Tidak Hanya Perang, Ini Ragam Makna Jihad Menurut Ulama

Secara istilah Jihad bermakna berjuang semampunya untuk mengatasi berbagai kesulitan. Konsep ini perlu untuk ditafsirkan kedalam teologi pembebasan. Jihad, dalam konteks ini mempunyai makna seperti yang terdapat dalam al – Qur’an sebagai perjuangan untuk menghapuskan eksploitasi, korupsi, penindasan, kezaliman, dan ketidakadilan dalam berbagai bentuknya. Perjuangan ini harus selalu diupayakan sehingga pengaruh destruktif hilang dari muka bumi, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surah At – Taubah ayat 20 yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُون

“orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (QS. At-Taubah : 20)

Mencermati ayat diatas jelaslah bahwa Allah SWT menghendaki agar orang-orang yang beriman berjuang secara total untuk menghapuskan penindasan di muka bumi. Jika ditinjau lebih jauh al – Qur’an memang menekankan untuk menghapuskan berbagai bentuk penindasan dan kezaliman. Teologi pembebasan dalam Islam memang medapatkan spiritnya dari al – Qur’an, ambil contoh dalam surat al – Maidah ayat 8 sebagi berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah : 8)

Merujuk dari penjelasan al – Qur’an, keadilan menjadi kepentingan yang utama pada konsep Jihad dalam Islam. Teologi pembebasan berusaha menekankan kembali titik perhatian Islam yaitu keadilan sosial dengan prioritas utama pembebasan kelompok-kelompok lemah dan pembentukan kembali masyarakat yang bebas dari kepentingan primordialistik.

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah mengklasifikasikan makna jihad menjadi empat kategori, yaitu: pertama, mujahadatun nafs (jihad melawan diri sendiri) ; kedua, mujahadatusy syaithan (jihad melawan syaithan) ; ketiga, mujahadatul munafikin (jihad melawan kaum munafik) : dan keempat mujahadatul kufar (jihad melawan orang-orang kafir).

Masing-masing bentuk jihad itu mempunyai tingkatan-tingkatan.

1.  Jihad melawan diri sendiri. Terdiri dari pertama berjihad dengan mempelajari agama dengan benar. Kedua, berjihad dengan mengamalkan ilmu yang dipelajari. Ketiga, berjihad dengan mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada orang lain. Dan keempat, berjihad dengan bersikap sabar ketika menerima ujian dan cobaan.

2.  Jihad melawan syaitan terdiri dari: pertama, Berjihad melawan godaan syetan yang berkaitan dengan keimanan. Kedua, Berjihad melawan godaan kehendak buruk dan syahwat.

3.  Jihad melawan kaum munafik dan kafir terdiri atas : Pertama, Berjihad dengan hati. Kedua, Berjihad dengan lisan. Ketiga, Berjihad dengan harta dan keempat, Berjihad dengan jiwa.

Jihad yang pertama adalah melawan diri sendiri, karena bagaimana mungkin dapat melawan musuh-musuh dari luar, baik itu godaan syaitan, kaum munafik maupun kaum kafir jika ia belum dapat menundukkan dirinya sendiri. Jihad dengan kekerasan hanya dibolehkan jika diserang oleh orang-orang kafir, sedangkan terhadap kaum maunafik meskipun bentuknya lebih keras namun diarahkan supaya jihad dengan lisan.

Sebagaimana dikatakan oleh Intelektual muslim asal Mesir, Tariq Ramadhan yang mengungkapkan bahwa jihad adalah konsep dengan banyak aspek. Untuk memahami jihad, seseorang Muslim harus kembali ke diri sediri. “Dalam diri kita ada godaan untuk melakukan kekerasan, kemarahan, atau pertengkaran. Itu adalah nafsu-nafsu alami manusia. kita bisa melakukan kekerasan, tapi dengan kesadaran penuh kita dapat mengontrol dorongan-dorongan jahat itu. konsep jihad bukanlah perang, melainkan perdamaian,”

Agama Islam mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan. Hal ini akan melahirkan sikap toleran (tasamuh) yang pada akhirnya akan menciptakan manusia-manusia yang beradab. Dalam konteks ini, menciptakan terwujudnya masyarakat yang beradab adalah bagian dari jihad. Karena itu, penyempitan makna jihad hanya pada perjuangan fisik dan angkat senjata tidaklah tepat. Lebih dari itu, tingkatan jihad yang tertinggi bukanlah perjuangan fisik atau angkat senjata, melainkan melawan hawa nafsu. Hal ini terungkap dalam sabda Nabi Muhammad Saw sepulang dari perang Badar.

 (sumber : kumpulan Khutbah Jumat Islam & Terorisme, Pustaka Cendikiamuda. Ciputa, Jakarta)

Comment

LEAVE A COMMENT