Merajut Keakraban dalam Perbedaan

Merajut Keakraban dalam Perbedaan

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup ini. Pastilah mustahil untuk menyeragamkan apalagi memaksakan pihak lain berlaku sama dengan yang kita gandrungi atau tengah kita anut. Jika kerangka seperti ini tertanam dengan baik dalam kesadaran berpikir dan bertindak, kita akan terhindarkan dari kohesi sosial destruktif yang hanya berbuntut perseteruan.

Belakangan, rajutan keakraban banyak memudar seiring dengan polarisasi paradigma "kita" dan "mereka" yang, tak ayal, mengoyak kebersahajaan. Bukan hanya meliputi dimensi keagamaan, melainkan juga merambah persoalan sosial-politik.

Dalam ranah keagamaan, persoalan yang mengemuka lebih tertuju pada aspek keberagamaan (tadayyun) daripada aspek agama (din) itu sendiri. Aspek terakhir yang sakral dan humanis digiring ke kubangan yang berkebalikan dengan nilai intrinsik agama itu sendiri. Agama yang memanusiakan acap dijelmakan dalam wujud yang "beringas". Mengatasnamakan agama, klaim kebenaran dikapling secara subjektif dan diejawantah tanpa peduli rambu sosial-kemasyarakatan.

Klaim “Kita” dan “Mereka”

Kita bisa merujuk pada persoalan perbedaan praktik ritual keislaman di tengah masyarakat. Hanya karena perbedaan yang bersifat cabang (furu'iyah/bukan fundamental), seseorang atau kelompok tertentu dengan leluasa menghakimi sesat pihak lain yang berbeda dengannya. Bahkan, ada saja yang berakhir dengan ketidakharmonisan bermasyarakat dalam bentuk konflik horizontal yang berkepanjangan.

Baca juga : Mengajari Kembali Umat dengan Membiasakan Perbedaan

Adalah dimensi pengetahuan yang menjadi prasyarat menghindari persoalan di atas. Diperlukan upaya pencerahan yang masif dan proporsional terhadap masyarakat untuk literasi perbedaan; mana yang berkategori keberagamaan (tadayyun) dan agama (din).

Kapasitas personal dan intelektual pihak yang mengajarkan agama di tengah masyarakat (di luar konteks akademik) menjadi sebuah keharusan. Jejak keilmuan yang mumpuni, keteladanan, disertai wawasan sosial dan kebangsaan harus dimiliki seorang yang mengajarkan agama. Objektivitas dalam menyajikan perihal perbedaan yang terjadi sangat diharapkan. Uraian berimbang dengan sumber data yang otoritatif disertai spirit "kebenaran" (bukan "pembenaran") akan menjadi sarana efektif dan bijak dalam merespons perbedaan. Tidak cukup bermodalkan ketenaran dan "semangat dakwah" semata dalam membumikan humanitas dalam beragama.

Buku Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, yang tenar itu menjadi jawaban akan realitas kekinian dalam praktik keberagamaan. Salah satu dari lima faktor yang diulasnya adalah klaim kebenaran yang absolut (absolute truth claims). Ketika klaim seperti ini terjadi, berarti kesombongan dan kepicikan berpikir tengah menggelayuti sanubari pelakunya. Boleh jadi, ia sedang dilanda "mabok agama" yang memudahkannya menyalahkan setiap yang berbeda dengannya. Kekerasan atas nama agama sering kali menjadi buah dari tindakannya. Sebuah kesalehan subjektif yang hanya menjatuhkan martabat agama.

Akhirnya, polarisasi antara "kita" dan "mereka" menjadi paradigma yang mendasari interaksinya dengan orang lain. Implikasinya, selalu ada rasa curiga, buruk sangka, dan mencari-cari kesalahan pihak lain. Dengan begitu, peluang berinteraksi justeru menjadi sempit dan terbatas. Dan, itu merupakan penyakit yang harus disembuhkan.

Menjunjung Langit

Contoh keteladanan dipraktikkan oleh Imam al-Syafi'i yang di suatu ketika berkunjung ke sebuah wilayah yang menganut Mazhab Imam Malik. Ketika didaulat menjadi imam shalat subuh, Imam al-Syafi'i tidak mempraktikkan tata cara qunut yang sering dipraktikkannya, tetapi mengikuti pendapat mendiang gurunya, Imam Malik, yang notabene berbeda dengannya dalam urusan tersebut.

Peristiwa tersebut memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa mengutamakan kepentingan orang banyak jauh lebih bermanfaat ketimbang sikap egois dan bersikukuh dengan pendapat sendiri. Tentulah akan terjadi "gunjingan" jika ia teguh pada pendapatnya.

Prinsip ini menjadi penting dipahami bersama supaya meminimalisasi perseteruan di tengah masyarakat, khususnya masyarakat awam. Pijakan dengan tetap menjunjung anutan bersama yang baik dan tidak melenceng dari garisan agama adalah langkah bijak untuk memelihara keseimbangan sosial.

Hal tak kalah pentingnya, mencari titik temu alias persamaan jauh lebih konstruktif daripada terus mengusik perbedaan. Selanjutnya, kesadaran akan persamaan dijadikan bekal untuk menjaga kebersamaan yang lebih produktif.


*Syahrullah Iskandar (Ketua DKM Bayt ar-Rahman Sawangan Village Depok)

Comment

LEAVE A COMMENT