Mencaci Sesama Muslim adalah Fasik, Memeranginya adalah Kufur

Mencaci Sesama Muslim adalah Fasik, Memeranginya adalah Kufur

Sangat miris, kondisi umat Islam saat ini. Mereka mudah terjebak pada saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri karena perbedaan. Ketidakdewasaan dalam menyikap perbedaan pendapat, pandangan, pemikiran dan sikap telah menghantarkan pada sikap yang tidak terpuji seperti mencela dan mencaci maki sesama muslim. Bahkan dalam tingkatan yang lebih sadis hinga melakukan penyerangan dan pembunuhan sesama umat Islam.

Sungguh sikap demikian sudah di luar batas nilai dan prinsip Islam yang diajarkan oleh Nabi tentang persaudaraan sesama umat Islam.  Hari ini sesama umat Islam saling mencela, mencaci, menghujat, bahkan saling menyerang hanya karena semisal pandangan politik. Di Negara muslim yang penuh konflik, umat Islam justru mempertontonkan kesadisan dengan saling menyerang, membunuh dan melukai atas nama perjuangan yang mereka yakini suci.

Nabi sangat menekankan ikatan persaudaraan yang kuat sesama Umat Islam. Persaudaraan sesama umat Islam ibarat bangunan yang kokoh dan tidak mudah roboh apalagi tercerai berai. Untuk merawat ikatan persaudaraan ini Nabi bahkan memberikan peringatan keras terhadap siapapun yang berupaya untuk merusak ikatan tersebut.

Dalam sebuah hadist dari dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah saw bersabda, "Mencaci maki orang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur. ( HR Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i). Peringatan ini sangat keras dengan memberikan label fasik terhadap mereka yang mencela sesama muslim dan memberikan label kufur terhadap mereka yang jelas memerangi dan membunuh sesama muslim tanpa hak.

Baca juga : Manusia Berpotensi Saling Membunuh, Inilah Cara Islam Menanggulangi

Sifat fasik secara bahasa berarti keluar dan secara syar’I adalah keluar dari ketaatan. Sehingga umat Islam yang berani mencaci maki umat Islam lainnya sesungguhnya telah keluar dari ketaatan terhadap ajaran Islam. Sedangkan kata kufur berarti suatu sikap yang mengingkari dan melawan terhadap Islam.

Lalu, apakah orang Islam yang menyerang orang Islam lainnya berarti menjadi kafir? Ada perbedaan pendapat ulama dalam menafsirkan kekufuran tersebut. Menurut pendapat sebagian ulama tindakan tersebut hanya pada taraf perbuatan yang menghantarkan kepada kekufuran bukan dalam pengertian kafir yang dapat mengeluarkannya dari Islam. Artinya, perbuatan orang Islam yang menyerang saudaranya sama seperti perbuatan orang kafir. Ia sungguh menjadi kafir apabila ia beranggapan bahwa perbuatan menyerang dan membunuh tersebut sebagai kebolehan.

Jangan Kembali pada Kekafiran dengan Saling Membunuh

Nabi sepertinya sudah memprediksi bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan mudah saling menyalahkan, mencaci maki bahkan saling membunuh. Dalam suatu momen perpisahan Nabi dengan umatnya di peristiwa Haja wada’ Nabi telah memberikan wasiat penting agar umat Islam tidak kembali kekafiran sepeninggal beliau.

Saking pentingnya wasiat ini Rasulullah saw berkata kepada salah seorang shabat pada saat haji wada' "suruhlah manusia agar diam." Kemudian beliau bersabda, "janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku, di mana kalian saling membunuh antara satu dengan yang lain." ( HR Bukhari, Nasa’I dan Ibnu Majah).

Peringatan keras ini disampaikan Nabi pada momentum perpisahan beliau. Saling membunuh sesama muslim merupakan tindakan seperti orang kafir yang selalu memusuhi umat Islam dengan menggunakan pedang. Orang yang melakukan pembunuhan dan penyerangan terhadap sesama muslim tenty sama sama dengan perbuatan orang kafir.

Karena itulah, ikatan persaudaraan sesama umat Islam harus terus dijaga. Perbedaan bukanlah suatu halangan dan hambatan bagi umat Islam untuk selalu mengikat diri dalam persaudaraan dan kerukunan. Atas nama apapun, umat Islam tidak boleh sekali-kali menyerupai perilaku orang kafir yang menyerang dan membunuh umat Islam lainnya.

Wallahu’alam

Comment

  • Sayi
    2 months ago
    Izin save dan share tulisannya kak syukron

LEAVE A COMMENT