Mengukur Nilai kemanusiaan dalam Islam

Dalam satu komunitas, agama seringkali menjadi pemicu ketidakharmonisan, apalagi jika salah satunya ingin lebih menonjol dari pada pemeluk agama lain. Akibatnya, muncul terma-terma minoritas dan mayoritas yang seringkali menjadi alasan untuk menguasai yang lain. Yang mayoritas seringkali ingin mendominasi yang minoritas baik secara ekonomi, politik dan sosial budaya. Sebaliknya yang minoritas tidak rela didominasi oleh mayoritas, akan tetapi harus memiliki hak yang sama dengan yang mayoritas.

Kemanusiaan sebagai salah satu common sense seringkali luput dari perhatian ketika berbicara tentang mayoritas dan minoritas. Padahal nilai-nilai kemanusiaan dalam Alquran cukup sarat dibanding terma-terma mayoritas dan minoritas yang hampir tidak ditemukan dalam Alqur’an. Qur’an hanya menyinggung sekali saja, itupun lebih mengindikasikan kesamaan semua etnis, suku dan bangsa yang menjadi tolak ukur dalam menentukan mayoritas dan minoritas dewasa ini.

Secara teori dan praktek, konsep kemanusiaan sebenarnya memiliki posisi sangat penting dalam Islam. Bahkan Islam dan agama sebelumnya datang untuk memanusiakan manusia agar antara satu dengan yang lain tidak saling mendzalimi dan menguasai. Semua berjalan di muka bumi sama sebagai ciptaan Allah dan hanya keimananlah yang akan membedakan mereka di hari kemudian.

Baca juga :  Fungsi Masjid untuk Politik Keumatan, bukan Politik Pecah Belah Umat

Sebagai ciptaan Allah, manusia memiliki hubungan erat dengan aqidah, syariat dan moral.  Ketiga hal itu semuanya menjadi kewajiban manusia. Manusia harus beraqidah agar ia dapat memahami esksistensi dirinya sebagai manusia. Manusia harus bersyariah agar mereka paham bahwa antara satu dengan yang lain memiliki hak dan kewajiban baik sesama manusia maupun terhadap tuhanNya dan manusia harus bermoral agar mereka saling menghargai dan menghormati dan saling mencintai antara satu degan yang lain, tanpa ketiga hal tersebut manusia bukanlah manusia, tetapi tidak lebih dengan makhluk lainnya.

Dalam hal aqidah makhluk dan khalik harus dibedakan. Manusia adalah makhluk yang diciptakan yang diwajibkan untuk menyembah kepada penciptanya dan Allah adalah pencipta yang harus disembah semua makhluk. Mereka yang mengerti nilai kemanusiaan akan memahami dirinya dan posisinya  sebagai hamba Allah dan sebaliknya mereka yang tidak memahami  posisi dan kedudukannya sebagai  manusia akan menempatkan dirinya sebagai manusia di atas manusia. 

Di sinilah sering kali terjadi pelanggaran-pelanggaran ketika seseorang menempatkan dirinya di atas orang lain. Dan inipulah  yang paling dibenci oleh Allah sehingga diutuslah nabi-nabiNya ke muka bumi agar mengharmonisasikan kehidupan umat manusia tanpa ada perbedaan antara satu dengan yang lain.

Manusia adalah pelaksana syariat. Merekalah yang menjalankan ketentuan-ketentuan syariat yang ditetapkan oleh Allah baik itu yang terkait dengan dirinya sendiri atau dengan orang  lain dan juga terhadap alam semesta di sekitarnya termasuk bagaimana memanfaatkan makhluk hidup lainnya seperti hewan. Penetapan syariat ini agar manusia memahami kedudukan, hak dan kewajibannya sehingga keseimbangan hidup dalam satu komunitas dapat selalu berjalan optimal. Oleh karena itu, syariat tidak akan ada jika manusia tidak ada begitupula sebaliknya bahwa manusia tidak akan hidup sebagai manusia jika tidak ada syariat.

Demikian pula halnya dengan akhlak dan moral yang sangat erat kaitannya dengan manusia. Bahkan dalam Islam sendiri ditegaskan bahwa sesungguhnya nabi Muhammad Saw diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak di muka bumi. Akhlak di sini bukan terbatas pada tatakrama terhadap sesama manusia, tetapi lebih dari itu akhlak dan moral di sini adalah bagaimana seseorang menghormati perbedaan dan menerimanya sebagai sunnatullah tanpa harus memarginalisasi yang berbeda dengan kita.

Tiga prinsip utama yang telah ditetapkan oleh Islam tadi di atas sejatinya selalu menjadi barometer dalam menentukan kebijakan-kebijakan publik di tengah-tengah masyarakat dewasa ini. Apalagi di era moderen ini manusia ibarat hidup dalam satu ruang bersama sehingga apapun kebijakan yang akan diterapkan harus selalu menjadikan kemanusiaan dan kewarganegaraan yang menjadi common sense sebagai pijakan dan standar kebijakan apapun. Sehingga dalam ruang bersama itu tidak ada gesekan antara satu dengan yang lain. Sebagaimana halnya Rasulullah Saw yang telah menetapkan hak-hak kewarganegaraan sebagai sumber utama dalam menjamin kelangsungan hidup di Madinah yang lebih harmonis.

Comment

LEAVE A COMMENT