Benjamin Franklin dan Relevansinya dengan Keislaman

Benjamin Franklin dan Relevansinya dengan Keislaman

Stephie Kleden-Beetz (2009), mengisahkan cita-cita heroik Benjamin Franklin (1706-1790), seorang politikus dan penulis asal Amerika Serikat, sejak muda merencanakan sebuah proyek besar yang dia sebut “Partai Kesatuan Demi Kebajikan”.

Caranya? Benjamin melakukan konsolidasi, menyatukan semua orang baik dari segala bangsa dalam satu wadah, diatur lewat kaidah-kaidah yang cocok dan bijaksana, karena manusia bijak dan baik lebih tulus, ikhlas menaati hukum-hukum bersama dibandingkan orang biasa.

Sasaran proyek Benjamin adalah anak-anak muda. Bagaimana hasilnya? Sayang semilyar sayang, kesibukannya sebagai penulis dan figur publik telah menyita banyak waktu, sehingga proyek besar ini gagal.

Namun Benjamin selalu menyempatkan diri menulis daftar kebajikan yang seluruhnya ada 12. Di antaranya “Diam” (jangan bicara bila ucapan itu tidak bermanfaat bagi orang lain dan bagi diri sendiri); “Menahan Diri” (jangan makan dan minum sampai kekenyangan); “Hemat” (jangan berfoya-foya, jangan mau tetap miskin karena kantong kosong tak bisa berdiri tegak).

Ketika temannya berkata, “Benjamin, kamu itu sombong, tinggi hati!”. Tanpa menunggu lama, ia menambahkan satu butir mutiara lagi, yaitu “Rendah Hati”.

Apa yang membuat Benjamin optimistis? Dia bilang, “Satu orang saja dengan kemampuan memadai, jujur, dan bisa dipercaya dapat membawa perubahan besar untuk kebaikan manusia”.

Baca juga : Tawasul dengan Orang yang Meninggal, Bolehkah?

Maka, benarlah pula kata orang bijak Rusia, “Seseorang yang jujur dan dapat dipercaya seribu kali lebih kokoh daripada jembatan besi mana pun”.

Dari kisah heorik Benjamin di atas, muncul pertanyaan, apa yang bisa kita petik untuk konteks Indonesia? Bagaimana pula hubungannya dengan Islam? 

Relevansinya dengan keislaman

Di antara yang disebutkan oleh Benjamin adalah pentingnya diam, selain ada menahan diri, hemat, dan rendah hati. Perilaku diam ini memiliki relevansi dengan situasi sekarang era media sosial, yang banyak orang lebih memilih aktif bicara, tidak bisa diam, lebih pada sikap “nyinyir” dengan melontarkan ucapan kotor, bullying, provokasi, ujaran kebencian, dan memproduksi serta menyebarkan berita bohong (hoaks).

Padahal, jika kita merujuk pada ajaran Islam, memilih diam lebih baik daripada berbicara yang tidak bermanfaat. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw. juga telah mengingatkan kita akan bahaya dari berbicara yang tidak berguna. “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya” (HR. Thabarani, Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi). Riwayat lain menyebutkan, Rasulullah Sawa bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak yang baik ” (HR. Ibnu Abi Dunya).

Begitu berbahayanya dampak dari perkataan yang tidak berguna, hingga diam dianggap menjadi ibadah yang paling tinggi. Sebagaimana sabda Rasul: ”Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Dailami). Rasul memerintahkan untuk diam dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat, tapi berbeda halnnya jika sesorang dalam kondisi sendirian, maka diamnya bukanlah ibadah. Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain” (HR. Bukhari).

Imam An-Nawawi r.a menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i r.a mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”

Begitu pula Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Semoga kita dijauhkan dari perilaku tercela, memilih diam daripada bicara yang justru membuat malapetaka. Jaga lisan, jari, pikiran, dan hati kita untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan berperadaban.

*Ali Usman, aktivis sosial, pengurus Lakpesdam PWNU DIY


Baca Artikel Terkait : 

Formalisasi Syariat, Perlukah?

Ngalap Berkah: Ibadah Sunnah Yang Berhujjah

Idealitas Karakter Kepemimpinan Islam




Comment

LEAVE A COMMENT