Misi Manusia di Bumi

Mengenal Tiga Misi Manusia di Bumi ini

Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi mempunyai kelebihan dan kelemahan tersendiri. Semuanya menyimpan rahasia dan tujuan yang harus diungkap, serta digali agar terkuak rahasia keagungan Allah sebagai Sang Pencipta.

Hal ini seperti dipaparkan oleh ar-Raghib al-Asbihani dalam kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim as-Syariah bahwa Allah menciptakan manusia ke dunia ini mempunyai tiga misi khusus, yaitu:

Pertama, untuk memakmurkan bumi (Imarat al-Ardi), hal ini seperti keterangan dalam Surat Hud: 61 yang berbunyi:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ (61)

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”.

Menurut Imam Ibnu Kasir dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari saripati tanah dan menjadikannya sebagai orang yang memakmurkan dan mengisinya dengan perbuatan baik, tak seperti orang-orang terdahulu yaitu Banul Jann (keturunan Jann) yang telah melakukan banyak dosa, serta merusak bumi ini.

Baca juga : Nabi Adam Turun ke Bumi dan Kisah Air Mata Taubat 

Kedua, untuk beribadah kepada Allah. Pada dasarnya Allah menciptakan manusia sebagai penghuni bumi ini tidak lain untuk mengabdi, menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Ini bertujuan agar terjalin hubungan yang intens diantara manusia dengan Penciptanya. Ini sesuai dengan Surat Adz-Dzariyat: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Imam al-Qurthubi dalam Tafsirnya mengutip perkataan Sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan Jin dan Manusia melainkan diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya.

Ketiga, manusia bertugas sebagai Khalifah (Pemimpin) bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan petunjuk dari Allah, manusia hendak mewujudkan keadilan di segala lini kehidupan. Hal ini sesuai keterangan dalam Surat al-A’raf:129:

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (129)

“Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu.”

Menurut Imam At-Tabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menjadikan manusia sebagai pengganti umat sebelumnya yang telah dihancurkan oleh Allah. Sedangkan menurut imam al-Mawardi menjelaskan bahwa ayat ini berisi tentang dua anjuran Nabi kepada umatnya. Pertama, janji akan kemenangan. Kedua, larangan untuk tidak berbuat onar, kerusakan di muka bumi ini.

Maka dari itu, bila ketiga misi khusus manusia tak terlaksana maka harga diri manusia akan terjatuh, menjadi lebih hina daripada hewan melata. Dengan demikian manusia harus sadar akan tujuan diciptakannya, serta selalu menambah ilmu agar semakin mengenal Penciptanya dan mampu bergaul dengan baik dengan sesama manusia maupun makhluk yang lain sehingga terwujud sebuah tatanan kehidupan yang adil dan sentosa, karena tujuan utama diutusnya para Utusan Allah tidak lain untuk mewujudkan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan meliputi ekonomi, sosial, politik.

Oleh: Moh Afif Sholeh

 

Comment

LEAVE A COMMENT