Selamatnya Kepala Sang Presiden dari Ancaman Pemenggalan

Miris dan sungguh disesalkan. Pemuda dengan gagah berani memberikan ancaman memenggal kepala Presiden. Bukan main-main. Pemuda dengan inisial HS ini sempat mengucapkan kalimat “Demi Allah” untuk menyatakan kesungguhan atas ancaman yang ia lontarkan saat berdemonstrasi di Kantor Bawaslu Jakarta, Jumat (10/5/2019).

 

Inilah portet buram dari seorang pemuda yang bisa menjadi bengis, biadab dan tidak mengenal tata karma dalam menghadapi simbol negara atau orang tua karena sekedar ingin membela pujaan politik. Ia menjadi sangat berapi-api dan merasa benar dengan ucapannya. Dan mungkin ia menganggap perbuatan itu benar untuk melawan kemungkaran dalam pandangannya.

 

Sekali lagi ini potret dari dampak egoism elite politik yang menular dalam bentuk fanatsime buta masyarakat. Masyarakat berpotensi menjadi buas dan mudah termakan amarah. Berapa banyak narasi-narasi elite lakukan yang memupuk kebencian terhadap lawan. Elite sengaja mengeksploitasi emosi masyarakat untuk menanamkan militansi dan layolitas tinggi.

 

Terakhir ini potret dari eksploitasi agama dalam kepentingan politik. Narasi-narasi agama mudah dimunculkan sebagai penggugah militansi dalam pembelaan politik. Lihatlah HS menjadi sangat yakin dengan bersumpah “ Demi Allah” dengan pekikan takbir “ Allahu Akbar” untuk semakin meyakinkan tekadnya memenggal kepala sang Presiden.

 

Pemuda itu tentu saja bukan pengurus elite dan tim sukses calon tertentu. Ia hanya simpatisan dengan militansi yang cukup tinggi. Seolah memilih dalam pilpres bagian dari membela agama. Sedangkan menjatuhkan pilihan terhadap calon tertentu adalah bagian dari ibadah.

 

Karena sebagai ibadah dan amal kebaikan, maka lawannya adalah keburukan dan kemunkaran. Narasi kebenaran dan kemungkaran adalah hasil sentuhan agama dalam mensakralkan kontestasi Pilpres. Maka tidak mengherankan apabila HS yang setiap hari mengkonsumsi narasi politik dalam kacamata agama menjadi beringas.

 

Sekali lagi HS telah menyesali tindakannya. Kepala Sang Presiden pun selamat dari penggalan HS. Namun, patut menjadi perhatian kita bersama, kalaupun video ini tidak tersebar dan ia tidak tertangkap apakah ia akan merasa tindakan serampangan, tidak berakhlak dan beringas yang dia tampilkan adalah kesalahan?. Artinya, bisa jadi masih banyak HS-HS lain yang tidak terekspose dan memilih diam agar tidak menjadi viral, tetapi memiliki kebencian dan keberingasan sikap dan pandangan yang sama yang tersulut api emosi elite politik.

 

Wibawa negara dan lembaga negara dibuat tidak dipercaya. Narasi anti Islam sejak awal kampanye dulu menjadi sumbu kelompok pembela ini untuk mengatakan pemerintah menzalimi dan mengkriminalisasi ulama. Sungguh sangat sistimatis bagaimana proses politik melalui isu yang ingin membuat kepercayaan masyarakat kepada negara luntur dan kepercayaan antara masyarakat menjadi renggang. Jika demikian siapa yang akan mengambil keuntungan?

 

Wallahu a’lam. Semoga bangsa ini selalu selamat dari rencana orang yang ingin merusak bangsa ini dari dalam. Rencana yang ingin membenturkan antar sesama muslim, membelah persaudaraan kebangsaan dan menghancurkan hubungan sosial yang kondusif. Kuatkan ikatan tali persaudaraan seagama dan sebangsa. Dan hindari perpecahan atas nama kepentingan politik sesaat.

 

Ingat, Pilpres bukan tentang dunia dan akhirat. Ini hanya persoalan politik dunia sebagai landasan kemashlahatan bersama. Pilpres bukan tentang negara akan hancur ketika dipimpin oleh salah satunya. Keduanya putra terbaik bangsa. Tinggal cara kita mengarifi dengan bijak atau tetap menjadi budak politik yang selalu tersulut amarah. 

Comment

LEAVE A COMMENT