Menjadi Bertaqwa dengan Memperkokoh Persaudaraan

Menjadi Bertaqwa dengan Memperkokoh Persaudaraan

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. A-Hujurat: 10)

Firman Allah ini menjadi pesan sangat penting bagi umat Islam untuk selalu menguatkan persaudaraan. Kita bisa belajar kisah hidup Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dalam mempratikkan persahabatan dan persaudaraan. Ketika datang di Madinah bersama para sahabatnya, pertama-tama yang dilakukan Nabi Muhammad adalah mempersaudarakan antara kaum muhajirin (Mekah) dan kaum ansor (Madinah). Ikatan persaudaraan betul-betul menancap kuat, lahir-batin, dalam diri semua sahabat Nabi.

Dalam Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah az-Zuhaili, ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah saudara di dalam agama, dan persaudaraan ini diwajibkan bagi mereka untuk mencintai saudara sebagaimana dia menintai dirinya sendiri, dan membenci apa yang ada dalam saudaranya sebagaimana ia membenci atas dirinya sendiri. Makanya, kalau sampai terjadi perselisihan (bermusuhan atau brerang), maka wajib untuk mendamaikan keduanya. Kemudian, mengajak mereka yang berselisih agar takut kepada siksa Allah dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Sementara dalam kitab An-Nafahat al-Makkiyah karya Syekh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dijelaskan bahwa persaudaraan antara orang beriman adalah ikatan yang diciptakan Allah. Ikatan ini melintasi batas-batas daerah. Di mana saja berada, kalau beriman maka itu adalah saudara. Saudara jangan pernah melukai, membenci, atau merugikan. Saudara harus saling damai, saling menjaga dan membuat kebaikan. Ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad berikut:

“Jangan kamu saling hasad, saling najsy (menipu agar barang dagangan laku), saling marah, saling membelakangi dan jangan kamu menjual barang yang sudah dijual oleh orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim yang satu dengan lainnya adalah bersaudara, tidak boleh dizalimi, ditelantarkan dan dihinakan. Takwa itu di sini, -Beliau berisyarat ke dadanya- 3X, “Cukuplah seseorang telah melakukan kejahatan kalau menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim adalah terpelihara darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Baca juga : Merajut Keakraban dalam Perbedaan

Dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad juga menegaskan: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan, di mana yang satu dengan yang lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Persaudaraan Basis Persatuan

Dengan persaudaraan inilah, Nabi menegaskan kita harus saling “menguatkan”. Ini bermakna persaudaraan adalah basis persatuan. Tanpa persaudaraan, tak mungkin persatuan bisa diwujudkan. Tanpa adanya persatuan, maka tak mungkin suatu bangsa bisa membangun peradabannya. Tanpa persatuan, tidak bisa suatu bangsa mendirikan sekolah, pesantren, rumah sakit, jalan raya, dan lain sebagainya. Apa yang dinikmati generasi saat ini, berupa bangsa Indonesia adalah wujud persatuan para pendiri bangsa, sehingga berdirilah berbagai macam fasilitas kehidupan.

Syekh Muhammad bin Shalih asy-Syawi juga menegaskan bahwa QS Al-Hujurat ayat 10 ini memberikan pelajaran sangat berharga. Pertama, berperang antara kaum mukmin bertentangan dengan ukhuwwah (persaudaraan) seiman. Oleh karena itu, hal tersebut termasuk dosa yang besar. Kedua,  iman dan persaudaraan seiman tidaklah hilang meskipun terjadi peperangan sebagaimana jika terjadi dosa-dosa besar yang lain di bawah syirk. Ketiga, wajibnya mendamaikan kaum mukmin yang bertengkar dengan adil. Keempat, wajibnya memerangi pemberontak agar mereka kembali kepada perintah Allah.

Dalam perspektif lain, fakta sejarah sudah mengajarkan kita semua bahwa persaudaraan yang dibangun Nabi Muhammad bukanlah persaudaraan antara muhajirin dan ansor saja, melainkan persaudaraan semua penduduk Madinah saat itu. Semua diajak Nabi menjadi saudara, sehingga terciptalah tatanan kehidupan bersama dengan semua anak bangsa.

Dalam konteks ini, tepat yang disampaikan Prof Quraish Shihab, pengarang tafsir Al-Misbah, bahwa manusia ada dua: saudaramu dalam agama atau mitramu dalam kemanusiaan. Kata-kata ini berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib yang disebutkannya dalam sepucuk surat yang dia kirimkan kepada gubernur Mesir, Al-Asytar an-Nakha‘i, saat Imam Ali menjabat sebagai khalifah pada abad ke-7 Masehi (656-661 M).

Bagi Prof Quraish, dalam al-Qur’an, kata ikhwān (saudara) muncul lebih dari sekali. Terkadang disandingkan dengan kata ad-dīn (agama) dan sekali waktu tidak disandingkan. Bahkan, para rasul yang diutus kepada umat mereka disebut dalam al-Qur’an dengan istilah akh (saudara) meskipun umat-umat itu menolak kerasulan mereka bahkan memusuhi mereka. Allah swt. berfirman, “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh”; “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud”; “Dan kepada kaum Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib.”

Di saat yang bersamaan, Allah SWT berfirman, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13).

Bagi Prof Quraish, ayat ini menegaskan bahwa dari saling mengenal akan lahir pengakuan dan kerjasama. Dari saling mengenal akan muncul saling menghormati. Menghormati tidak selamanya identik dengan menerima pandangan orang lain, apalagi meridai, menyukai, atau mengikutinya. Akan tetapi, yang dimaksud menghormati adalah menerima orang lain untuk hidup berdampingan dalam suasana damai demi kemaslahatan bersama tanpa mengusik agama dan kepercayaan masing-masing.

Orang-orang yang mampu menjaga persaudaraan inilah yang termasuk mengantarkan dirinya meraih ketakwaan di sisi Allah SWT. Akhir QS Al-Hujurat ayat 10 ini menegaskan itu, bahwa mereka yang saling bersaudara akan meraih takwa, dan karena takwa itulah mereka adalah rahmat (kasih sayang) dari Allah SWT.

*Muhammadun, takmir Masjid Azzahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul DIY.

Comment

LEAVE A COMMENT