Cara Ulama Menasehati Pemimpin

Cara Ulama Menasehati Pemimpin

Hiruk pikuk kondisi tanah air akhir-akhir ini diwarnai dengan berbagai aksi penyampaian aspirasi kepada para pemimpin dan wakil rakyat. Sebagai negara demokrasi, penyampaian aspirasi dan tuntutan adalah sesuatu yang harus diwadahi dan dihormati. Demonstrasi adalah bagian dari cara rakyat memberikan masukan, kritik dan aspirasi.

Memperbaiki dan memajukan bangsa ini adalah kewajiban seluruh warga negara termasuk para ulama. Ulama tidak hanya mempunyai tanggungjawab keagamaan, tetapi juga tanggungjawab sosial kenegaraan. Karena itulah, ulama juga berperan penting dalam memberikan masukan dan menasehati para pemimpin.

Namun, penting diperhatikan bahwa cara ulama memberikan nasehat berbeda dengan masyarakat secara umum. Ulama adalah panutan umat yang menjadi teladan yang baik. Imam Malik mengatakan, “ Merupakan kewajiban bagi seorang muslim yang telah diberikan Ilmu oleh Allah dan pemahaman untuk menemui penguasa, menyuruh mereka dengan kebaikan, mencegahnya dari kemungkaran, dan menasehatinya. Sebab, seorang alim menemui penguasa hanya untuk menasehatinya, dan jika itu telah dilakukan maka termasuk keutamaan di atas keutamaan.”

Cara ulama menasehati pemimpin, tentu tidak berada di tengah jalan berbicara lantang, apalagi mengumbar makian dan menunjukkan kebencian terhadap pemimpin. Rasulullah telah memberikan tuntunan yang baik dan etika yang sangat tinggi dalam urusan menasehati pemimpin, seperti sabda nabi berikut ini :

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim).

Baca Juga : Pengertian dan Peran Ulama Menurut Imam Ghazali

Apa yang ingin ditegaskan dalam hadist tersebut bahwa ulama mempunyai tanggungjawab keilmuan dan keagamaan untuk menasehati pemimpin. Namun, cara menasehati tidak dengan mengumbar aib dan secara lantang berteriak di tengah jalan. Itulah cara-cara santun seorang ulama dalam ikut andil dalam memberikan masukan dan aspirasi kepada para pemimpinnya.

Bahkan dalam dalam surah Thaha Allah SWT secara jelas memerintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi raja Fir’aun dan menasehatinya dengan lemah lembut. Allah SWT berfirman :

Artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata – kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha : 43-44)

Dalam konteks ayat di atas, Fir’aun saja yang kezalimnya sudah sungguh jelas dimuka bumi serta mengingkari ajaran Allah, namun etika yang ingin diajarkan oleh Qur’an melalui cerita Nabi Musa dan Harun adalah menasehatinya dengan kata-kata yang lemah lembut. Karena itulah, sangat tidak pantas mereka yang menamakan diri ulama menasehati para pemimpinnya dengan lantang di depan publik apalagi di media sosial dengan cara-cara yang kasar dan tidak terpuji.

Menasehati pemimpin bagi para ulama bukan karena ada ego, kepentingan dan kebencian. Ulama mengedepankan kemashlahatan tidak untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dari lbnu Abbas Ra bahwasanya Rasulullah  bersabda, " Barang siapa membenci sesuatu hal dari pemimpin mukmminnya, maka hendaklah ia bersabar. Sesungguhnya siapa yang keluar dari ketaatan kepada penguasa mukmin walau sejengkal, niscaya ia mati seperti cara mati orang jahiliyah." (HR. Muttafaq 'alaih).

Ulama mendatangi para pemimpin untuk memberikan nasehat, bukan untuk mencari kepentingan. Selebihnya doa dan kesabaran ketika sudah menunaikan kewajiban untuk memberikan nasehat.

Itulah cara ulama memberikan nasehat dengan tetap mengedepankan akhlakul karimah dan kepentingan umat. Ulama bukan menyampaikan aspirasi untuk kepentingan pribadi, golongan politik, apalagi demi nafsunya sendiri. Dengan sendirinya masyarakat akan melihat siapa ulama yang benar-benar mengedepankan akhlakul karimah ketika menasehati pemimpin dan mana yang hanya menunaikan hawa nafsu untuk kepentingan kelompoknya.

Comment

LEAVE A COMMENT