjuru jazirah Arab. Dulu kota itu dikenal dengan naman Yastrib kemudian dirubah oleh Rasulullah menjadi Madina setelah  Ia dan sahabat-sahabatnya hijrah ke kota itu.

Karakteristik Masyarakat Badui

Orang-orang Badui memiliki karakteristik yang sangat aneh berbeda dengan orang-orang Arab kota di masa itu. Di antara karakteristik orang Badui adalah suka berperang antara satu dengan yang lain, sangat fanatik terhadap suku dan kelompoknya, suka merampas milik orang lain, kasar saat berkomunikasi dan tidak memiliki etika dan tatakrama.

Baca juga : Bahaya Liberal, Syi’ah dan Komunis

Jika membaca sejarah Arab jahiliyah, maka ditemukan bahwa orang-orang arab Badui  bermukim di pedalaman jazirah Arab atau di sekitar wilayah Saudi Arabia sekarang ini. Mereka senang tinggal di gurun  pasir, tidur di bawah dan ke mana-mana bersama unta dan kambing  mereka.

Orang Badui sengaja menjauhi wilayah-wilayah sungai karena takut dan tidak bisa mendeteksi jika ada musuh dari kabilah lain yang ingin menyerang mereka secara tiba-tiba. Karena itu, mereka memilih tinggal di gurun pasir dengan alasan bahwa jika ada musuh yang akan menyerang maka dari jauh mereka sudah bisa mendeteksi dan musuh tidak punya tempat berlindung, berbeda jika ada sungai atau tanam-tanaman mereka gampang bersembunyi.  

Para sejarawan kuno menyebutkan bahwa suku-suku Badui ini adalah keturunan dari anak cucu Nabi Ismail. Mereka suka tinggal di gurun pasir, mengembala kambing dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain (nomaden). Karakter dan sifatnya sangat egois maunya menang sendiri tidak suka kerjasama dan senang mencaci maki dan memandang enteng orang lain. Namun, keistimewaannya sangat menghormati tamu yang berkunjung ke kemah-kemah mereka. Namun, pada waktu yang sama masyarakat Badui juga suka menipu orang-orang yang datang kepadanya. Karena itu omongan mereka tidak bisa dipercaya.

Seorang sejarawan Yunani Kuno menyebut bahwa kepintaran orang-orang arab Badui ada di lisannya bukan di otaknya. Kesimpulan ini karena mengamati karakteristik bahasa Arab itu sendiri di mana satu kata bisa berubah menjadi lebih dua puluh suku kata dengan makna yang berbeda-beda, tetapi bersumber dari satu kata.

Kesimpulan ini tampaknya memang sesuai dengan karakteristik bahasa Arab itu sendiri yang memiliki kosa kata yang bervariasi, tetapi memiliki makna yang berbeda bahkan satu kata bisa memberi banyak makna tergantung susunan kata itu posisi kata itu sendiri. Kesimpulan ini juga dapat dilihat dari kehebatan orang-orang jahiliyah menyusun syair bahkan syair merupakan produk  utama orang-orang arab jahiliyah dan tidak ada produk lain selain syair.

Transformasi Badui ke Madinah

Ketika orang-orang Arab mulai memeluk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw terjadi sebuah transformasi besar-besaran dalam menilai karakter Arab ini. Hampir semua kebiasaan orang-orang arab Badui seperti fanatisme suku, suka berperang, memandang enteng orang lain, senang mencaci maki, hoby merampok dan doyang berperang serta tidak memiliki tatakarama dan adat istiadat, menganggap dirinya paling benar dan paling mulia, sombong dan congkak ditentang semua oleh ajaran yang di bawah nabi Muhammad saw.  Bahkan sikap, sifat dan karakter Badui ini dianggap sebagai sikap-sikap tercela.

Di titik inilah sehingga Nabi menegaskan dalam sebuahnya hadisnya bahwa sesungguhnya  dirinya diutus ke muka bumi ini hanya untuk menyempurnakan Akhlak manusia. Artinya, misi utama Rasulullah saw adalah bagaimana menyempurnakan akhlak dan moral manusia termasuk moral dan akhlak orang-orang Badui itu sendiri yang sangat jauh berbeda dengan akhlak orang Arab yang ada di sekitarnya.

Orang-orang arab di Yaman yang relativf maju karena letak geografis wilayahnya yang sejuk hijau dan memiliki banyak sumber air dan produktif. Begitupula dengan orang-orang Arab yang ada di Utara seperti di Syam kini Irak, Suriah dan Palestina juga memiliki budaya tinggi karena letak geografisnya yang penuh  dengan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan memliki sumber air serta iklim yang sejuk. Pun pula orang-orang Arab yang ada di bagian timur kini masuk negara-negara teluk seperti Bahrain, Qatar, United Arab Emirates dan lain lain yang juga memiliki akses ke laut sehingga masyarakat mereka memiliki karakter yang agak berbeda dengan orang orang Arab yang ada di jantung jazirah Arab yang panas tandus dan kering.

Islam datang menawarkan kepada suku-suku yang berdomisili di kawasan tandus ini dengan konsep yang berkemajuan. Dari karakter Badui, Islam mendidik mereka dengan nilai toleransi, menghormati sesama, tidak fanatis, berdamai dengan semua orang, tidak suka mencela dan mencaci maki, melarang peperangan, hidup rukun dan damai, bekerja dengan baik dan professional, berkemajuan dan beriman kepada Allah sang pencipta segala sesuatu di muka bumi.

Jika memperhatikan nilai-nilai yang diajarkan Islam kepada mereka maka tidak keliru jika dikatakan bahwa  hampir semua kebijakan Rasulullah saw untuk berangkat berperang karena ada pihak lain yang ingin berperang bukan karena Islam memerintahkan perang. Karena ajaran Islam adalah ajaran perdamaian harmonisasi dan kerukunan hidup bukan berperang, tetapi suka berdamai. Oleh karena itu, tidak satupun perang yang dikomandoi oleh Rasulullah dengan maksud menyerang orang lain, akan tetapi semua peperangan yang diikuti oleh Rasulullah selama hidupnya hanya untuk mencegah terjadinya kekacauan karena adanya pihak-pihak lain yang ingin menciptakan instabilitas di kawasan itu.

Di zaman Rasulullah ketika seorang muslim ingin memicu sebuah situasi menjadi kacau atau menyerukan kekerasan antara sesama manusia, suka membuat fitnah, doyan mencaci maki orang lain, merendahkan dan memandang remeh orang lain, menganggap kelompoknya yang paling benar paling baik, paling hebat suka memprovokasi, maka pandangan umat Islam di era nabi bahwa mereka kembali ke budaya Badui.

Dan inilah yang sangat dipesankan oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya bahwa jangan sampai ada di antara mereka yang sudah memeluk Islam dan  hijrah bersama Nabi ke Madinah yang menjadi kota peradaban kembali lagi ke zaman dulu. artinya jangan sampai ada umat Islam kala itu kembali menjadi orang Badui. Di sini menunjukkan bahwa dalam Islam transformasi sikap dari sikap primitif menuju sikap-sikap yang lebih berkemajuan merupakan salah satu esensi utama dalam Islam.

Wallahu ‘alam

Comment

LEAVE A COMMENT