Mencegah Kriminalitas atas Nama Jihad

Mencegah Kriminalitas atas Nama Jihad

Adakah perbedaan antara tindakan kriminal dengan “aksi jihad”? Pertanyaan ini sepintas mungkin dianggap salah dan berlebihan. Apalagi, sampai saat ini, kata “jihad”, dalam bahasa agama identik dengan kesungguhan setiap insan dalam meraih sesuatu, atau dalam pengertian yang lazim, bermakna perjuangan membela hak dan martabat, baik individu maupun bangsa.

Namun demikian, makna jihad yang sejatinya mulia itu bisa berubah menjadi kesan negatif, ketika oleh kalangan ekstrimis dipahami secara tekstual, seperti bom bunuh diri, penyerangan/kekerasan atas nama agama, provokasi ujaran kebencian, dan penyebaran berita bohong (hoaks), diklaim sebagai bagian dari implementasi jihad. Dari sinilah, aksi jihad bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal.

Padahal, pengertian jihad tidak semestinya dipahami secara sempit, tetapi harus senantiasa dikembangkan secara luas, yaitu tidak identik dengan perang atau pertempuran. Jika merujuk ke al-Qur’an, Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadzil al-Qur’ani al-Karim menyebutkan bahwa kata jihad dan derivasinya tersebut 41 kali dalam al-Qur’an.

Baca juga : Bagaimana Berjihad Hari ini?

Ayat-ayat jihad dalam konteks perjuangan berjumlah 28 ayat sebagai berikut: al-Baqarah: 218, Ali Imran: 142, an-Nisa’: 95, al-Maidah: 53-54, al-Anfal: 72,74,75, at-Taubah: 16, 19, 20, 24, 41, 44, 73, 81, 86, 88, an-Nahl: 110, al-Hajj: 78, al-Furqan: 52, al-‘Ankabut: 6, 69, Muhammad: 31, al-Hujarat: 15, al-Mumtahanah: 1, ash-Shaf: 11, dan at-Tahrim: 9. Ayat-ayat jihad tersebut sebagaian turun pada periode Mekkah dan sebagian besar lainnya turun pada periode Madinah (Chirzin, 2006: 47-48).

Dalam serpihan ayat-ayat itu, sangat tampak perjuangan melalui jihad yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya tidaklah identik dengan peperangan dan memusuhi orang lain yang tidak sealiran dengan mereka. Pemahaman keliru dalam mengimplementasikan makna jihad tersebut jelas membuat citra agama (terutama Islam) buruk.

Islam, jihad, dan teror

Benarkah ada dalil yang menunjukan bahwa Islam membenarkan tindakan teror? Tidak ada. Yusuf Qardhawi dalam karya monumentalnya berjudul Fiqh al-Jihad (2009) bahkan menolak keras anggapan stereotipe negatif pemaknaan teror yang identik dengan jihad.

Meskipun tindakan teror dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata irhab, bentuk mashdar dari kata arhaba-yurhibu-irhaban, yang maksudnya adalah meneror atau menakut-nakuti orang lain, namun dalam konteks al-Qur’an menurut Qardhawi maknanya adalah perintah agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh.

Jadi makna irhab, bukanlah membunuh, makna asalnya adalah takut. Misalnya dalam dua ayat berikut ini, “Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. al-Baqarah: 40); “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. al-Anfal: 60).

Makna jihad, bagi kelompok teroris dan pendukungnya, dengan demikian sebenarnya telah diselewengkan dan mengalami distorsi yang luar biasa menganga dari tujuan utama, yang mulanya digunakan untuk menyatakan perjuangan seseorang secara pribadi melawan kegagalan dan kelemahan dirinya sendiri, termasuk berperang melawan kebanggaan, ketakutan, kekhawatiran dan prasangka buruk. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Saw. menyatakan bahwa berperang melawan diri sendiri (hawa nafsu) adalah ‘jihad akbar’.

Upaya memahami dan mengimplemantasikan makna jihad dibutuhkan langkah strategis, taktis dan konstruktif agar memperoleh relevansi dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi sekarang. Menyantuni orang miskin, bekerja mencari nafkah, menjaga persatuan bangsa, tidak melakukan suap, menolak korupsi, dan lain-lain, juga termasuk bagian dari jihad.

Jadi, makna jihad sejatinya tidak dipahami sebagai pemahaman yang berujung pada perang dan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap “musuh”. Jika ini masih dilanggengkan, maka sama saja telah melakukan pembajakan terhadap kalam Allah Swt., melakukan legitimasi tindakan kriminal atas nama jihad. 


*Ali Usman

Comment

LEAVE A COMMENT