Fungsi Masjid untuk Politik Keumatan, bukan Politik Pecah Belah Umat

Kedudukan dan posisi masjid pada masa Nabi sangat strategis. Bukan sekedar sebagai tempat ibadah tetapi juga laykanya sebagai tempat istana orang nomor satu. Wajar karena sebagai pusat kepala pemerintahan di Madinah tida ada bangunan layaknya bangunan istana presiden. Bangunan rumah nabi pun sangat sederhana tidak cukup menampung pertemuan duta-duta kekuasaan pada masa itu.

Pada saat Nabi baru tinggal Madinah, pertama yang dibeli Nabi adalah sebidang tanah yang dibelinya dari Sahl bin Amr untuk dibangun Masjid. Bangun Rumah yang pertama kali dibangun, tetapi masjid untuk kepentingan bersama. Itulah Rasulullah. Sementara Rasul tinggal di keluarga Abu Ayyub Khlaid bin Zaid al-Anshari. Setelah Masjid dibangun di sekitarna dibangun tempat tinggal Rasul. Di area bagian masjid ini pula digunakan untuk tempat tinggal orang fakir miskin yang todak punya tempat tinggal.

Fungsi masjid dengan demikian sangat vital bagi posisi nabi yang sangat straegis pada masa itu. Nabi sebagai pusat kekuasaan dan masjid sebagai tempat pengambilan kebijakan di mana Nabi dan para sahabat memutuskan perkara keumatan. Politik keumatan dilakukan dan diputuskan di bangunan ini.

Baca juga : Masjid Radikal yang Dirobohkan oleh Rasulullah

Banyak riwayat dan kisah yang menceritakan fungsi masjid pada masa Nabi. Setidaknya  Quraisy Shihab dalam bukunya Wawasan Qur’an menyimpulkan beberapa fungsi masjid pada masa nabi:  

1.      Tempat ibadah (shalat, zikir).

2.      Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).

3.      Tempat pendidikan.

4.      Tempat santunan sosial.

5.      Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.

6.      Tempat pengobatan para korban perang.

7.      Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.

8.      Aula dan tempat menerima tamu.

9.      Tempat menawan tahanan, dan

10.  Pusat penerangan atau pembelaan agama.

Dari sini jelas sekali bahwa fungsi masjid pada masa Nabi sangat luas dari peribadatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik. Artinya, masjid menjadi sentral penyelesaian problem keumatan. Hal ini menjadi wajar karena masjid sekaligus menjadi pusat kekuatan dan kekuasaan Islam. Lebih tepatnya, masjid menjadi pusat pemerintahan, gedung pemusyawaratan dan ruang sidang pertahanan Negara.

Tentu saja hal berbeda dengan kondisi saat ini ketika pusat-pusat kekuasaan, permusyawaratan umat dan lainnya diambil oleh institusi pemerintahan. Di samping itu, masjid telah banyak tumbuh subur tidak hanya tersentral dalam satu titik sebagai pusat pelembagaan nilai dan pemerintahan.

Namun, bukan berarti masjid sekarang hanya berperan sebagai tempat ibadah semata tanpa menjadi ruang untuk memecahkan persoalan umat. Meskipun demikian, bukan berarti keseluruhan fungsi itu bisa dilaksanakan di masjid saat ini misalnya tempat latihan perang, penyimpanan peralatan perang, tempat menawan tahanan, tempat menerima tamu Negara, dan tempat pengobatan korban perang. Artinya, konteks itu telah berubah jangan pernah berpikir memakai unta buat transportasi di Jakarta.

Tetapi bahwa masjid hari ini harus berfungsi melebih fungsi ibadah itu harus terus didorong semisal untuk pendidikan, bakti sosial, tempat pengumpulan zakat dan musyawarah warga. Fungsi masjid tidak boleh dikerdilkan hanya untuk persoalan ibadah semata.

Namun, ketika berbicara perluasan fungsi masjid ada sebagian yang mencoba bersikap kritis berarti di dalam masjid bisa dong berbicara politik? Jawabannya, sangat bisa!. Politik keumatan bisa menjadi tema pembicaraan dalam masjid. Namun, politik kepentingan dan pembicaraan yang dapat memecah belah umat sangat dilarang. Jangan pernah jadikan masjid untuk kepentingan politik yang dapat memecahbelah persatuan umat.

Inilah sebenarnya gambaran yang pernah terjadi pada masa Nabi. Ada masjid yang dibangun oleh orang munafik untuk menyebarkan propaganda politik yang bertujuan memecahbelah persatuan umat. Itulah sebabnya Rasul meruntuhkan bangunan tersebut yang dalam Qur’an disebut sebagai masjid dhirar.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Artinya : Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS: at-Taubah : 107)

Intinya, masjid yang digunakan untuk kepentingan umat itulah masjid yang dibangun dan dikelola atas ketakwaan. Namun, masjid yang ditunggangi untuk kepentingan politik memecahbelah umat tidak lebih sebagai masjid dhirar yang pernah dirobohkan oleh nabi. 

Comment

LEAVE A COMMENT