Peran Sheikh Omar Al Tilmisani dalam Menyadarkan Kaum Takfiri

Peran Sheikh Omar Al Tilmisani dalam Menyadarkan Kaum Takfiri

Saya adalah bagian dari generasi 1970an yang menikmati kebebasan da'wah yang hal tersebut kami anggap sebagai kemenangan. Namun, saat itu saya tidak pernah menilai bahwa organisasi Islamis lebih kuat dari penguasa. Generasi saya menginginkan didirikannya negara bersama yang dimulai dengan da'wah yang dilanjutkan dengan cepat melalui jalan revolusi Islamis kerakyatan bersenjata.

 

Ternyata, tujuan kami tersebut mendahului ketetapan Allah SWT atas seluruh ciptaanNya. Kami mengakui memang tidak memahami ketetapan Allah SWT yang mengharuskan semua makhluq hidup untuk berkembang dengan teratur sesuai waktu yang ditentukan dan telah ditetapkan kepada manusia, binatang dan tumbuhan.

 

Yang ada, kami ingin menanam hari ini dan memetiknya besok, sehingga yang kami memetik adalah buah yang masih pahit. Seharusnya kami sabar agar kami bisa memetik buahnya yang matang secara bertahap,akan tetapi kami lupa bahwa Allah SWT tidak akan mempercepat ketetapanNya. Kami tidak berfikir bahwa yang kami tanam semestinya untuk generasi setelah kami yang akan memetik buah yang sudah matang.Kami sama sekali tidak memikirkan jatuhnya korban jiwa yang besar.

 

Dalam perkembangannya, munculnya seorang tokoh sepuh yang ingin menasehati generasi kami agar yang kita jalankan tidak bertentangan dengan ketetapan Allah SWT, yang dapat menghancurkan orang beriman yang baik sekalipun. Tokoh sepuh itu ingin agar generasi kami tidak tergesa-gesa dalam memetik buah yang belum matang serta tidak meludahi dan melempari batu sumur karena merupakan sumber kehidupan.  Jika satu persatu batu-batu tersebut terus dilemparkan ke dalam sumur, tentunya batu-batu itu akan menutup sumur tersebut.

 

Sang penasehat itu adalah Sheikh Omar At Tilmisani. Kepada para pemuda gerakan Islamis di era 1970an, beliau mengatakan untuk tenang. Nasehatnya tidak digubris oleh para pemuda tersebut. Pemuda yang memiliki semangatnya yang begitu membara, menolak, melawan dan melupakan nasehat tokoh sepuh itu yang sebenarnya sudah lebih merasakan pahit getirnya hidup dalam jalan da'wah. Namun, beliau tidak menyerah menasehatinya dan melakukan langkah-langkah kepada para pemuda tersebut.


Baca juga : Benjamin Franklin dan Relevansinya dengan Keislaman

 

Sungguh, ada pelajaran terbaik dari Sheikh Omar At Tilmisani yang tidak saya pahami saat itu. Sejujurnya, saya baru dapat mencerna nilai pesan tersebut, beberapa tahun belakangan ini, dan pesan beliau terngiang-ngiang kembali "Saya tidak ingin memasukkan kalian ke dalam penjara, karena tugas saya adalah mengeluarkan orang dari penjara, bukan memasukkannya".

 

Hasil renungan dari perkataan-perkataan beliaulah, yang menjadi rujukan berfikir kami dalam menyusun Inisiatif Anti Kekerasandan berhasil mengubah Al Jama'ah Al Islamiyah yang memegang senjata dan anti pemerintah menjadi organisasi da'wah yang damai.Itu terjadi setelah bertahun-tahun kemudian dari wafatnya Sheikh Omar At Tilmisani.

 

Saya mulai melaksanakan nasehat beliau dan berjanji kepada diri saya sendiri "Maka tugas saya saat ini adalah mengeluarkan mereka dari penjara, bukan memasukkan mereka ke dalam penjara." Bersama rekan-rekan saya, saya mulai mengeluarkan ribuan orang dari kalangan kader gerakan-gerakan Islamis dari dalam penjara dan mengembalikan mereka kepada kehidupan yang agamis dan manusiawi. Akhirnya, mereka pun dapat hidup sadar di dalam penjara,  diperkenankan untuk menyelesaikan program magister dan doktoral dan bahkan kemudian keluar dari penjara dengan hati yang penuh dengan damai dan dapat hidup mulia.

 

Saat ini, saya merindukan kembali masa ketika saya berusaha membebaskan para tahanan. Saat itu, saya merasa bahwa pemimpin yang buruk adalah yang memasukkan pasukannya ke dalam peperangan yang telah diketahui akan kalah dalam pertarungan tersebut, dan pemimpin paling buruk adalah yang menerjunkan pasukannya dalam perang tanpa batas, tanpa mengetahui kapan perang tersebut selesai dan pasukannya pun tidak mengetahui medan pertempuran serta bagaimana cara mengalahkan lawannya.

 

Saya berharap agar mereka yang mendorong para pemuda tersebut dan membiarkannya bertempur dalam peperangan yang panjang tanpa hasil yang jelas dapat dipenjara. Saya berharap agar para pemuda tersebut dimaafkan oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT menghisab para pemimpin tersebut dengan darah para pemuda itu akibat provokasi mereka yang menilai murah darah para pemuda itu demi kepentingannya.

 

Saya telah berkata kepada diri saya sejak bertahun-tahun lamanya "Jadikanlah tugasku ini seperti tugas Omar At Tilmisani yang bersama Hasan Al Hudlaibi, sebagai perevisi sejarah terbesar pemikiran pergerakan Al Ikhwan Al Muslimun, dengan cara menutup peran Organisasi Khusus dan memerangi pemikiran Takfiri yang tersebar di kalangan kader Al Ikhwan Al Muslimun khususnya mereka yang dipenjara pada era 1960an."Omar At Tilmisani mengetahui langkah perjuangannya dibenci oleh kader-kader dari faksi radikal Al Ikhwan Al Muslimun.

 

Omar At Tilmisani adalah sebab utama dibebaskannya kader dan pimpinan Al Ikhwan Al Muslimun di tahun 1971 dan  juga faksi radikal Al Ikhwan Al Muslimun di tahun 1974, dengan cara melobi Presiden Anwar Sadat. Selanjutnya dengan cara bijaksana, pengeluaran ribuan kader Al Ikhwan Al Muslimun dari penjara dilanjutkan pada tahun 1981. Dari sinilah, kader-kader Al Ikhwan Al Muslimun kembali aktif ke tengah masyarakat, bergabung dengan asosiasi-asosiasi profesionalisme, organisasi politik, lembaga pemerintah dan berbagai organisasi internasional.

Serial tulisan dari buku Bahaya Mimpi Al Baghdadi

 

 Penulis : dr. Najih Ibrahim - Pemikir Islam Mantan Ketua Dewan Syuro JI Mesir

Alih Bahasa : Mush’ab Muqoddas EP, Lc - Pengamat Terorisme di Timur Tengah


Comment

LEAVE A COMMENT