Tawasul dengan Orang yang Meninggal, Bolehkah?

Tawasul dengan Orang yang Meninggal, Bolehkah?

Banyak orang di kampung-kampung bahkan di perkotaan yang melaksanakan doa dengan tawassul kepada orang yang meninggal khususnya para ulama dan orang shalih. Beberapa kelompok lain mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah. Lalu apa sebenarnya tawassul?

Sebagaimana kita ketahui pengertian tawasul berarti mengambil wasilah, perantara. Kata tawasul bentuk masdar dari fi’il madhi yang ikut wazan tafa’ala yang berasal dari lafazh wasala dan masdarnya berupa lafazh wasilah yang artinya beramal sebagai wasilah (perantaraan) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengertian tawasul sebagaimana yang dipahami oleh umat Islam selama ini bahwa tawasul adalah berdo’a kepada Allah SWT melalui suatu perantara baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih baik dan dekat kepada Allah SWT.

Pada dasarnya semua manusia diciptakan Allah dalam bentuk sempurna. Manusia adalah karya agung Allah berbeda dengan makhluk lainnya. Allah menyediakan akal pikiran dalam diri manusia sebagai khalifah yang bisa mengemban amanah membangun peradaban di muka bumi. Allah telah menganugrahkan kepada manusia kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan Allah berfirman dalam Al-Qur’an ,” fa alhamaha fujuraha wa taqwaha”.

Manusia lahir membawa kelebihan dan keterbatasan secara ruhani dan spiritual juga berbeda. Allah SWT misalnya menciptakan manusia unggul sebagai pembimbing manusia lain pada jalan kebenaran. Untuk itu Allah mengangkat para rasul, nabi, dan waliyullah (Kekasih Allah). Secara fisik-jasmani rangka manusia hakekatnya sama yang membedakan adalah bentuk dan kemampuannya, secara intelektual dan spiritual.

Kemampuan manusia juga berbeda yang satu unggul pada satu bidang tapi lemah bada bidang lainnya. Sehingga ada kalanya yang satu meminta pertolongan kepada yang lainnya, yang pada hakikatnya adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT semata. Akan tetapi, Allah membolehkan pula bertawasul kepada para nabi dan para walinya sebagai sebab untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Baca juga : Formalisasi Syariat, Perlukah?

Tawasul itu adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadlarru’ kepada Allah SWT. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan Allah sebagai sebab untuk mendekatkan diri kepadanya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanya, dan berjihadlah pada jalannya supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 35).

Diperbolehkannya tawasul ini oleh ulama salaf tidaklah terjadi pertentangan karena dalam tawasul itu sendiri seseorang bukanlah meminta kepada sesuatu yang dijadikan wasilah tersebut, akan tetapi pada hakikatnya meminta kepada Allah dengan barakah orang yang dekat kepada Allah baik seorang nabi, wali maupun orang-orang sholeh bahkan juga boleh bertawasul dengan amal sholeh.

Sebagai dalil diperbolehkannya bertawasul yang sangat masyhur diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori, Muslim dan Ahmad yaitu hadits tentang tiga orang dari bani Israel yang terjebak dalam goa dan kemudian bertawasul dengan amal sholehnya masing-masing agar selamat. Peristiwa ini adalah penjelasan tentang tawasul dengan amal sholeh.

Kisah tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawasul kepada Allah atas amal baiknya terhadap orang tuanya; yang kedua bertawasul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjauhi perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawasul kepada Allah atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Sebelum menjelaskan dalil-dalil tentang kebolehan tawasul terhadap orang yang telah meninggal dunia ada baiknya terlebih dahulu meyakini jawaban dari pertanyaan sebagai berikut: Apakah oranng yang meninggal dunia dalam kuburnya tetap hidup sehingga dapat mendengar  wasilah kita? Dan dapat memberikan pertolongan kepada kita?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah Ya, dalam artian dapat mendengar dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tawasul kepadanya. Adapun dalil Al-Qur’an yang menguatkan jawaban di atas dalam surat Ali Imron ayat 169 yang artinya “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jaln Allah itu mati akan tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki”. (QS. Ali Imron : 169). Juga dalam surat Al-Baqoroh  di sebutkan yang artinya: “ Janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang mati di jalan Allah sebagai telah mati, tetapi mereka tetap hidup, hanya saja kalian tidak merasakan. (QS. Al Baqoroh : 154).

Kedua ayat tersebut menunjukan atas tetap hidupnya orang-orang yang meninggal dunia di jalan Allah. Adapun meninggal dunia di jalan Allah itu mengandung makna yang umum yang meliputi mati syahid dalam peperangan maupun mati syahid selain dalam peperangan.

Lalu bagaimana pendapat para ulama tentang tawasul? Menurut Syeikh Ibnu Taimiyah dalam kitab Fataw Al Kubro juz 1, hal. 140 pernah ditanya pendapatnya tentang boleh tidaknya tawasul kepada Nabi Muhammad SAW lalu beliau menjawab “Alhamdulillah, bahwa yang demikian itu dianjurkan menurut kesepakatan kaum muslimin”.

Begitu juga diterangkan dalam kitab Syifa’ul Asqam hal. 161 menurut Imam Taqiyudin As-Subki beliau berkata “Ketahuilah bahwa diperbolehkan bahkan dianggap baik melakukan tawasul, istighotsah dan meminta syafaat kepada Allah SWT dengan perantaraan Nabi Muhammad SAW. Beliau juga berkata, bahwa tawasul kepada Nabi adalah boleh secara mutlak sebelum Nabi diciptakan maupun setelah diciptakan ketika masih hidup maupun setelah wafatnya. Para ulama sepakat memperbolehkan tawasul kepada Allah SWT dengan perantara amal sholeh sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an

Wallahu a’lam bishowab

*Apipudin Apip (Aktivis MATAN Majalengka)


Baca Artikel Terkait : 

Al Qur’an sebagai “Isyarat Dakwah”

Dialektika Kaum Islamis Timur Tengah

Mengajari Kembali Umat dengan Membiasakan Perbedaan




Comment

LEAVE A COMMENT