Uighur: Residual Perang Dunia Kedua Yang Tak Kunjung Selesai

Uighur: Residual Perang Dunia Kedua Yang Tak Kunjung Selesai

Islam selalu memainkan peran penting dalam kehidupan peradaban umat manusia di manapun di belahan dunia ini. Di Indonesia, misalnya, sebelum dan setelah kemerdekaan bahkan sampai saat ini, umat Islam memegang peranan penting dalam perjalanan bangsa dan negara ini.

Dunia mengetahui bahwa kekuatan dan model Islam di Indonesia-lah yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi semua penduduk dunia. Praktek dan implementasi Islam di Indonesia dinilai secara ideologis sangat komprehensif dan sesuai dengan nilai-nilai universal, tidak ada perbedaan etnis, agama suku dan ras semua hidup. Dalam semangat Islam yang mayoritas semua perbedaan menyatu secara harmonis sebagai bangsa Indonesia.

Demikianlah umat Islam, selalu memberikan konstribusi positif dalam perjalanan umat manusia termasuk umat Islam dari Uighur yang pernah berjaya menyebarkan Islam hingga ke bumi Nusantara. Bahkan sampai saat ini, umat Islam di negeri itu, masih terus konsisten membela agamanya.

Ribuan mesjid berdiri megah di negeri itu, pelaksanaan haji berjalan lancar setiap tahun atas dukungan pemerintah China, kehidupan masyarakat antara etnis Uighur yang berafiliasi ke etnis Turk dengan etnis Han berlangsung harmonis bahkan umat Islam di negeri itu telah menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh utama di negeri itu.

Lalu, akhir-akhir ini kita mendengar berita yang mengejutkan. Dalam laporan PBB ada penyiksaan lebih dari 1 juta orang etnis Uighur di salah satu kamp penahanan di Cina. Lantas benarkan berita tersebut? Lalu bagaimana kita sebagai umat Islam bersikap? Sebelum menyikapi lebih jauh sebaiknya kita harus mengetahui hal sebagai berikut:

4 Hal yang Perlu Diketahui tentang Muslim Uighur

Namun satu hal yang perlu diketahui kenapa muslim Uighur mengalami nasib yang memilukan di negeri itu? Setidaknya ada empat hal yang perlu diketahui agar tidak terjebak dalam menyikapi masalah muslim Uighur yaitu sebagai berikut:  

1.      Isu Uighur bukan satu-satunya isu umat Islam di belahan dunia ini. Di sana banyak isu yang sama dengan isu Uighur yang dihadapi setiap pemerintahan di beberapa negara di dunia ini. Kemerdekaan Pakistan dari India menyisahkan masalah muslim Kashmir yang tak kunjung selesai sampai hari ini. Nasib Sahara Barat yang diperselisihkan oleh Marokko dengan Aljazair juga belum selesai, Perjuangan suku Kurdi antara Irak dengan Turki juga masih ramai dibicarakan sampai saat ini.

Baca juga : PBNU Desak PBB Selidiki Isu Kamp Konsentrasi Muslim Uighur di Xinjiang

Demikian pula bangsa Sawahili menjadi momok bagi Republik sentral Afrika, Chad dan Sudan serta Republik Kongo karena sawahili tidak memiliki negara dan eksis di setiap wilayah perbatasan negara-negara itu. Muslim Rohingya yang juga tidak jelas yang menjadi faktor perseteruan antara Bangladesh dengan Myanmar. Rakyat Palestina yang juga sampai saat ini belum merdeka dan masih diklaim Israel sebagai bagian dari wilayahnya. Belum lagi masalah Thailand Selatan, Filipina Selatan dan Somalia. Isu-isu ini merupakan sisa-sisa persoalan yang tidak selesai sejak perang dunia kedua.

Isu-isu di atas bukan saja menjadi isu kawasan masing-masing, akan tetapi menjadi isu internasional dan menjadi agenda pembahasan organisasi dunia seperti PBB, OKI, KNB dan lain-lain yang terus berusaha menyelesaikan masalah-masalah itu dengan didasarkan pada konvensi-konvensi dunia tentang perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM).

2.      Kemunculan ISIS di Suriah dan Irak bukan saja menyebabkan musibah bagi umat Islam di kawasan itu, akan tetapi juga telah mengakibatkan musibah di negeri-negeri muslim khususnya komunitas-komunitas muslim minoritas yang sampai saat ini belum berhasil membentuk identitas sendiri seperti Uighur, Kashmir, Somalia, Palestina, Filipina Selatan dan lain-lain. Kemunculan ISIS bagi mereka disambut baik khususnya mereka yang cenderung menggunakan cara-cara radikal untuk meraih kemerdekaan.

Muncul asumsi bahwa hanya dengan cara itulah mereka akan bisa mencapai harapannya mengingat negara-negara Islam yang selama ini menjadi tumpuan mereka ternyata sulit memberikan dukungan sebagaimana yang diharapkan. Al Qaeda misalnya memanfaatkan momentum ini untuk merekrut kelompok-kelompok esktrim di Kashmir untuk bergabung dengan Mujahidin di Afghanistan. Begitupula ketika ISIS muncul di Irak menjadikan warga-warga minoritas muslim seperti Uighur, Filipina Selatan dan negara-negara lainnya seperti Afrika sebagai sasaran empuk perekrutan karena mereka putus asa berjuang di negerinya.

3.     Keruntuhan Al Qaeda di Afghanistan dan ISIS di Irak dan Suriah mengundang kekhawatiran semua negara akan kepulangan eks-eks kombatan ke negara mereka masing-masing sehingga setiap negara mengambil langkah-langkah preventif untuk menghindari gelombang masuknya eks kombatan ISIS dari wilayah konflik. Bukan saja China, tetapi semua negara mengambil langkah-langkah preventif terhadap penyusupan eks kombatan ini ke negara mereka masing-masing.

4.      Idelogi transnasional yang kini merambah dunia akibat globalisasi dan era komunikasi digital yang canggih juga merupakan salah satu fenomena yang kini menjadi tantangan baru bagi setiap negara termasuk di China. Rohan Gunaratna pengamat teroris dari Singapore dalam sebuah diskusi di Singapore mengatakan bahwa sel-sel teroris di Asia Tenggara pasca ISIS akan semakin kuat setelah mereka membangun kamp di Filipina Selatan. Mereka adalah alumni-alumni ISIS yang pulang dari wilayah konflik.

Pernyataan Rohan ini nampaknya cukup faktual yang ditandai dengan maraknya isu ISIS di Marawi akhir-akhir ini. Kemudian dalam ulasan lain terkait masalah Uighur, Gunaratna mengatakan bahwa isu-isu intoleransi dan ekstrimisme di Uighur juga semakin meningkat dalam beberapa dekade yang ditandai dengan masuknya tiga jenis ideologi baru ke dalam masyarakat Uighur yaitu, pemikiran  Ikhanul muslimin dari Timur Tengah, pemikiran Salafi dan pemikiran salafi jihadi.

Ketiga pemikiran ini menyusup masuk di tengah-tengah masyarakat Uighur sejak tahun 1990an sehingga tidak mengherankan jika benturan-benturan pemikiran dan budaya antara satu dengan yang lain terjadi di Uighur.

Lalu, bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapi berbagai masalah umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk msalah Uighur. Sebagai umat Islam yang menarik untuk selalu menjadi renungan adalah firman Allah Swt dalam surah Al Anfal ayat 25

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksan-Nya.

Comment

LEAVE A COMMENT