Manusia Berpotensi Saling Membunuh, Inilah Cara Islam Menanggulangi

Dalam surah Al Baqarah Ayat 30 Allah berfirman “ Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengatakan kepada malaikat sungguhnya saya ingin menciptakan Khalifah di muka bumi ini, malaikat lalu menjawab apakah Engkau ya Tuhanku akan menciptakan orang-orang yang hanya akan melakukan pengrusakan di muka bumi dan saling menumpahkan darah? Sementara kami senantiasa bertasbih kepadamu dan mensucikanMu. Allah berfirman sesungguhnya saya mengetahui apa yang engkau tidak ketahui”.

Malaikat sudah mengetahui bahwa Khalifah yaitu manusia yang akan diciptakan oleh Allah di muka bumi hanya akan melakukan pengrusakan dan saling menumpahkan darah. Artinya malaikat sudah mengetahui bahwa manusia sangat identik dengan pengrusakan dan pertumpahan darah sebagaimana yang kita saksikan di dunia saat ini.

Dalam catatan sejarah, kasus pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia adalah pembunuhan Qabil terhadap adiknya Habil yang dipicu oleh kebencian dan kecemburuan yang mendalam dengan alasan ketidakadilan. Sunggu kebencian dan kecemburuan membutakan persaudaraan. Padahal habil adalah adik kandungnya sendiri, Qabil pun rela melakukan pembunuhan.  

Kisah-kisah pembunuhan dalam sejarah manusia tidak dapat dihitung, karena hampir setiap saat kehidupan manusia selalu ditandai dengan pembunuhan mulai dari pembunuhan karena urusan pribadi, keluarga, bisnis atau karena kepentingan. Saudara-saudara Nabi Yusuf berusaha membunuh adiknya karena kecemburuan walaupun tidak berhasil. Firaun membunuh anak laki-laki yang baru lahir karena tidak ingin ada pesaingnya. Masyarakat Arab jahiliyah juga mengubur hidup anak-anak perempuannya karena menganggap tidak produktif dan hanya menjadi beban ketika nanti besar. Pembunuhan antara saudara kakak dengan adik atau sebaliknya juga terjadi dalam sejarah kekaisaran-kekaisaran besar di dunia ini seperti Romawi, Persia, China dan India.

Begitu pula dalam sejarah Islam, pembunuhan juga terjadi  dari waktu ke waktu. Hampir semua Khalifah-khalifah mulai dari Khulafaurrasyidin kecuali Khalifah Abu bakar As siddiq meninggal karena dibunuh hingga kekhalifaan Umawiyah, Abbasia dan Osmania tidak sedikit khalifah yang meninggal karena dibunuh akibat kecemburuan politik.   

Fenomena pembunuhan menjadi ciri khas umat manusia dari dulu sampai sekarang dan di manapun mereka hidup dan terhadap suku dan bangsa apapun mereka berafiliasi, semuanya rentan dengan pembunuhan entah dibunuh atau membunuh. Di Indonesia sendiri pada bulan November ini masyarakat dikagetkan dengan beberapa kasus pembunuhan secara beruntun mulai pembunuhan satu keluarga di Bekasi, kemudian pembunuhan di Bogor yang mayatnya disimpan di drum dan pembunuhan seseorang terhadap temannya yang kemudian mayatnya disimpan di dalam lemari.

Insiden-insiden seperti ini mestinya sudah tidak lagi terjadi di era di mana hukum sudah sangat ketat terhadap para pelaku pembunuhan. Nilai-nilai kemanusian juga sudah sangat jelas apakah melalui pendidikan dan pengajaran agama yang dianut oleh setiap orang atau karena melalui nilai-nilai universal yang diajarkan oleh guru dan dosen-dosen di sekolah atau di kampus tentang pentingnya menjaga jiwa dan nyawa manusia itu sendiri. Namun sangat menyedihkan kenapa insiden-insiden yang keji  seperti itu  masih terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Seseorang biasanya melakukan pembunuhan karena beberapa hal antara lain sebagai berikut:  untuk mencari keuntungan seperti pembunuh bayaran yang digunakan oleh orang tertentu karena  kepentingan politik atau karena persaingan bisnis;  ingin  mempertahankan harga diri seperti seorang suami membunuh istrinya karena melakukan tindakan yang memalukan; dorongan hawa nafsu sebagaimana yang sering terjadi di kalangan anak-anak muda yang memperkosa kemudian membunuhnya; kejiwaan karena orang itu memang memiliki persoalan kejiwaan; kekecewaan seperti yang dilakukan oleh orang yang bunuh diri; pembunuhan massal karena kebencian terhadap satu komunitas yang disebut dengan genosida; perasaan dendam sehingga berani melakukan pembunuhan atas kemarahannya;  kemarahan massal terhadap seseorang seperti penangkapan pencuri di siang bolong.  

Semua agama melarang keras pembunuhan tanpa ada alasan. Karena itu pelaku pembunuhan harus diberikan sanksi yang setimpal dengan perbuatannya. Sesungguhnya sanksi pembunuhan yang diterapkan dalam Islam untuk mencegah pembunuhan. Islam sendiri menegaskan bahwa siapapun yang dibunuh juga harus dibunuh agar hukuman tersebut menjadi pelajaran bagi orang lain.

Islam juga menempatkan perlindungan terhadap jiwa seseorang sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan dan perlindungan jiwa merupakan salah satu tujuan syariat. Oleh karena itu, para fuqoha seperti Imam Syafii, Hanafi, Hanbali dan Maliki sepakat bahwa pembunuhan yang dilakukan secara sengaja hukumannya adalah qisas dan pembunuhan yang dilakukan secara tidak sengaja hukumannya adalah membayar diyah. 

Comment

LEAVE A COMMENT