Apa Makna “Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah” ?

Apa Makna “Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah” ?

Setiap orang Islam wajib menjadikan Alquran-Sunnah sebagai pedoman. Namun cara melakukannya bisa berbeda satu dengan lainnya. Bisa secara langsung maupun tidak langsung.

‘Secara langsung’ berarti seseorang berusaha memahami sendiri pesan Alquran dan Hadis Nabi. Cara ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan bagaimana Alquran maupun Hadis ditafsirkan dan dipahami pesan-pesannya. Cara ini sangat khusus dimiliki dan dilakukan oleh orang-orang dengan kemampuan tertentu.

‘Tidak langsung’ yang dimaksud adalah mengikuti pendapat ulama yang telah mampu menjelaskan pesan-pesan Alquran Hadis. Kita memahami ajaran Islam melalui ijtihad dan penafsiran para ulama. Sampai pengertian ini, tidak benar jika mengatakan mengikuti pendapat ulama salaf dan madzhab berarti tidak kembali ke Qur’an dan Hadist.

Sebagian orang terlalu pede memilih cara yang pertama dengan merujuk langsung. Bagi mereka, yang diperintahkan adalah kembali langsung kepada Al Quran-Hadis dan tidak diwajibkan untuk mengikuti pendapat orang.

Setelah ditelusuri, ternyata mereka hanya menggunakan terjemahan. Terjemah Al Quran hanya menyajikan pesan luar. Menjadikannya sebagai pedoman tunggal adalah sikap yang terlalu ‘beresiko’ dalam beragama dan memahami ajaran agama. Kitab suci mengandung pesan yang sangat luas, tidak bisa diwakili hanya dengan pesan yang diwakili teks terjemahan.

Maka, hanya bersandar pada terjemahan merupakan sikap ‘kepedean’. Slogan “kembali kepada Qur’an dan Hadist” dengan tanpa modal kemampuan perangkat ijtihad yang mencukupi sembari keengganan melirik ribuan tumpukan kitab karangan ulama salaf adalah sikap keponggahan dan kesombongan dalam beragama. Dan itu sangat berbahaya!. 

Baca juga : Siapa Sebenarnya Pengikut Ahlussunnah Waljamaah?

Kembali pada pembahasan slogan “Kembali kepada Qur’an terjemahan”. Sesungguhnya hal yang lebih para lagi, ketika sebagian mengklaim terjemahan versi dirinya atau kelompoknya yang benar, sembari menyalahkan terjemahan Al Quran dari pihak lain.

Dalam kondisi keterbatasan perangkat ilmu yang dibutuhkan dalam menggali Qur’an dan Hadist, tidak sedikit dari mereka tetap “pede” dengan menolak untuk mengikuti mazhab dan pendapat seorang imam.

“Menjalankan ajaran Islam dengan cara bermazhab tidak diperintahkan dalam Islam. Yang diwajibkan adalah ‘kembali kepada Alquran dan Hadis’. Demikian komentar sebagian mereka dengan nada sok pintar.

Kalau mau ditelusuri lebih jauh, mereka yang tidak ingin merujuk pada madzhab dan produk ijtihad ulama salaf, ternyata tidak bisa berijtihad secara mandiri kepada Qur’an dan Hadist. Pada akhrinya, mereka juga belajar kepada ulama khalaf dan karya tokoh panutannya saja. Itupun hanya berupa terjemahan.

Mudah sekali mereka mengkalim kebenaran sepihak dan menilai yang lain salah. Padahal saat ditanya apa judul asli kitab tersebut ia pun tak sanggup menjawabnya, ketika ditanya kata perkata dalam ayat Al Quran yang dikutipnya ia juga tak bisa menerangkannya. Apalagi kalau ditanya siapa saja ahli tafsir terkemuka yang dikenalinya.

Kelompok dengan karakter seperti ini sekarang tampil dan banyak menyilaukan perhatian umat. Mereka tampil dengan seolah paling membela dan memperjuangan agama, padahal yang dihadirkan tidak lebih lelucon dalam beragama. Kenapa tidak?

Sebagian dari mereka berupaya agar syariat Islam diberlakukan. Tapi apa yang mereka maksudkan dengan ‘syariat Islam’? Apakah acuannya hanya makna tekstual? Atau justru pada produk terjemahan? Terlalu memaksa dan akhirnya mereduksi syariat Islam sendiri.

Mereka sangat terlihat memaksakan diri dengan apa yang mereka tawarkan. Atau mungkin yang ditawarkan adalah rujukan tafsir dari tokoh yang mereka yakini selalu benar, seperti kaum ‘pemaksa’ khilafah atau kaum literalis yang suka membid’ahkan bahkan mengkafirkan yang berbeda pemikiran.

Kelompok seperti ini justru tidak pernah menunjukkan sikap hormat kepada orang yang berilmu. Mereka tidak pernah menghargai pengembangan keilmuan agama dalam Islam yang terjadi ratusan tahun silam. Mereka justru dengan ponggah menafikan ulama lain, yang tak kalah wara’ dan alim.

Dunia menjadi sangat sempit bagi mereka. Islam hanya apa yang dipahaminya dan hanya milik kelompoknya, yang benar cuma tokoh panutannya. Semua yang tak sama dengannya dianggap salah, sesat, dan tidak Islami. Sebenarnya mereka mau memperjuangkan syariat Islam atau mengkultuskan tokoh panutan?

Apa yang perlu disadari? Tafsir Al Quran bukan Al Quran itu sendiri. Terjemah Alquran juga bukan Al Quran. Al Quran adalah Al Quran, yang suci dari kesalahan. Maka, jangan pernah mengatakan tafsir Alquran sebagai Al Quran, apalagi mengkultuskannya sebagai kebenaran yang tak terbantahkan karena produk tafsir tidak luput dari kesalahan karena ia lahir dari pikiran manusia.

Tak boleh juga mengklaim terjemahan Al Quran sebagai Al Quran, apalagi menganggapnya suci tanpa boleh ada penolakan. Terjemahan tidak bisa mewakili pesan-Nya yang sangat luas tak terbatas.

Selama ini banyak karya tafsir ditulis dan lahir dari para ahlinya. Tak jarang satu penafsir berbeda pandangan dengan mufassir lainnya. Masing-masing meyakini kebenaran tafsirnya, kita bisa mengikutinya, namun tak boleh menganggapnya kebenaran tunggal yang menjadi satu-satunya dan menilai yang lain salah selama masih sejalan dengan kaidahnya.

Al Quran juga telah banyak diterjemahkan. Perbedaan tak bisa dihindarkan antara satu dengan lainnya. Mana yang benar? Masing-masing punya hak untuk mengkalim benar, namun tak boleh gegabah menilai yang lain mengandung banyak kesalahan, selama tidak menyimpang dari ketentuannya.

Mengikuti pendapat seorang mufasir atau imam sah-sah saja. Bahkan itu cara yang paling ‘aman’ bagi yang tidak mampu menafsirkan sendiri ayat-ayat Alquran. ‘Aman’ karena terlalu beresiko jika itu dipaksakan. Tak cukup hanya dengan terjemahan, atau menafsirkan tanpa bekal pengetahuan.

 

Wallahul Muwaffiq


*Kurdi Fadal

( Dosen IAIN Pekalongan dan Alumni Ma’had Aly Situbondo)

Comment

LEAVE A COMMENT