Kalimat Tauhid Ada di Lisan dan Hati, Bukan di Kaos dan Topi

Pertama memang harus ditegaskan bahwa tidak ada istilah bendera tauhid yang ada adalah kalimat tauhid. Kalimat tauhid merupakan salah satu dzikir yang sangat dianjurkan karena selain mempertegas kesaksian ketauhidan, juga merupakan bentuk dizkir untuk selalu mengingat Allah di mana pun berada.

Dalam Surat al Baqarah 152 Allah berfirman: Ingatlah (dzikir) kepada Ku, pasti Aku ingat kepadamu. Itulah keutaman dzikir dengan janji Allah selalu mengingat hamba yang memperbanyak.

Menyebut nama Allah akan mendekatkan diri kita kepada Allah. Semakin memperbanyak dzikir akan semakin kita merasa dekat. Dan janji Allah kepada mereka yang memperbanyak menyebut namaNya seperti dalam Qur’an:

Artinya : Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS: al-Ahzab 35).

Lalu, apa dzikir yang paling utama? Dalam sebuah hadis  Rasulullah SAW bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah lafadz ‘Laa ilaha illallah’ dan doa yang paling utama adalah ‘alhamdulillah'” (Hadits hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Kalimat tauhid merupakan salah satu dizkir yang paling mulia. Bahkan Nabi mengatakan bahwa kalimat ini merupakan bacaan yang telah dibaca oleh para Nabi sebelumnya. “Dan sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan demikian pula yang diucapkan para nabi sebelumku adalah laa ilaha illallah” (HR. Tirmidzi).

Kalimat tauhid merupakan dzikir paling mulia. Karena kemuliaan inilah orang yang memperbanyak dzikir akan mendapatkan kunci terbebas dari api neraka. Dalam suatu riwayat nabi bersabda. “ sesunggunguhnya Allah mengharamkan bagi neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah yang dengan tujuan mengharap wajah allah (HR Bukhari Musim).

Tentu saja kita harus memperbanyak dzikir tauhid agar lisan dan hati kita selalu mensucikan ke-esa-an Allah. Memperbanyak dzikir ini secara istiqamah akan membiasakan hidup dan mati kita diakhiri dengan kalimat tauhdi. Dan janji Nabi bagi umat Islam : barangsiapa yang akhir perkatannya sebelum meninggal dunia adalah lailaha illah maka dia akan masuk surga (HR Abu Daud).

Jadi, kalimat tauhid merupakan kalimat tayyibah yang harus diperbanyak untuk diucapkan dan menjadi dzikir umat Islam sehari-hari. Kalimat tauhid sangat agung sehingga tidak boleh hanya sekedar menjadi simbol. Karena itulah, kalimat tauhid harus diperbanyak menjadi dizkir bukan menjadi simbol. Kalimat tauhid harus ada di lisan dan di hati, bukan sekedar di kaos dan di topi.

Karena ada nama allah dalam kalimat tauhid, para ulama sangat berhati-hati dalam memperlakukannya dalam bentuk tulisan dan gambar lainnya. Tentu saja agar tetap menjaga keluhuran kalimat ini, sebagian ulama melarang menulisnya di tempat dan barang yang berpotensi untuk dinistakan seperti bendera, kaos, dinding, dan barang lainnya.

Dalam bincangsyariah.com diulas secara detail tentang hukum tulisan kalimat tauhid. ulama Syafiiyah menghukumi makruh menulis kalimat Alquran, kalimat tauhid dan lainnya pada benda yang sekiranya sulit menjaga kemulian kalimat-kalimat tersebut. Bahkan ulama Malikiyah berpendapat haram karena akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut diremehkan.

Apabila kalimat tersebut sudah terlanjur dituliskan, para ulama menyarankan untuk melakukan tindakan dua hal demi menjaga keagungan kalimat tersebut, yakni dengan dihapus dengan air dan benda tersebut dibakar. Inilah kehati-hatian para ulama salaf untuk tetap menjaga kemuliaan kalimat suci.

Belakangan ini muncul lafadz allah di kaos, topi da bendera tentu saja menimbulkan kekhawatiran apakah penggunanya yakin untuk tidak meremehkan dan melecehkan ketika dibawa di tempat-tempat yang kotor? Bahkan tidak jarang tulisan yang bertebaran itu berpotensi diinjak dan bercampur dengan barang kotor lainnya.

Karena itulah, seluruh umat Islam harus menyadari bahwa kalimat tauhid adalah dzkir dan sarana mengingat Allah. Perbanyaklah dzikir dengan menyebut nama Allah dengan keutamaan yang telah disebutkan, daripada memperbanyak kalimat tauhid di berbagai tulisan yang tidak menjamin kita bisa memuliakan kalimat tersebut. 

Comment

LEAVE A COMMENT