Hormat Bendera, Tidak Haram!

Hormat Bendera, Tidak Haram!

Setiap upacara bendera, pada saat menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya,’ menjadi spontan kita melakukan penghormatan kepada bendera merah putih. Tindakan spontan ini karena kita sudah sejak lama didik untuk mencintai negeri ini. Mencintai negeri bukanlah hal yang dilarang. Nabi pun sangat mencintai Makkah dan Madinah.

Nabi pernah mengekspresikan kecintaan terhadap tanah airnya dalam doa: “Ya Allah Jadikan kami mencintai Madinah, seperti cinta kami kepada Makkah. Atau lebihkan cinta pada Madinah. Ya Allah berkahilah timbangan dan ukuran kami. Sehatkanlah Madinah untuk kami. Pindahkanlah wabah penyakit ini ke kota Juhfah.” Kata Aisyah: Madinah adalah bumi Allah yang paling banyak wabah penyakitnya (HR Bukhari).

Namun, kerap menjadi polemic bolehkah seorang muslim menghormati lambang kebanggaan negaranya seperti bendera? Kalau semua peristiwa harus dipaksa untuk mencari padanannya pada zaman Rasulullah atau para sahabat, maka dialektika hukum Islam tidak akan pernah menemukan relevansinya. Ia menjadi stagnan dan jumud. Terjadi distorsi yang mengkebiri nilai universal ajaran Islam.

Islam, tidak berhenti pada Qur’an dan Hadis. Keduanya hanya merupakan pondasi dasar yang butuh penjabaran, sebagai dalil pokok. Ulama pada zaman sahabat, tabiin, dan tabi’ tabiin hingga ulama salaf yang mempunyai otoritas dan kemampuan menggali hukum dan hikmah dari Qur’an dan Hadis. Ulama pewaris Nabi karena mereka terus menerus menghidupkan Islam melalui jihad keilmuannya.

Baca Juga : Gus Sholah: NKRI Bersyariah Tidak Ada

Kembali pada soal hormat pada bendera merah putih, Syekh Athiyah Shaqar, mantan ketua majelis Fatwa Al-Azhar Mesir mengatakan bahwa menghormati bendera diperbolehkan karena bukan ibadah.

فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله

Artinya: Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan dalam situasi tertentu itu menunjukkan kesetiaan pada tanah air, berkumpul di bawah kepemimpinannya, dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap itu tidak masuk dalam pengertian ibadah kepada bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai ada yang bilang itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah.

Abdurrahman Syaiban–ketua Majelis Ulama Al-Jazair (جمعية العلماء المسلمين الجزائريين) tahun 1999-2001 — mengatakan bahwa berdiri saat dinyanyikan lagu kebangsaan atau menghormati bendera tidak bertentangan dengan syariah dan aqidah karena tidak ada nash (dalil Quran hadits) yang mengharamkannya.

Abudurrahman Syaiban berkata:

أن القول بعدم جواز الاستماع إلى النشيد الوطني أو الوقوف له أمر غير مؤسس دينيا، وليس هناك أي نص يحرمه أو يكرهه، بل على عكس ذلك، هو أمر محبب، لأن ديننا الحنيف أكد أن ”حب الوطن من الإيمان” والعلم والنشيد والراية وونياشين هي علامات رمزية واصطلاحات حياتية لا علاقة لها بالشرع

Artinya: Pendapat tidak bolehnya mendengarkan lagu kebangsaan atau berdiri saat dinyanyikan tidak memiliki dasar syariah. Tidak ada dalil apapun yang mengharamkan atau memakruhkannya. Justru sebaliknya: itu perkara yang dianjurkan. Karena, agama Islam menyatakan bahwa “Cinta tanah air itu bagian dari iman.” Sedangkan lagu dan bendera itu adalah tanda dan simbol kehidupan yang tidak ada kaitannya dengan syariah.

Jadi, hormat kepada sangsaka merah putih sejatinya tidak ada masalah. Tindakan tersebut adalah bagian dari aktifitas duniawi atau mua’malah. Bukan wilayah ibadah. Karena itu tidak ada alasan untuk mengatakan tidak boleh apalagi haram dengan dasar tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah.

Rasulullah sendiri menyatakan dalam sebuah hadits hasan riwayat Tirmidzi yang artinya: Perkara haram adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah dalam Quran-Nya. Perkara haram adalah sesuatu yang diharamkan Allah dalam Quran-Nya. Adapun perkara yang tidak dibahas oleh Allah, maka itu adalah sesuatu yang dimaafkan.

Ulama fikih lalu membuat satu kaidah “Bahwa hukum asal dari sesuatu (yang bukan ibadah) adalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran syariat, aktifitas duniawi adalah bagian dari manusia ingin melakukan aktifitas di dunia ini sebagai khalifah.

Rasulullah mengatakan untuk urusan duniamu: Anda lebih mengetahui tentang urusan duniamu. Mempertengtangkan hormat bendera yang murni persoalan duniawi dan muamalah dengan keimanan adalah bagian dari kedangkalan dalam beragama.

 

Wallahu A’lam

*Faizatul Ummah

Comment

LEAVE A COMMENT