Ladang Jihad Generasi Muda


Salah satu persoalan umat Islam saat ini kurangnya antusiasme generasi muda dalam ilmu pengetahuan. Banyak dari mereka yang terjebak pada suatu pemikiran membela agama dengan fisik. Jihad pun masih dimaknai sangat sempit.

Generasi muda sebagai penerus masa depan bangsa dan agama menjadi mudah dikaburkan dengan narasi pembelaan agama yang sangat sempit. Energi generasi muda Islam banyak diarahkan pada persoalan fisik bukan pada persoalan pengetahuan dan keilmuan sebagai fondasi kemajuan Islam.  Padahal tantangan peradaban bangsa dan agama ke depan sangat bergantung pada kapasitas keilmuan generasi muda Islam.

Lemahnya generasi muda pada kecenderungan untuk menebalkan ilmu masih kalah dengan upaya menebalkan emosi pembelaan keagamaan yang bersifat fisik. Anak muda sekarang lebih senang turun ke jalan yang seolah demi membela agama daripada menutut ilmu untuk membela agama. Akhirnya kadar keagamaan yang pas-pasan mudah sekali menjadi ruang dan celah untuk dieksplitasi dalam “kepentingan” tertentu.

Generasi muda Islam harus menyadari banyak ladang-ladang jihad untuk membela agama sesuai dengan konteks tuntutan zaman, kondisi dan kapasitas mereka yang relevan. Melalui jihad generasi muda bisa menderma baktikan dirinya untuk kepentingan agama. Bagaimana jihad bagi generasi muda dengan tantangan kekinian?

Baca juga : Mari Membela Islam dengan Berjihad

Pertama-tama ini menjadi penting agar tidak mudah disempitkan bahwa jihad sebagai salah satu sarana membela agama mempunya dimensi yang luas. Generasi muda harus mempunyai perspektif yang luas dan kaffah dalam memahami jihad. Pendangkalan kelimuan dengan menyempitkan ladang jihad pada sebatas pembelaan fisik sungguh merugikan masa depan Islam.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad memberi empat tingkatan dalam jihad.

1.      Jihad melawan hawa nafsu

2.      Jihad melawan syetan

3.      Jihad melawan orang kafir dan munafik

4.      Jihad melawan kemungkaran dan orang dzalim.

Bagi generasi muda yang sedang berjuang melawan kebodohan melalui pendidikan tidak perlu bersedih. Dari level jihad yang dikemukan oleh Ibnu Qayyim tersebut, ada tingkatan yang sangat mulia bagi generasi muda untuk menjadi mujahid. Setidaknya tingkatan pertama yang perlu diperhatikan yakni jihad melawan nafsu.

Dalam penjelasan yang lebih rinci, Ibnu Qoyyim membagi lagi setiap tingkatan jihad tersebut. Jihad melawan nafsu memiliki empat bentuk:

1.      Berjihad untuk mempelajari ajaran Islam dan ilmu pengetahuan

Setiap umat Islam mempunyai kewajiban tanpa kecuali untuk menuntut ilmu. Dalam Islam menuntut ilmu merupakan kewajiban. Dalam sebuah Hadist yang sangat populer diriwayatkan :

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 

Artinya : Mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim (baik laki-laki maupun perempuan) (HR Ibnu Majah dan lainnya).

Dari hadist ini dapat dipahami bahwa Islam sungguh sangat mulia dengan menempatkan mencari ilmu sebagai kewajiban. Artinya Islam merupakan agama yang membenci kebodohan. Kenapa menuntut ilmu menjadi kewajiban karena dengan ilmu itulah umat Islam dapat menjalankan agamanya dengan benar dan membela agamanya.

Dengan status kewajiban, artinya, menuntut ilmu menjadi suatu pekerjaan yang bernilai ibadah. Umat Islam yang menuntut ilmu merupakan aktifitas yang bernilai ibadah apalagi diniatkan sebagai aktifitas dalam membela Islam.

Islam sangat mencintai ilmu pengetahuan dan sebaliknya Islam membenci kebodohan. Dalam al Qur’an disebutkan :

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ


Artinya: Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS : Ar-Ra’d: 19).

Ibnul Qayyim memberikan warning keras terhadap mereka yang selelu disemuliti kebodohan. “Tidaklah diragukan bahwa kebodohan adalah pokok dari segala kerusakan dan kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan.” (Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87).

Semoga kita dijauhkan dari kebohohan dengan cara menuntut ilmu. Jadikan usia emas di masa muda untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Itulah ladang jihad bagi generasi muda. Marilah berjihad melawan kebodohan.

2.      Berjihad untuk mengamalkan ilmu

Memiliki ilmu saja tidak cukup, umat Islam dituntut untuk selalu mengamalkannya. Pepatah Arab mengatakan : ilmu tanpa diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah. Buah ilmu adalah perbuatan. Sungguh sangat merugi apabila kita memiliki ilmu tetapi tidak diamalkan.

“Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga ia ditanya tentang empat hal -diantaranya-: tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya.” [Hadits dikeluarkan oleh At-Tirmidzy beliau berkata: "hadits hasan shahih.

Jadi jihad berikutnya yang harus dilakukan oleh generasi muda adalah mengamalkan ilmu yang didapatkan. Orang yang berilmu mempunyai beban untuk mengamalkannya. Seberapun banyak pengetahuan yang dimiliki dan sedalam apapun ilmunya, tetapi tidak amalkan ia masih tergolong kategori orang bodoh.

Sungguh sangat tepat ucapan Al-Fudhail Bin ‘Iyadh : “Seorang berilmu tetap dikatakan bodoh sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang berilmu.”

3.      Berjihad dengan mendakwakan ilmu

Tugas berikutnya yang harus dilakukan oleh generasi muda untuk melakukan perjuangan adalah menyampaikan ilmu yang didapatkan kepada masyarakat. Aktifitas dakwah tidak harus secara formal menjadi da’i. Generasi muda bisa mulai melakukan apapun yang didapatkan untuk kemanfaatkan lingkungannya.

Apabila tingkatakan kedua ilmu diamalkan untuk kepentingan pribadi, fase selanjutnya generasi muda harus bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

 

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, para penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut dalam lobangnya, juga ikan-ikan di lautan, semuanya mendoakan seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR : Tirmidzi).

4.      Berjihad untuk sabar dalam berdakwah

Tingkat terakhir jihad yang dilakukan oleh generasi muda adalah menahan diri dan sabar atas dakwah yang sudah dilakukan. Manusia hanya selalu berusaha sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Nabi Muhammad juga tidak pernah memaksakan dakwah agar semua orang menerimanya.

Sabar merupakan harta indah yang dimiliki oleh orang beriman. Jangan gegabah dan memaksakan diri. Dakwah yang baik harus dilakukan dengan santun bukan dengan paksaan apalagi kekerasan. Apapun tantangan yang didapatkan dalam proses dakwah, generasi mudah jangan mudah terprovokasi tetapi selalu sabar.

Allah telah menjanjikan pahala besar bagi orang yang selalu bersabar:

 

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar : 10)

Generasi muda yang selalu dirahmati Allah, marilah kita laksanakan jihad dengan selalu menebalkan ilmu, mengamalkan, mendakwahkan dan selalu bersabar. Insyallah kalian akan menjadi pejuang Islam yang sesungguhnya. Masa depan Islam ditentukan dengan generasi muda dengan kapasitas keilmuan yang kuat, bukan dengan badan yang kuat. 

Comment

LEAVE A COMMENT