Inilah 7 Akhlak Mulia Nabi Kepada Non Muslim

Cara Nabi berdakwah sangat memukau. Akhlak yang ditampilkan oleh Nabi adalah Akhlak mulia dan agung. Bahkan sebelum diangkat jadi Rasul pun Nabi Muhammad telah dijuluki al-Amin karena karakter kejujurannya.

Allah pun memuji akhlak Nabi dalam Qur’an :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab dengan lugas, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim).

Di tengah keberagaman seperti saat ini, umat Islam wajib meneladani perilaku dan sikap yang diperagakan oleh Sang Nabi. Hal yang sangat penting dipelajari dewasa ini bagaimana Nabi memperlakukan umat lain yang berbeda.

1.      Tidak mencerca sesembahan umat lain

Suatu ketika sekelompok non muslim menuntut kepada Nabi agar menghentikan umat Islam yang gemar mencaci dan mencerca tuhan-tuhan mereka. Allah pun mengajarkan sikap kepada Muhammad melalui firman berikut :

 وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS: Al-An’am : 108).

2.      Memberikan izin umat lain beribadah di Masjid

Suatu ketika 60 orang Nasrani Najran datang ke Madinah untuk menemui Rasul. Saat itu Nabi sedang berada di Masjid dengan para Sahabatnya. Tanpa izin tamu tersebut memasuki masjid untuk bersembahyang dengan menghadap ke Timur. Sahabat kaget, geram dan marah, tetapi Nabi meminta mereka untuk membiarkannya.

Baca juga : Jangan Gagal Fokus Meneladani Nabi

Setelah kebaktian mereka menemui Rasul, tetapi Beliau memalingkan wajahnya. Atas saran beberapa sahabat, terutama Ali, menyarankan agar romobongan melepas jubah, cincin dan tampilan kebanggaan mereka. Ternyata Nabi tidak marah dengan persoalan pengguaan masjid tadi, tetapi hanya meminta mereka berpakaian biasa, bukan pakaian tokoh. Akhirnya Nabi menemui mereka dengan senang dan tersenyum.

3.      Interaksi ekonomi (muamalah) dengan umat lain

Kadang sebagian umat Islam saat ini selalu keras tak berdasar dengan tidak mau berinteraksi dengan umat lain. Bahkan mereka kadang tidak mau bertransaksi dengan umat non muslim. Imam Bukhari dakam Shahih Bukhari menceritakan Nabi yang pernah menggadaikan baju perangnya kepada pedagan yang beragama Yahudi.

Hal ini membuktikan bahwa Rasul sangat ketat dalam persoalan akidah, tetapi Nabi tidak pilah pilih dalam persoalan sosial. Interaksi Nabi tidak dibatasi oleh perbedaan agama. Inilah contoh yang diberikan oleh sang teladan kepada umatnya.

4.      Menerima Tamu dengan ramah

Banyak kisah-kisah Nabi menerima tamu dan kunjungan rombongan yang berbeda agama. Tidak hanya di Madinah ketika Nabi di Makkah sudah sering berinteraksi dan menerima tamu yang berbeda keyakinan. Dari beberapa kisah, di Makkah Nabi pernah menerima rombongan tamu yang terdiri dari pendeta Nasrani Habasyah berjumlah 70 orang. Di Makkah pula Nabi pernah menerima tamu dari kamu kafir Quraisy. Di Madinah pergaulan Nabi tambah luas dengan menerima banyak tamu yang beragam. 

Akhlak Nabi jelas sesuai dengan apa yang beliau ajarkan:

Artinya: “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

5.      Mendoakan non Muslim

Apakah sangat dilarang mendoakan umat lain? Nabi memberikan contoh yang baik terhadap persoalan tersebut. Ketika didesak oleh para sabahat untuk mendoakan laknat terhadap suku Daus yang jelas membenci Islam, Nabi menuruti keinginan sabahat dengan berdoa:

Artinya : Ya Allah berilah petunjuk pada kaum Daus (HR Bukhori-Muslim)

Dengan demikian, umat Islam boleh saja mendoakan kebaikan kepada non muslim agar segera mendapatkan hidayah.

6.      Bertetangga dengan non Muslim

Suatu ketika Asiyah menyelenggarakan hajatan dengan menyembelih kambing. Setelah hidangan matang, Aisyah membagikan masakannya kepada tetangga sesuai anjuran Nabi ketika masak untuk membagikan kepada tetangga.

Nabi berkata, : apakah si fulan juga telah dikirim masakan?

Belum, dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengirimnya masakan” ujar Aisyah

Nabi tetap meminta : Kirimilah, walaupun Yahudi, ia adalah tetangga kita.

7.      Menghormati Jenazah non Muslim karena Kemanusiaaan

Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu seakan menegor dengan nada seolah protes, “Itu jenazah orang Yahudi.”

“Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah.

Dialog singkat ini diceritakan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari.

Itulah beberapa akhlak mulia Nabi dalam memandang dan bersikap dengan umat lain. Dalam persoalan ketuhanan, Nabi sangat tegas. Namun, dalam interaksi sosial Nabi mempunyai argument lain. Mengapa kita tidak bisa berinteraksi dengan non muslim, mereka juga tamu kita, tetangga kita, teman kita, dan terpenting seebagaimana Nabi: bukankah mereka juga manusia?

Wallahu ‘alam

Comment

LEAVE A COMMENT