Kitab Kuning
Kitab Kuning

Agama Itu Riwayat : Kitab Kuning Bukan Kembali kepada Quran dan Hadist?

Ide Calon Kapolri untuk mewajibkan anggota Polisi yang muslim untuk mengaji kitab kuning memang out of the box. Luar biasa karena di lingkungan Polri, tentu biasa aja di kalangan santri. Kitab kuning menjadi sarapan spiritual dan intelektual para santri dalam aktfiitas pendidikan di pesantren. Menarik jika itu dilakukan di lingkungan Polri atas saran para ulama.

Kenapa kitab kuning menjadi penting sebagai pendidikan keagamaan anggota Polri? Sebelum menjawab itu nampaknya kita harus mengklarifikasi selentingan yang kurang cerdas tentang tanggapan kitab kuning. Seolah mempelajari kitab kuning berarti mempelajari ilmu yang bukan dari Quran dan hadits.

Bagi kalangan bukan santri tentu ada yang salah memahami. Buat apa belajar kitab kuning, mending belajar Quran dan Hadist saja. Komentar ini agak menggelikan. Pertama, bisa jadi dia biasa langsung merujuk Quran dan Hadits melalui terjemahan. Kedua, bisa jadi dia tidak memahami apa itu kitab kuning. Kemungkinan keduanya bisa berbarengan. Artinya, pegangannya cuma Quran dan hadist terjemahan dan tidak pernah bersentuhan dengan kitab kuning dan merasa paling muslim yang kembali kepada Quran dan Hadist karena tidak punya kecakapan dalam belajar kitab kuning.

Baik kita terangkan pelan-pelan agar tidak menimbulkan baper. Penyebutan kitab kuning dikarenakan kertas dari kitab-kitab tersebut berwarna kuning. Pilihan warna ini tentu didasarkan pada kenyamanan dan mudah dibaca dalam keadaaan redup. Faktor pencahayaan di masa lalu dalam belajar terlebih di malam hari memang masih minim sehingga warna kuning lebih mudah dan nyaman untuk dibaca.

Kitab kuning adalah materi pelajaran Islam karangan para ulama salaf dan khalaf dalam memahami ajaran Islam melalui sumber Al-Quran dan Hadist dalam berbagai bidang baik fikih, akidah, akhlak, dan ilmu perangkat memahami ajaran Islam lainnya. Kitab ini disebut juga dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harkat. Dalam memahaminya tentu dibutuhkan perangkat ilmu lain yang tidak kalah pentingnya.

Baca Juga:  Berzina Dosa Besar, Menuduh Orang Berzina juga Dosa Besar

Kenapa mempelajari kitab kuning menjadi sangat penting? Pertama kita harus memahami bahwa Islam adalah agama riwayat. Ajaran yang diturunkan dari Allah kepada Nabi Muhammad yang diajarkan kepada para sahabat dan seterusnya. Ajaran ini dilanjutkan dengan proses priwayatan dari sahabat, tabiin hingga para ulama salaf dalam menjaga ajaran Islam. Proses riwayat inilah dikenal dengan sanad atau tersambungnya riwayat dari Nabi hingga para ulama.

Jika tidak ada sanad orang akan berpikir dengan semaunya dan dengan kepentingannya. Orang sering mengatakan kembali Quran dan hadist dengan pemikiran mereka bahkan dengan tanpa bekal pengetahuan dasar memahami keduanya. Itu sangat berbahaya karena ia akan memperlakukan sumber untuk kepentingannya dan mengabsahkan kemauannya.

Karena itulah, agama Islam itu adalah agama riwayat yang berdasarkan sanad. Di sinilah posisi kitab kuning yang dikarang oleh para ulama salaf dari masa ke masa terus menyambungkan pemahaman tentang sumber Quran dan hadist berdasarkan riwayat bukan sebatas akal pikiran sendiri.

Kitab kuning selain merawat sanad keilmuan dari Nabi dalam memahami dan mempraktekkan al-Quran juga mempermudah pemahaman Islam secara tematik. Karena itulah, kitab kuning dibedakan dalam banyak hal berdasarkan keilmuannya. Ada kitab kuning yang membahas ilmu tauhid, fikih, akhlak, tafsir, tata bahasa arab, logika, hingga pada keilmuan dasar untuk memahami sumber al-Quran dan hadist.

Menarik sekali jika tidak hanya santri, tetapi masyarakat umum termasuk anggota polisi mempelajari kitab kuning agar mempunyai sanad keilmuan yang pasti dan pemahaman yang lebih luas. Agama tidak mudah ditafsirkan semaunya sendiri dengan hanya memegang terjemahan saja atau menolak kitab-kitab ulama salaf dengan memegang teguh secara doktriner pada satu tokoh saja.

Baca Juga:  Cara "Fasik" dalam Berpolitik

Kesalahan para pelajar muslim saat ini adalah cenderung mempersempit keilmuannya pada satu tokoh dengan tanpa melihat luasnya pemahaman Islam. Ketekunan itupun dilengkapi juga dengan sikap fanatic yang seolah gurunya saja yang benar dan menolak pemahaman ulama lain bahkan kitab karangan ulama salaf. Hal ini tertentu berbahaya karena memunculkan sikap yang ekstrim dalam beragama.

Jika slogan hanya kembali kepada Quran dan Hadist dengan hanya berpegang pada terjemahan saja atau terjemahan kitab tokoh yang dikagumi, tentu ini salah kaprah dalam memahami Quran dan Hadist sebagai sumber. Para santri tidak perlu kembali kepada Quran dan hadist, karena memang mereka tidak meninggalkan keduanya. Kitab kuning adalah karangan ulama salaf dalam memahami Quran dan Hadist bukan meninggalkannya.

Pertanyaannya, mau kembali kepada Quran dan Hadist dengan berdasarkan pikiranmu saja atau mungkin terjemahan, atau memahami keduanya dengan karangan bantuan ulama salaf yang tersambung pada pemahaman Sahabat dan Rasulullah? Silahkan pilih untuk menentukan kembali pada Quran dan Hadist.

Wallahu a’lam bis shawab

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

duduk di kuburan

Saat Ziarah, Bolehkah Duduk di Kuburan?

Meskipun arus puritanisasi  mengklaim ziarah kubur adalah ritual bid’ah, tapi tidak banyak muslim nusantara yang …

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …