Kisah Tragedi Tenggelamnya Fir’aun

Kisah Tragedi Tenggelamnya Fir’aun

Bulan Muharram adalah bulan yang menandai pergantian tahun dalam hitungan hijriyah. Di bulan ini terdapat banyak peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah. Peristiwa penting yang menghiasi lembaran bulan ini tertuju pada satu hari yang disebut dengan ‘asyura’.

‘Asyura’ adalah hari tanggal 10 pada bulan Muharram. Setidaknya terdapat 20 macam peristiwa yang dilaporkan ulama’ terjadi pada hari ‘asyura’ ini. Meskipun masih menyisakan perbedaan pendapat tentang peristiwa-peristiwa tertentu yang diklaim terjadi pada tanggal 10 Muharram tersebut.

Di antara peristiwa yang terjadi adalah dikabulkannya taubat Nabi Adam As., diangkatnya derajat Nabi Idris menuju kedudukan yang lebih agung. Keluarnya Nabi Nuh dari bahtera dalam peristiwa banjir besar, diselamatkannya Nabi Ibrahim dari bara api, diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa, dikeluarkannya Nabi Yusuf dari penjara. Dikembalikannya penglihatan Nabi Ya’qub yang merindukan putranya, Yusuf.

Kemudian diangkatnya penyakit yang menimpa Nabi Ayyub, dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut ikan, terbelahnya laut dan diselamatkannya kaum Israel dari kejaran Fir’aun. Diberikannya tahta kepada Nabi Sulaiman diangkatnya Nabi Isa ke langit, dan peristiwa-peristiwa penting lain yang terjadi di hari ‘asyura’.

Dari sekian peristiwa di atas, penting untuk mengetahui lebih detail salah satu kisah yang cukup menghebohkan dan terekam dalam sejarah hingga saat ini masih terdapat jejak-jejak yang membuktikan bahwa kisah tersebut benar-benar terjadi, yaitu tragedi tentang tenggelamnya Raja Fir’aun bersama bala tentaranya di laut Merah. Namun, benarkah tragedi Fir’aun terjadi pada bulan Muharram, tepatnya tanggal 10?

Qur’an Bertutur Musa dan Fir’an

Mari kita awali dengan ayat berikut ini:

قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى.

Artinya: “Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik. (QS. Thaha: 59)

Tafsir yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas menunjuk arti yaumuz zinah adalah hari ‘asyura’. Perjanjian yang disepakati antara Nabi Musa dan Fir’aun untuk bertemu dan mengadakan pertandingan adu kehebatan adalah pada hari ‘asyura’ dan di pagi hari (waktu dhuha).

Baca Juga : Kedudukan Tradisi dalam Hukum Islam

Setelah itu Fir’aun berpaling dan mengumpulkan para tukang sihir serta mengatur strategi dan tipu daya, lalu datang pada hari yang telah ditentukan saat mengadakan perjanjian dengan Nabi Musa As. Raja Fir’aun tetap duduk di singgasananya bersama para pembesar dan punggawa kerajaan. Setelah Nabi Musa berhadapan dengan para penyihir Fir’aun, beliau berkata: “Celakalah kalian! Jangan mengada-ada dan berbuat dusta kepada Allah, maka Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”.

Mendengar ucapan Nabi Musa para tukang sihir Fir’aun saling berbisik dan bertukar pendapat. Di antara mereka ada yang bilang, “ini bukan ucapan manusia biasa, ini bukan perkataan tukang sihir”. Lalu yang lain menimpali, “Jika dia memang tukang sihir, kami yakin akan mengalahkannya, namun jika dia bukan manusia biasa, maka kita yang akan dikalahkan”.

Setelah melalui pertentangan dan tukar pendapat yang alot lalu di antara mereka menyimpulkan: “Sesungguhnya kedatangan dua orang ini, yakni Musa dan Nabi Harun benar-benar tukang sihir yang akan mengusir kita dari tanah Mesir dan akan melenyapkan kedudukan dan kemuliaan kita. Oleh sebab itu, ayo himpun segala kekuatan kalian, hadapi mereka dengan membentuk barisan yang rapi, orang yang menang pada hari ini akan beruntung.”

Setelah para tukang sihir Fir’aun berhadap-hadapn dengan Nabi Musa lalu berunding: “Wahai Musa! Siapakah yang akan memulai unjuk kehebatan saat ini, apakah engkau atau kami?” Nabi Musa menjawab, silahkan kalian mulai terlebih dahulu! Secara serentak para tukang sihir Fir’aun yang berjumlah 70.000—walaupun jumlah ini masih diperdebatkan—melemparkan tali dan tongkat yang ada di tangan mereka masing-masing.

Lalu tampaklah di mata seolah-olah tali dan tongkat mereka adalah ular yang sedang merayap. Sebelum tali dan tongkat dilemparkan, para tukang sihir Fir’aun telah memperdaya penglihatan Nabi Musa, lalu Fir’aun, dan semua orang yang menyaksikan saat itu, sehingga di mata mereka tali dan tongkat itu layaknya ular yang merayap-rayap memenuhi tempat itu.

Melihat kejadian tersebut Nabi Musa terpana dan timbul rasa takut dalam hatinya. Kemudian Allah berfirman: “Jangan takut wahai Musa! Sesungguhnya kamulah yang paling unggul terhadap mereka. Lemparkanlah tongkat yang ada di tangan kananmu!”. Kemudian Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan menjelma ular yang sangat besar kemudian melahap ular-ular milik tukang sihir Fir’aun tanpa sisa. Lalu Nabi Musa mengambil ular tersebut dan jadilah tongkat seperti semula. Kemudian tukang sihir itu tersungkur seraya berkata: “Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun”.

Lalu Fir’aun geram dan marah dan menghukum para tukang sihir dengan cara yang kejam, yaitu dipotong tangan dan kakinya secara silang kemudian disalib di pohon kurma.

Kemudian Nabi Musa menerima wahyu dari Allah agar mengajak kaumnya pergi menyebrang laut dengan cara membuat jalan di laut menggunakan tongkat yang dipukulkan, tanpa ada rasa khawatir dikejar Fir’aun dan tentaranya dan jangan takut untuk tenggelam. Setelah Musa melewati jalan yang memecah lautan, lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti dan mengejar Musa dari belakang, namun ketika Musa dan kaumnya telah melewati jalan tersebut, atas izin Allah laut yang semula menjadi jalan kemudian tertutup kembali dan Fir’aun tenggelam bersama bala tentaranya. []

 

M. Jarir al-Thabariy, Jami’ al-Bayan fiy Ta’wil al-Qur’an, 2000.

Abu Bakr al-Ahsaniy, al-Jauhar al-Munadham fiy Fadlail Syahr Allah al-Muharram, 2019.

Comment

LEAVE A COMMENT