Evolusi Makna Jihad

Makna jihad sebenarnya mengalami evolusi dan perkembangan makna, dari makna etis dan spiritual, menuju makna ekonomis (harta) dan perlawanan fisik (perang). Karena perintah perang dalam al-Qur’an ditegaskan dengan ayat-ayat khusus mengenai peperangan dengan menggunakan kata al-qital. Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an yang masih menggunakan kata jihadmeskipun ayat-ayat itu turun di periode Mekkah—tidak bisa identik dengan arti dan aksi perang.

Kata jihad tetap mengandung keragaman ide dan bentuk perjuangan. Untuk memahami dengan baik ayat-ayat al-Qur’an mengenai persoalan ini kita harus mengklasifikasikannya menjadi dua: ayat-ayat jihad dan ayat-ayat perang. Pembedaan ini sangat penting agar makna jihad dalam al-Qur’an tidak identik dengan perang. Karena perintah perang memiliki ayat-ayat spesifik, yaitu ayat-ayat yang menggunakan kata-kata al-qital, qatilu, atau uqtulu (Romli, 2004).

Muhammad Sa’id al-Asymawi, berpendapat tentang evolusi makna jihad, yang ia jelaskan dalam bukunya al-Islam al-Siyasi. Pertama, pada awalnya, fase Mekkah (610-622 M), jihad bermakna perjuangan individu, atau perjuangan dalam menghadapi kondisi yang sulit karena perbuatan musuh-musuh Islam. Pada saat itu, umat Islam dituntut bersabar menghadapi siksaan kaum Quraisy (Q.S al-Ma’arij: 5) dan tetap berpegang teguh pada keimanan.

Kedua, makna jihad berkembang menjadi perjuangan individu dan komunal (al-mukafahah al-dzatiyah wa al-jama’iyah) terhadap kaum musyrik Mekkah. Perjuangan ini berbentuk pengorbanan harta (Q.S al-Taubah: 41), psikis dan spiritual. Pengorbanan ini adalah konsekuensi dari perintah hijrah. Ketiga, kemudian jihad bermakna perang (al-harb) dalam satu barisan kaum muslimin menggempur kaum musyrikin yang ingin menyerang eksistensi masyarakat Madinah.

Keempat, di saat penaklukan Mekkah (fath al-Makkah) dan setelahnya, jihad berbentuk perang terhadap kaum musyrikin Mekkah hingga mereka beriman dan bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah.

Kelima, karena kabilah Yahudi menghianati Nabi dan umat Islam—sebelum penaklukan Mekkah—dan melanggar janji di antara mereka, maka jihad berbentuk peperangan terhadap orang-orang yang mengingkari ajaran agamanya dari ahl al-kitab dan bagi mereka yang berhianat dan melanggar janji (Piagam Madinah).

Akhirnya mereka menampakkan loyalitas dan kesetiaan terhadap Nabi dan umat Islam dengan cara membayar upeti (jizyah), dan komunitas mereka disebut ahl al-dzimmah. Fungsi upeti sebagai jaminan keamanan karena mereka tidak ikut, yang memang tidak diperbolehkan berperang.

Keenam, makna jihad yang orisinal dan tetap—meskipun ia mengalamai perkembangan dan evolusi makna akibat perubahan situasi dan kondisi tertentu—adalah perjuangan spiritual dan moral terhadap kesulitan. Perang atau pengorbanan harta tidak dianjurkan kecuali sebagai realisasi perjuangan spiritual dan moral. Pengorbanan harta dan jiwa merupakan bukti paling jelas dari proses perjuangan tersebut.   

Karena itu, dalam konteks kekinian, upaya memahami terminologi jihad memang sejatinya tidak lagi berkutat pada persoalan teologi dan permainan tafsir klasik, yang selalu diidentikkan dengan definisi perang fisik. Cukuplah apa yang telah diulas oleh para ulama dan mufassir terdahulu dijadikan sebagai sebuah acuan pemahaman sesuai dengan ruang dan waktu yang mengitarinya. Interpretasi terhadap jihad mesti diperluas ke masing-masing wilayah sosial dan politik agar semakin memperoleh relevansi nyata dengan apa yang dialamai masyarakat modern.

Pemahaman keliru terhadap makna jihad akan memberi kesan dan stigma negatif kepada Islam sebagai agama yang diidentikkan dengan kekerasan. Internalisasi dan mengamalkan jihad dalam arti perang jelas tidak relevan dengan era sekarang di zaman yang penuh kedamaian seperti Indonesia. Inilah tangung jawab muslim Indonesia, yaitu menjaga kedamaian itu, sebab bagian dari mengamalkan jihad.

*Ali Usman, aktivis sosial, pengurus Lakpesdam DIY    

Comment

LEAVE A COMMENT