Ulama yang Sejati menurut Imam Syafi’i

Istilah ulama yang banyak digandrungi saat ini di kalangan netizen semakin kabur. Masyarakat dengan mudah menempelkan sebutan ulama kepada siapapun yang dianggap idola, walaupun hanya dari segi penampilan dan retorika berbicara yang mampu menarik perhatian massa tanpa melihat sudut pandang pengetahuannya dan kedalaman ilmunya serta etika dan perilakunya kepada siapapun.

Para ulama salafussalih semakin dalam ilmunya semakin merendah dan bijaksana sehingga ibarat mutiara yang dicari setiap penuntut ilmu di manapun mereka berada. Para penuntut ilmu tidak mengenal jarak dan waktu. Mereka rela berjalan kaki sepanjang ratusan kilometer untuk menimba ilmu padanya dan menemaninya sepanjang waktu. Dari padang pasir yang tandus di Afrika menuju Mekkah dan dari Mekkah yang panas dan tandus menuju Madinah dan dari Madinah ke Basrah dan Damasqus yang kering bahkan dari Nusantara ke Mekkah yang di tempuh berbulan-bulan hingga Mekkah, Madinah, Cairo dan Baghdad.

Ulama-ulama dulu bukan saja menghabiskan uang dan harta untuk mencari ilmu agama, akan tetapi juga waktu dan pengorbanan serta pengabdiannya kepada gurunya. Mereka itulah ulama-ulama yang tangguh, ikhlas dan sabar hanya untuk kepentingan agama dan masyarakatnya.

Sangat berbeda dengan situasi sekarang ini. Seseorang cukup membaca satu kitab, membaca artikel di media sosial, memberi ceramah yang lucu-lucu, bisa membaca doa di acara-acara selamatan atau sunatan atau memiliki jamaah pengajian di mesjid, dan memakai pakaian jubah putih, maka ia sudah dikategorikan ulama. Padahal kedalaman ilmu-ilmu yang dimiliki seperti qawaidul lugho al Arabiya (gramatika Arab), ulumul hadis, ulumul qur’an dan ilmu-ilmu alat lainnya belum tentu pernah dipelajarinya apalagi dimengerti.  

Imam Syafi’i seorang ulama terkemuka Ahlussunnah Wal Jamaah,  pendiri  mazhab Syafi’i yang diikuti oleh mayoritas dunia Islam dalam salah satu bait syairnya mengatakan:

أخي لن تنال العلم الا بستة سأنبيك عن تفصيلها ببيان

                                                  ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة وصحبة أستاذ وطول الزمن

Artinya : “Wahai Saudaraku, kalian tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Saya akan menjelaskannya kepada kalian yaitu, kecerdasan, keinginan yang kuat, kemampuan materi, kesungguhan, selalu bersama guru dan waktu yang panjang.

Enam syarat tersebut di atas merupakan sebuah kelaziman bagi mereka yang ingin menuntut ilmu secara sungguh-sungguh. Ada beberapa syarat yang mungkin saja sebuah ilmu dapat diperoleh tanpa mengikuti syarat lain seperti selalu bersama guru dan waktu yang panjang. Akan tetapi, bagi Imam Syafi’i tanpa enam syarat itu, maka kredibilitas ilmu yang diperoleh tidak akan sempurna, karena bagaimanapun seorang penuntut ilmu tidak akan mampu memahami segala sesuatu yang dibaca tanpa bimbingan dan pemahaman dari orang yang lebih awal mengetahuinya. Oleh karena itu, ia mensyaratkan kelaziman menunut ilmu adalah subhatul ustaz atau selalu bersama guru.

Baca juga : Fungsi Masjid untuk Politik Keumatan, bukan Politik Pecah Belah Umat

Demikian pula masalah waktu, jika ilmu yang didapatkan hanya dalam hitungan bulan maka tidak akan mencukupi untuk memahami segala seluk beluk permasalahan, apalagi persoalan agama. Karena itu, waktu yang panjang sangat menentukan dalam memperoleh ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.

15 Etika Bagi Pencari Ilmu dan Ulama

Setelah seseorang belajar dan menerima ilmu, terdapat adab-adab dan perilaku yang harus selalu menjadi pedoman setiap orang yang berilmu. Adab-adab itu agar ilmu yang dimiliki betul-betul menjadi lentera hidup bukan saja bagi orang memiliki ilmu itu, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.  Menurut Imam Syafi’i ada 15 adab yang harus diperhatikan oleh orang yang menuntut dan memiliki ilmu sebagai berikut:

1.   Ikhlas;

Mengamalkan ilmu yang dimiliki harus semata-mata karena Allah, tanpa ada tujuan apapun agar ilmu yang  disampaikan kepada orang lain bermanfaat dan menjadi amal jariyah.

2.   Mengamalkan ilmu dan mengendalikannya;

Ilmu yang dimiliki haruslah diamalkan dalam dunia nyata sebelum menyampaikan kepada orang lain. Karena jika hanya pandai menyampaikan kepada orang lain dan lalai terhadap dirinya, maka yang demikian itu akan menjadi dosa besarnya baginya. Ilmu itu juga harus menjadi kendali karena jangan sampai ilmu yang dimiliki justru diarahkan kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

3.   Memelihara dan menjaga ilmu

Memelihara dan menjaga ilmu merupakan sebuah keharusan karena jaangan sampai ilmu yang itu hanya digunakan untuk mencari kekayaan, jabatan, popularitas dan untuk menandingi orang lain padahal sejatinya ilmu adalah lentera hidup bagi setiap orang dan masyarakat.

4.  Menghidupkan syiar Islam dan hukumnya

Seseorang yang berilmu harus menunjukkan dirinya sebagai pembawa syiar Islam dan konsisten menjalankan hukum dan kewajiban yang telah diperintahkan seperti sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan. Orang berilmu laksana menjadi obor dan penyejuk di tengah masyarakat, mencegah kemunkaran dan memerintahkan kebaikan.

5.   Memelihara sunnah-sunnah yang dianjurkan oleh syariat

Menjalankan sunnah nabi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam ajaran agama karena itu seseorang yang berilmu harus konsisten terhadap sunnah yang telah dianjurkan oleh syariat baik secara lisan maupun perbuatan.

6.   Rendah diri, tenang dan tidak angkuh

Orang yang berilmu tidak boleh membanggakan dirinya sebagai orang yang berilmu, tetapi ia harus selalu rendah diri di hadapan orang, tenang dalam segala hal dan tidak angkuh terhadap orang lain.

7.   Zuhud dan puas apa yang dimiliki

Zuhud sini bukan berarti tidak berusaha memiliki sesuatu, tetapi seorang yang berilmu akan selalu merasa puas terhadap apa yang dimiliki dan diberikan kepadanya.

8.   Berperilaku yang baik dan yang mulia

Orang yang berilmu harus menunjukkan sifat-sifat yang mulia seperti jujur, amanah dan dipercaya bukan malah sebaliknya suka berbohong tidak amanah dan mengkhianat.

9.   Membersihkan jiwa dari hal-hal yang hina

Jiwa orang yang berilmu selalu berjiwa besar dan penuh harapan tanpa harus mengemis, meminta-minta sesuatu atas apa yang diinginkan. Ia selali bersih jiwanya dari hal-hal yang dapat merusak perilakunya sebagai seorang yang berilmu.

10.   Disiplin Menjaga waktu

Waktu seperti pedang maka barang siapa yang tidak menggunakannya maka ia akan dipotong. Bagi orang yang berilmu waktu adalah emas yang harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya dengan mengisi hal yang positif bukan yang tidak ada gunanya.

11.   Bersungguh-sungguh untuk selalu menambah ilmu

Ada dua hal yang siapapun yang tidak pernah merasa puas yaitu orang yang menuntut ilmu dan orang yang menuntut harta. Ilmu ibarat lautan yang luas yang tiada bertepi. Oleh karenanya setiap orang yang berilmu selalu mencari ilmu sampai kapanpun.

12.   Memilih teman yang baik

Teman adalah cermin perilaku seseorang. Jika temannya adalah orang baik maka orang itu adalah orang baik dan sebaliknya jika temannya adalah orang yang jahat maka orang itu pasti juga jahat. Oleh karena itu orang yang berilmu sejatinya selalu memiliki orang-orang yang baik bukan orang yang jahat.

13.   Meninggikan guru dan bertatakrama di depannya

Sopan santu di depan guru adalah ajaran para salafussalih karena menurut Imam Ali bin Abi Tolib bahwa siapapun yang di antara kalian mengajarkan satu huruf, maka itu adalah tuanmu. Orang yang pandai menghormati guru adalah mereka yang memiliki ilmu dan sebaliknya mereka yang tidak pandai menghormati guru adalah orang yang tidak berilmu.

14.   Menghormati dan menghargai ulama

Orang berilmu selalu menghormati para ulama serta memuliakannya tanpa harus mengkultuskannya dan bertaqlid buta.

15.   Berlapang dada terhadap perbedaan

Berlapang dada terhadap perbedaan adalah sesuatu yang mutlak bagi seseorang yang berilmu karena ilmu Allah sangat luas dan pengetahuan manusia sangat terbatas. Mereka yang sulit menerima perbedaan adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan karena hal yang demikian itu menunjukkan keterbatasan pengetahuannya dan pemahamannya.

Wallahu a’lam

Comment

LEAVE A COMMENT