Pengertian dan Peran Ulama Menurut Imam Ghazali

Pengertian dan Peran Ulama Menurut Imam Ghazali

Kalau yang memberi penilaian hanya orang biasa, tentu akan ragu menerimanya. Karena bukan pangkatnya untuk menentukan seseorang masuk kategori ulama atau bukan. Terma ulama secara tegas disebut oleh al Qur’an dengan sifat ketundukan dan kepatuhan kepada pencipta secara totalitas. Dan secara lebih gamblang, definisi tentang orang yang memiliki keistimewaan di bidang ilmu ini dihadirkan oleh mereka yang memang kepangkatannya layak untuk menilai siapa yang patut disebut ulama.

Salah satunya adalah Imam Ghazali, ulama kelas atas pada masanya hingga kini, mendapat gelar hujjatul Islam karena ilmu yang dimilikinya hampir tidak ada bandingnya. Karya-karyanya dibidang ilmu keiIslaman berjibun, dibaca, dipelajari serta sebagai bahan ajar hingga saat ini. Karena untuk menilai sebuah karya berkualitas atau tidak sangatlah mudah, cuma dilihat karya tersebut bisa bertahan seberapa lama. Sebagai fakta yang tak terbantahkan, apa yang ditulis oleh Imam Ghazali dan para Imam kalangan mujtahid bertahan sampai saat ini. Ya, dalam rentang masa yang cukup lama.

Kembali pada soal siapa ulama. Imam ghazali dalam karya agungnya yang monumental menyebut ciri ulama sebagai orang yang sederhana untuk hal duniawi. Makanan, pakaian dan tempat tinggalnya tergolong sederhana. Tidak bermewah-mewahan dan terlalu berlebihan dalam kenikmatan. Hal ini tidak berarti ia harus hidup miskin. Namun dalam pemanfaatan harta yang dimiliki tidak berlebihan.

Pembagian Ulama

Hujjatul Islam, al Ghazali membagi ulama menjadi dua kategori. Ulama akhirat dan ulama dunia atau ulama su’.  Ulama ulama akhirat adalah ulama pewaris Nabi, mereka yang melanjutkan perjuangan Rasulullah sesuai dengan prinsip ajaran beliau. Sedangkan ulama dunia atau ulama su’, menurutnya adalah ulama yang berorientasi duniawi, pemanfaatan ilmu yang dikuasinya tak lebih hanya untuk memperoleh kemewahan, kenikmatan dan kesenangan dunia. Untuk memperoleh kekuasaan dan kedudukan terhormat di lingkungan masyarakat.

Tipologi ulama kategori su’ ini mendapat teguran serius dari Allah dan Rasulullah. Salah satunya adalah sabda Nabi, “Paling pedihnya adzab dihari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak bermanfaat”. Ungkapan al ghazali ini diperkuat oleh Imam Hasan Basri yang berpandangan, setiap orang alim atau ulama akan mendapat sanksi dan hukuman dari Allah bilamana hatinya mati. Sebab hati menjadi mati karena mencari dunia beralasan dengan perbuatan akhirat. Bicara akhirat untuk kepentingan dunia.

Baca Juga : Memenuhi Kebutuhan Spiritual

Sementara Imam al Naisaburi menyebut ulama su’ sebagai ulama yang melakukan tipu daya kepada orang awam dengan ilmunya. Dan, Ibnu Ajibah menyatakan, bahwa ulama dunia atau ulama su’ adalah mereka yang merasa senang untuk menggapai nikmat dunia dengan ilmu yang dimiliki, seperti mengambil upah sesuai ketentuan atau menerima sogok.

Akan tetapi, apa yang disampaikan oleh imam Ghazali di atas tidak untuk membatasi peran ulama dalam menata dan membina masyarakat. Ulama tetap dituntut mendarma baktikan ilmu yang dimiliki untuk kemajuan peradaban Islam, menciptakan masyarakat yang dinamis secara keilmuan dan ekonomi bahkan pada level kontribusi untuk kemajuan suatu Negara.

Peran Ulama

Dalam pandangannya, peran manusia sebagai khalifah di Bumi ada empat macam. Kalau semua peran tersebut dimainkan, maka manusia akan mampu mencipta suatu peradaban. Peran-peran tersebut yakni; al Zira’ah(pertanian), al Hikayah (industry tekstil), al Bina’ (pembangunan) dan al Siyasah (politik). Sementara, di luar empat model pilar ini, karya-karya buah tangan manusia adalah pelengkapnya.

Al Zira’ah atau  pertanian menjadi penting dalam rangka untuk memenuhi dan mengatur kebutuhan pangan manusia. Sembako  bisa terpenuhi dengan usaha di bidang ini. Wajar  kalau kemudian Islam menempatkan profesi mengolah sawah, kebun dan sawah sebagai usaha mulia. Sedangkan al Hiyakah atau industri tekstil bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sandang. Pakaian dan sejenisnya menempati posisi penting untuk pemenuhan manusia. Secara fitrah manusia butuh untuk menutup auratnya. Berikutnya, al Bina’ atau pembangunan ditujukan untuk mengatur dan melayani kebutuhan tempat tinggal. Dengan begitu, manusia akan merasa nyaman dalam beribadah dan untuk tempat melepas lelah setelah melakukan aktifitas. Dan, politik memenuhi dan mengatur kebutuhan sosial untuk keberlangsungan semua hal di atas.

Politik menurut imam Ghazali memiliki peran yang paling mulia dibanding tiga elemen lainnya. Karena sebagaimana dimaklum, ia memberi peran besar kepada manusia untuk dapat memiliki wewenangan menjaga, mengatur dan menegakkan secara efektif  semua peran pokok manusia di atas. Penguasaan wilayah politik akan lebih mempermudah terbukanya akses pelayanan dan pendayagunaan sumber daya lebih optimal.

Peran politik yang dimaksudkan oleh Imam Ghazali tidaklah terbatas pada ranah kekuasaan saja. Beliau mengklasifikasi peran politik kepada empat kategori. Pertama, peran politik yang diberikan kepada para nabi. Semua utusan yang dikirim Allah ke Bumi dalam rangka memberikan pelayanan lahir dan batin kepada semua umat manusia. Kedua, peran politik para penguasa raja, sultan, khalifah, presiden dan bentuk tahta kekuasaan yang lain.

Dalam wilayah ini politik berfungsi dan memberikan pelayanan lahiriyah duniawi kepada semua manusia yang berada di wilayah kuasanya. Ketiga, peran politik para ulama. Peran penting yang dimainkan ulama ini untuk memberikan pelayanan batiniah, ilmu dan agama kepada semua kalangan masyarakat. Dan keempat, peran para muballigh untuk memberikan pencerahan dan pelayanan ilmu dan agama kepada kalangan masyarakat yang tergolong awam saja.

Selanjutnya, Imam Ghazali mengatakan, dari empat peran tersebut, peran ulama menempati posisi yang paling mulia setelah peran para nabi. Ungkapan ini berdasar pada suatu pernyataan ‘ulama sebagi pewaris Nabi. Dalam kenyatannya memang demikian. Ulama memberikan kontribusi besar dalam pembentukan budaya Islami masyarakat. Membentuk masyarakat menjadi manusia yang terhormat dan bermartabat. Manusia yang berakhlakul karimah.

Pada intinya, kedudukan ulama yang benar-benar ulama memiliki kedudukan mulia dalam pandangan Allah sekaligus kepanjangan tangan Rasulullah untuk menuntun manusia ke jalan Islam sebenarnya. Seandainya Nabi tidak terutus ke dunia, niscaya manusia tak ubahnya seperti binatang. Dan, seandainya tidak ada ulama sebagai pewaris Nabi, manusia akan hidup dalam gelimang kehinaan.

Wallahu A’lam

Comment

LEAVE A COMMENT