Peduli Muslim Uighur: Pentingnya Tabayyun dan Tatsbbut Demi Solidaritas Islam

Peduli Muslim Uighur: Pentingnya Tabayyun dan Tatsbbut Demi Solidaritas Islam

Memahami Big Lie dalam Ruang Informasi Maya

Agak ngeri-ngeri sedap jika berbicara tentang peristiwa yang terkait dengan permasalahan agama sekarang ini. Salah ucap, salah menyimpulkan apalagi berbeda pendapat tanpa tedeng aling-aling  langsung saja dicap kafir, murtad, musyrik  nempel di jidat kita. Kalau sudah dicap seperti itu kemudian diamini orang banyak (padahal kelompoknya) ya seolah menjadi benarlah cap tersebut. Bahasa modernnya sekarang lagi musim stigmatisasi terhadap kelompok maupun orang yang bukan bagiannya.

Mengutip kata menteri propaganda Nazi Joseph Goebbels “Kebohongan yang berulang-ulang jika disampaikan terus menerus akan dianggap sebagai kebenaran”.  Sejak lama Goebbels menggunakan strategi Big Lie (kebohongan besar) lewat media, radio, dan film baik untuk tujuan indoktrinasi maupun penghancuran dan penyerangan. Korban perang saat itu mencapat 17 Juta jiwa.

Mengerikan sekali. Bisa terbayang jika strategi Big Lie dimainkan di era informasi teknologi saat ini.  Informasi mengalir deras lewat media sosial Facebook, Whatsapp, Telegram mungkin saja puluhan kali lipat akan menimbulkan korban jiwa.

Big Lie muncul hampir di semua platform media. Data yang disajikan Dailysocial,id mengungkap 77,76 persen orang menerima informasi tidak diverifikasi lagi, tapi langsung diforward. Kemudian yang terbesar seseorang menerima informasi Hoak melalui Facebook 81,25 persen, Whatsapp 56,55 persen dan Instagram 29,48%. Kemenkominfo bahkan merilis ada sekitar 800.000 situs menyebarkan Hoak di dunia maya.

Baca juga : 4 Hal yang Perlu Diketahui, sebelum Membela Nasib Muslim Uighur

Agak sulit rasanya mendeteksi, melacak dan memverifikasi informasi yang datang di gadget kita. Sebagian besar 44, 19 persen (Dailysoscial) kita tidak memiliki kepiawaian dalam melakukanya. Istilahnya selain gak ada waktu, harus membandingkan sumber informasi dengan berbagai platform media, mengetahui penulisnya, mengkonfirmasi, sampai mungkin harus baca buku lagi untuk memutuskan benar atau tidak informasi tersebut.

Masyarakat milenial tidak bisa dilepaskan dari gadget. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur atau tidak bisa tidur, gadget selalu dalam genggaman. Semua informasi mengalir deras lewat aplikasi baik melalui group aplikasi chating (sosial mesangger), aplikasi media sosial atau sekedar berselancar di google untuk membaca berita. Semua informasi sosial, hukum, politik, ekonomi, entertainment, hingga agama mudah didapatkan. Yang favorit tentu saja informasi menyangkut agama karena itu terkait hal yang sangat pribadi dengan diri kita sendiri.

Menyikapi Informasi Agama yang Menggugah Emosi

Kalau sudah bicara agama, pemikiran kita melampaui dunia dan akhirat. Agak sensitif dan kita mudah sekali bereaksi. Tentu saja siapa yang tidak marah kalau agamanya dihina, kelompok seagamanya disakiti, ajaranya disalah-salahkan, otomatis siapapun akan bereaksi. Sudah sejak lama dan berulang kali manusia konflik karena persoalan agama, baik karena perbedaan aliran, mazhab maupun faktor kekuasaan yang sering sekali menjadikan agama hanya sebagai alat.

Perihal informasi keagamaan kita semua sama-sama tahu bahwa hari ini ruang informasi dipenuhi dengan hal terkait Uighur, salah satu komunitas Muslim di Xinjiang RRC.  Informasi beredar di seluruh media sosial Facebook, Tweeter, Whatsapp, Telegram bahkan sampai upaya melakukan aksi solidaritas di kedubes RRC. Menyikapi informasi tersebut bagaimana kita seharusnya bersikap sebagai sesama muslim? apa yang mendasari sikap kita tersebut? apa alat kita untuk memutuskan harus melakukan apa?

Sering sekali kita lupa sebagai muslim kita semua sudah diberi rambu-rambu aturan dari Allah SWT kemudian juga diajarkan Nabi Muhammad SAW bagaimana menerima dan bereaksi terhadap informasi seperti Uighur. Sesungguhnya kita umat Islam diperintahkan untuk “TABAYYUN Dan TATSABUT seperti Yang dipesankan Al Quran :

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. (al-Hujurât : 6)  dan Hai orang-orang yang beriman, jauhilah Kalian dari kebanyakan Prasangkaan (kecurigaan), Sesungguhnya  sebagian dari prasangkaan itu dosa. (Al-Hujurat ; 12).

Apa yang dimaksud tabayyun? Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan tabayyun tabayyun adalah kegiatan memeriksa dengan teliti dan yang dimaksud dengan tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa, melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” (Fathul Qadir, 5:65).

Menjadi Muslim Cerdas dengan Proses Tabayyun dan Tatsabbut

Kita sebagai manusia akan bereaksi terhadap apapun yang menghampiri kita apalagi jika itu menyangkut dengan agama. Namun, alangkah arif dan eloknya kita sebagai muslim apabila tetap berpegangan kepada tali Allah Al Quran Surat Al Hujarat tersebut dan pesan Imam As Syaukani untuk tetap Tabayyun dan Tatsabut. Hari ini kita sebagai muslim mendapatkan informasi bahwa saudara kita di Xinjiang diperlukan tidak adil dan dipaksa menjadi komunis, dilecehkan dan berbagai hal negatif lainnya.

Tentu kita sebagai muslim sebagai saudara seagama wajib membelanya apapun harganya. Namun yang menjadi catatan besar kita sebagai muslim apakah informasi tersebut sudah kita dapatkan melalui proses tabayyun ??? Kita sendiri harus jujur apakah kita pernah melihat langsung pembantaian tersebut? Pernahkan kita menginvestigasi ke Xinjiang, ataukah kita sudah melakukan penelusuran terhadap informasi tersebut? Atau kita sudah mendapatkan sumber yang dipercaya untuk mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut?

Jarak Indonesia dengan Xinjiang kalau berjalan kaki mungkin satu tahun baru sampai disana. Sudah barang tentu kita hanya mengetahui informasi tersebut melalui pendapat-pendapat orang di media sosial, atau hasil copy paste dari informasi yang di sebar di group- group sosial mesanger seperti Whatsapp. Kalau agak sedikit intelek ya kita membaca informasi tersebut melalui website berita yang kredibel, kemudian yang agak pintar mungkin mengetahui informasi tersebut dengan cara membaca media-media yang berbahasa Inggris atau bahasa Mandarin.

Menjadi perenungan dari Al Quran bahwa kita umat Islam wajib melakukan tabayyun dan tatsabut, memeriksa, meneiliti informasi tersebut dan tidak tergesa-gesa serta berhati hati dalam mengambil kesimpulan hingga semua menjadi terang dan jelas. Jangan sampai informasi  tersebut berasal dari orang fasik yang ingin memperkeruh kedamaian dan memancing kemarahan umat Islam. Jangan sampai sikap ingin melakukan solidaritas terhadap muslim di sana justru merusak persaudaraan di dalam negeri.

Lihatlah contoh ormas-ormas Islam Indonesia pada rilisnya yang sangat mengedepankan sikapTabayyun pada pers rilisnya. Muhammadiyah, misalnya, menegaskan “Jika kekerasan yang diberitakan oleh media massa dan lembaga-lembaga HAM dan Kemanusiaan benar adanya… dst. Pada poin akhir menegaskan “menghimbau kepada masyarakat Indonesia khususnya umat Islam agar dalam menggalang solidaritas untuk Uighur tetap mengedepankan kesantunan, perdamaian, dan tetap menjaga kerukunan di antara semua elemen masyarakat.  

Hal senada juga dilakukan oleh Nahdlatul Ulama yang menyatakan:  Jika fakta yang terjadi adalah pelanggaran HAM yang disebabkan oleh motif diskriminasi terhadap sebuah ras tertentu, maka PBNU sangat menyesalkan kejadian tersebut. Tindakan diskriminatif harus dilawan dan dihapuskan, apalagi menyangkut persoalan ras.

Itulah contoh kehati-hatian yang diperlihatkan oleh ormas besar semisal Muhammadiyah dan NU yang tetap menggalang solidaritas tetapi tetap mengedepankan kehati-hatian dalam mencerna informasi dan persaudaraan di Indonesia.

Comment

LEAVE A COMMENT