Misi Rasul Menyebar Rahmat, Bukan Membangun Kekuasaan

Nabi Muhammad SAW merupakan nabi sekaligus rasul yang diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda “Innamal Buistu Liutammima Makarimal Ahklaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki ahlaq). Oleh karenanya kerasulan beliau adalah untuk membawa agama perdamaian yaitu Islam.

Kerasulan yang diemban oleh Nabi Muhammad tidak lantas menjadikan beliau semena-mena dalam memutuskan perkara. Beliau tetap bepegang pada wahyu yang diturunkan oleh Allah sebagai tuntunan kehidupan. Pun termasuk ketika beliau menjadi seorang pemimpin agama sekaligus kepala pemerintahan.

Dalam menjalankan roda pemerintahan Nabi Muhammad SAW dikenal sangat menjunjung tinggi keadilan dan melindungi semua penduduk termasuk yang nonmuslim baik Yahudi maupun Kristian. Di sisi lain beliau merupakan kekasih Allah SWT yang sangat lembut dan penyayang.

Selama memerintah semua penduduk merasa aman dan tentram di bawah naungan kepemimpinan Nabi. Untuk memberikan jaminan keadilan dan rasa aman terhadap masyarakatnya Nabi melarang untuk menjelek-jelekkkan sesembahan orang lain, bahkan termaktub dalam firman Allah SWT pada surah al-An’am : 108 :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Al-An’am : 108)

Pada ayat yang lain Allah SWT mempertegas landasan mengapa nabi Muhammad SAW tidak diperkenankan memaksa setiap masyarakat untuk patuh dan mengikuti terhadap agama yang diemban beliau sebagai seorang rasul.

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (QS. Yunus : 99).

Nabi Muhammad SAW selama mengemban kerasulan dan menjalankan roda pemerintahan tidak pernah memberikan perintah untuk menggunakan satu sistem tertentu termasuk sistem khilafah seperti yang diperjuangkan oleh sebagian kelompok. Nabi Muhammad SAW diutus justru untuk memperbaiki ahlak sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam tanpa terkeculi, hal ini kemudian Allah SWT tegaskan dalam surah al-Anbiya 107 :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya : 107).

Sumber utama dan pedoman bagi umat Islam yaitu Al-Quran dan Hadist tidak menyebutkan secara detail mengenai sistem pemerintahan yang harus dijalankan oleh umat Islam. Bahkan dalam tinjauan sejarah kemudian mencatat Nabi tidak pernah memberikan pesan terlebih menunjuk siapa penggantinya setelah beliau wafat, termasuk bagaimana sistem pemilihan pengganti Rasul.

Baca juga : Menolak Khilafah, Menolak Ajaran Islam?

Ketika nabi wafat para sahabat kebingungan siapa yang akan menjadi pengganti. Kemudian bermusyawarahlah para sahabat di Saqifah Bani Sa’idah yang kemudian dicapai kesepakatan untuk menetapkan sahabat Abu Bakar sebagai pengganti nabi Muhammad.  

Pada masa-masa selanjutnya pemilihan pemimpin dilakukan secara berbeda-beda. Sahabat Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab. Kemudian berubah lagi karena sahabat Umar bin Khattab membentuk sebuah dewan untuk memilih penggantinya yang akhirnya jatuh pada sahabat Ustman bin Affan. Khalifah ketiga merubah lagi sistem yang ada, sahabat Ustman bin Affan tidak lagi menggunakan dewan khusus sehingga kemudian masyarakat Madinah bergerak sendiri untuk membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Masa yang dikenal dengan era khilafah ar-rasyidah ini tidak menunjukkan tentang sistem yang dianut secara baku dalam ajaran Islam.

Di masa selanjutnya kekuasaan berada dalam genggaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mu’awiyah tidak membentuk dewan khusus ataupun dibaiat secara langsung oleh masyarakat dalam menentukan pemimpin selanjutnya. Namun, menunjuk putranya Yazid sebagai khalifah. Semenjak itulah sistem pemerintahan berubah menjadi kerajaan.

Periode selanjutnya, terjadi perebutan kekuasaan dengan menggunakan cara paksa. Bani Abbasiyah merebut kekuasaan dari Bani Umayyah, sistem karajaan tersebut bertahan hingga akhirnya khalifah yang muncul silih berganti selesai pada masa Turki Utsmani.

Kembali kepada misi Rasul sebagai pembawa rahmatan lil alamin, sejatinya Nabi tidak pernah memberikan panduan resmi dan baku dalam persoalan bentuk politik pemerintahan. Kreasi sahabat dan tabi’in yang selanjutnya menentukan dalam sistem formasi pemerintahan. Tujuannya adalah sebenarnya menerjemahkan islam rahmatan lil alamin dalam bidang politik.

Para tokoh dan pemikir Islam menerjemahkan ijtihadnya dalam kitab siyasah Islam yang juga secara eksplisit tidak menentukan bentuk formal pemerintahan Islam. Ulama dengan melihat fakta dinamika pemerintahan dalam Islam hanya merangkum idealitas pemerintahan Islam. Namun secara faktual tidak ada keseragaman dalam menentukan format pemerintahan dan pemilihan apalagi kewajiban berdirinya khilafah.

Hal yang paling pokok dicatat bahwa Islam hanya mewajibakan adanya kepemimpinan. Kepemimpinan inilah yang diterjemahkan secara beragam dalam bentuk tafsir yang berbeda-beda. Karena itulah, merupakan kekhilafan para pengusung khilafah jika hendak memaksakan keseragaman politik umat Islam saat ini yang sudah tersebar di belahan dunia. Karenanya tidak mengherankan gerakan khilafah ini di berbagai negara justru ditolak.

Wallahu a’lam bisshawab.

Comment

LEAVE A COMMENT