Kedudukan Tradisi dalam Hukum Islam

Kedudukan Tradisi dalam Hukum Islam

Diskursus tentang tradisi menajadi wacana yang selalu diperbincangkan oleh umat Islam antara pro dan kontra. Salah satunya adalah tradisi atau ‘urf disoal tentang keabsahannya sebagai dasar hukum. Dua kutub yang saling bertentangan ini seakan tak pernah menemukan titik temunya. Sumber masalahnya adalah apakah ada dalil yang bisa mengabsahkan tradisi sebagai bagian hukum Islam.


Islam sebagai agama rahmat untuk alam semesta, tentunya mencakup segala aspek kehidupan. Agama ini hadir bukan untuk menghapus tradisi secara totalitas. Kehadirannya semata untuk merespon dan mengarahkan manusia agar menjadi hamba sesuai kehendak pencipta. Melalui utusannya, Allah memberi petunjuk kepada manusia tentang suatu nilai kebenaran dan tata aturan kehidupan yang baik.


Secara fitrah, manusia sejatinya telah mampu menemukan arah jalan yang patut dan tidak patut ia lakukan. Akal sebagai karunia pencipta menjadi alat pembeda yang hak dan batil, halal dan haram, baik dan buruk. Tetapi akal yang suci kerap tercemar oleh birahi nafsu yang menyebabkan akal tak lagi mampu memainkan perannya. Apalagi kalau dirasuki kepentingan tertentu.


Oleh sebab itulah, agama kemudian hadir untuk membingkai manusia dalam suatu tatanan yang sesuai dengan selera Pencipta. Di antara tatanan tersebut adalah tradisi yang terbentuk atas kesepakatan bersama dalam suatu lingkup yang menjadi tempat hidup mereka. Berlangsung turun temurun dan menjadi kesepakatan tak tertulis.


Secara sederhana tradisi atau ’Urf dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul fikih, 'urf disebut adat (adat kebiasaan).


Pengertian ‘Urf


Ulama menyepakati empat dalil sebagai rujukan hukum Islam, yakni Al Qur’an, Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Sementara untuk Istihsan, Maslahah Mursalah, Syar’u man Qablana, Madzhab al Sahabi, Istishab dan ‘Urf tidak ada kata sepakat di kalangan ulama. Ada yang mengakui sebagai dalil dan adapula yang tidak mengakuinya.


Baca Juga : Tantangan Nusantarisasi Bahasa Arab


Tulisan ini dihadirkan khsusus membahas tuntas tentang ‘urf. 'Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). Sekalipun dalam pengertian istilah tidak ada perbedaan antara 'urf dengan adat (adat kebiasaan).


Namun demikian, dalam pemahamannya biasa diartikan bahwa pengertian 'urf lebih umum dibanding dengan pengertian adat, karena adat di samping telah dikenal oleh masyarakat, juga telah biasa dikerjakan di kalangan mereka. Ada seakan-akan telah merupakan hukum tertulis, sehingga ada sanksi-sanksi terhadap orang yang melanggarnya.


Hal ini bisa dilihat dalam akad salam (jual beli dengan pesanan) yang tidak memenuhi syarat jual beli. Sebagaimana maklum, syarat jual beli  mengharuskan pada saat terjadi transaksi jual beli pihak pembeli telah menerima barang yang dibeli dan pihak penjual telah menerima uang penjualan barangnya. Sedang pada akad salam barang yang akan dibeli itu belum ada wujudnya saat akad berlangsung, barang yang dibeli masih dalam bentuk gambaran saja. Tetapi karena telah menjadi adat kebiasaan dalam masyarakat, maka akad salam hukumnya sah.


Kalau dilihat sepintas lalu, seakan-akan ada persamaan antara ijma' dengan 'urf, karena keduanya sama-sama ditetapkan berdasar kesepakatan dan tidak ada yang menyalahinya. Perbedaannya, ijma' terjadi karena ada suatu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya. Kemudian para imam mujtahid membahas hukumnya dan menyatakan pendapat mereka masing-masing yang membulatkan pendapat yang sama.


Semenatra 'urf terjadi karena suatu peristiwa atau kejadian, kemudian seseorang atau beberapa anggota masyarakat sependapat dan melaksanakannya. Hal ini dipandang baik pula oleh anggota masyarakat yang lain, lalu mereka mengerjakannya. Lama-kelamaan mereka terbiasa mengerjakannya sehingga merupakan hukum tidak tertulis yang telah berlaku di antara mereka. Dengan demikian bisa diambil kesimpulan, ijma' menjadi dasar hukum berdasar pada konsensus imam Mujtahid. Sedangkan 'urf, diberlakukan karena mereka telah biasa mengerjakannya dan memandangnya baik.


Macam-Macam 'urf


'Urf dapat dibagi atas beberapa bagian. Ditinjau dari segi sifatnya, 'urf terbagi kepada ‘urf qauli dan ‘urf amali. ‘Urf qauli adalah 'urf yang berupa perkataan' seperti perkataan walad, menurut bahasa berarti anak, mencakup anak laki-laki dan anak perempuan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari biasa diartikan dengan anak laki-laki saja. Lahmun, menurut bahasa berarti daging, termasuk di dalamnya segala macam daging, seperti daging binatang darat dan ikan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari hanya berarti binatang darat saja. Daging binatang air, seperti ikan di luar cakupannya.


Sedangkan ‘urf amali adalah 'urf yang berupa perbuatan. Seperti jual beli dalam masyarakat tanpa mengucapkan shighat akad jual beli. Padahal menurut syara', shighat jual beli itu merupakan salah satu rukun jual beli. Tetapi karena telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat melakukan jual beli tanpa shighat jual beli dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diingini, maka syara' membolehkannya.


Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, 'urf terbagi menjadi ‘urf shahih dan ‘urf fasid. ‘Urf shahih merupakan kebiasaan yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan dengan syara'. Seperti mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah. Hal ini dipandang baik dan telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan syara'.


Sedangkan ‘urf fasid adalah kebiasaan yang tidak baik dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan syara'. Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu tempat yang dipandang keramat. Kebiasaan ini tidak dapat diterima, karena berlawanan dengan ajaran tauhid yang diajarkan agama Islam.


Ditinjau dari ruang lingkup berlakunya, 'urf terbagi pada dua kategir; ‘Urf ‘am dan ‘Urf khas. ‘Urf ‘am adalah kebiasaan yang berlaku pada suatu tempat dan masa dan keadaan. Seperti memberi hadiah kepada orang yang telah berjasa kepada kita dan mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita dan sebagainya.


Pengertian memberi hadiah di sini dikecualikan bagi orang-orang yang memang menjadi tugas dan kewajibannya memberikan jasa tersebut. Yakni, ia memberikan jasa, sebagai imbalannya ia memperoleh jasa atau upah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada, seperti hubungan penguasa atau pejabat dan karyawan pemerintah yang tugas dan kewajibannya melayani rakyat.


Sedangkan ’urfk hash adalah kebiasaan yang hanya berlaku pada tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti mengadakan halal bi halal yang biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang beragama Islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, sedang pada negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.


'Urf Sebagai Dasar Hujjah


Para ulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara'. Imam Malik sering kali mendasarkan hukum pada amalan penduduk Madinah. Imam Abu Hanifah kerapkali berdeda dengan sahabat-sahabatnya dalam penetapan hukum, karena mendasarkan keputusannya pada tradisi. Imam Syafi'i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Untuk satu kasus yang sama beliau menetapkan hukum yang berbeda. Qaul qodimnya, yakni waktu beliau masih berada di Baghdad (qaul qadim) berbeda dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid).


Beberapa contoh di atas menegaskan bahwa pada kasus ijtihad dan penetapan hukum para ulama dan mujtahid sangat mempertimbangkan tradisi. Ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf. Tentu saja 'urf fasid tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah.


Di antara kaidah-kaidah fiqhiyah yang berhubungan dengan 'urf adalah: "Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum." "tradisi manusia yang telah dikerjakan sejak lama bisa dijadikan hujjah. " Dan,"Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum  bisa berubah sebab perubahan masa. "


Kaidah-kaidah fikih di atas merupakan bukti bahwa para ulama menjadikan tradisi atau urf shahih sebagai bagian dari pertimbangan hukum. Perbedaan tradisi menyebabkan perbedaan hukum. Sebagaimana kaidah mengatakan perubahan tempat dan waktu akan mempengaruhi perbedaan hukum.


Perlu ditegaskan, bahwa hukum yang didasarkan pada ‘urf bisa berubah sebab perubahan masa dan tempat. Karena ’urf sebagai dalil syariat sebenarnya tidak berdiri sendiri, karena ‘urf  pada prinsipnya hanya demi menjaga kemaslahatan.

Comment

LEAVE A COMMENT