Nalar Kaum Takfiri

Bahaya Nalar Berfikir Kaum Takfiri

Semakin banyak kelompok yang bermanhajkan pemikiran takfiri di Dunia Arab dan Dunia Islam pada dekade terakhir ini. Mereka semakin bermunculan melalui siaran channel-channel televisi di beberapa Negara Arab yang mengakibatkan Bangsa Arab dan Umat Islam semakin jauh dari ajaran moderasi.  Hal ini dikarenakan penyampaian para dai takfiri di channel-channel televisi tersebut jauh dari ajaran Islam yang penuh kasih sayang, justru lebih mengumbar pengkafiran atas pihak-pihak yang berbeda pandangan dan menyebarkan kebencian ke tengah masyarakat.


Baca Juga : Kisah Nyata Pemuda Ahli Ibadah yang Mengkafirkan dan Membunuh Pimpinan Negara  


Sejatinya paham takfiri, terorisme dan pembunuhan berlawanan dengan akidah dan pemikiran organisasi mereka. Bahanyanya lagi, penayangan pembunuhan warga yang tidak berdosa serta peledakan masjid dan perumahan penduduk, seolah menggambarkan bahwa aksi tersebut digambarkan dengan penuh kegembiraan.

 

Hal yang membingungkan adalah, sebagian orang yang berpaham takfiri adalah mereka yang memiliki profesi sebagai dokter, insinyur dan bahkan perwira di kepolisian dan tentara. Hal ini memberikan gambaran bahwa kecerdasan setiap orang yang tampak secara lahir, tidak mencerminkan kecerdasan orang tersebut dalam mencerna provokasi-provokasi paham takfiri, bahkan walaupun mereka adalah orang kaya raya bergelimangan harta yang belum pernah merasakan hidup miskin, kedinginan di musim dingin dan kelaparan. Nabi Muhammad SAW dalam salah satu do'anya bersabda "Yaa Allah, aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kemiskinan." seolah memberikan pesan bahwa kemiskinan dan kekufuran saling berkaitan.

 

Syaikh Muhammad Al Ghazali menggambarkan bahwa masalah pengkafiran tidak dapat dilihat dari rajinnya penganut paham takfiri dari ibadahnya, bahkan sebagian mereka lebih banyak beribadah dari selain mereka. Kaum Khawarij di masa Imam Ali RA adalah mereka yang banyak beribadah, karena sejatinya masalah mereka tidak berkaitan dengan pengingkaran Al Qur'an dan As Sunnah, akan tetapi pada pemahaman yang salah.


Baca juga : Pelarangan Istilah Kafir dalam Perspektif Saddu adz-Dzari'ah 
 

Masalah lainnya, Kaum Takfiri tidak mampu membaca realitas kekinian, seperti membaca ayat-ayat Al Qur'an terkait kekufuran seolah semua Umat Islam berada dalam kekufuran, seolah seluruh Negara Islam adalah fase da'wah Makkah, seolah seluruh Umat Islam selain mereka adalah Kaum Musyrikin Quraisy, seolah negeri mereka adalah negeri yang tidak pernah dikumandangkan adzan dan seolah hanya mereka saja yang menyerukan Islam, dan bagi siapapun yang tidak menerima seruan mereka layak untuk dibunuh.

 

Saya gambarkan bagaimana isi kepala Kaum Takfiri kepada para pembaca jika dibedah Magnetic Resonance Imaging untuk melihat nalar berfikir mereka, dengan ulasan sebagai berikut :


Baca juga : Menyoroti Istilah Kafir dalam Kacamata Fikih Kebangsaan NU 


  1. Nalar takfiri adalah nalar berfikir yang dangkal, seluruh perbedaan baik urusan politik, fiqh, sastra dan sosial di antara Kaum Takfiri dan lainnya adalah perbedaan aqidah, yaitu antara kekufuran dan keimanan. Setiap yang setuju dengan pendapat-pendapat Kaum Takfiri adalah seorang muslim dan yang berbeda adalah orang kafir, walaupun sejatinya dia adalah seorang muslim.

 

  1. Nalar takfiri tidak memahami sifat kasih sayang dan ampunan Allah SWT, sehingga mempertanyakan kisah seorang tuna susila yang masuk surga dengan hanya satu kebaikan yaitu rela turun ke dalam sumur mengambil air dengan sepatunya menolong seekor anjing yang hampir mati karena kehausan. Komentar dari Ibnu Al Qayim dalam kisah ini adalah bahwa cahaya kasih sayang dan ketahuidan yang menyinari seorang tuna susila dengan rela turun ke dalam sumur untuk memberi minum seekor anjing diridloi oleh Allah SWT sebagai sebuah kebaikan dan cahaya kebaikan ini menghapus seluruh kemaksiatan dalam hatinya sehingga Allah SWT mengampuninya. Sedangkan Kaum Takfiri dalam nalar berfikir mereka berpendapat bahwa jika seorang tuna susila tersebut memberi minum seribu ekor anjing pun tidak akan masuk surga. Inilah krisis berfikir yang dialami oleh Kaum Takfiri seolah pendapat mereka adalah penjaga pintu surga dan penjaga pintu neraka, yang dengan semau mereka dapat memasukkan siapa saja ke surga dan neraka. Kaum Takfiri tidak hanya mengambil kewenangan para hakim dan aparat keamanan, akan tetapi juga mengambil kewenangan Allah SWT, seolah ingin memerintah di dunia dan akhirat.

 

  1. Nalar berfikir kaum Takfiri menghancurkan diri sendiri. Seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya "Mereka yang berkata hancurlah manusia, maka sesungguhnya perkataan itu menghancurkan mereka sendiri." Kaum Takfiri tidak sadar ketika mereka mengkafirkan para penguasa, polisi, tentara, politisi, Kaum Sufi dan masyarakat lainnya, sejatinya mereka telah menghancurkan diri mereka sendiri.

Adalah teman saya seorang insinyur bernama Hamdi Abdul Rahman pernah bergurau dengan salah satu tokoh Kaum Takfiri (yang ternyata tidak menamatkan jenjang pendidikan menengah pertama dan kerjanya hanya menghina para ulama), memberikan secarik kertas dan memintanya untuk menulis nama-nama Umat Islam di dunia dan pandangannya kepada Umat Islam. Sayangnya, tokoh Kaum Takfiri tersebut dengan jumawanya menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain, seolah tidak memahami hadits Nabi Muhammad SAW yang saya jelaskan pada poin ketiga, yang di mana seruan kehancuran tersebut dapat menghancurkan Umat Islam dan dirinya sendiri.

 

Serial tulisan dari buku Bahaya Mimpi Al Baghdadi

 

 Penulis : dr. Najih Ibrahim - Pemikir Islam Mantan Ketua Dewan Syuro JI Mesir

Alih Bahasa : Mush’ab Muqoddas EP, Lc - Pengamat Terorisme di Timur Tengah

 

Comment

LEAVE A COMMENT