Bagaimana Islam Memandang dan Memperlakukan LGBT?

Asslamualaikum Wa rahmatullahi wa barakatuh.

Pertanyaan saya berangkat dari kegelisahan isu yang sebenarnya isu lama, tetapi kembali menyeruak, yakni keberadaan LGBT. Keberadaan mereka sudah sangat meresahkan, tetapi bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Bagaimana Islam menghukumi pelaku ini? Bagaimana menyikapi keberadaan mereka. Mohon kiranya ustadz memberikan jawaban sebagai pegangan saya dalam menyikapi masalah ini.

Wassalamualaikum

Ahmad Susanto – Tebet, Jakarta Selatan

Waalaikum Salam Wa rahmatullahi wa barakatuh.

Baik terima kasih atas pertanyaannya. Memang isu ini telah lama menjadi perhatian kita bersama. Tetapi muncul kembali karena mereka mulai membentuk komunitas yang seolah secara hukum Islam tidak ada masalah. Saya ingin memulai dari dasar fitrah manusia.

Manusia dalam fitrahnya diciptakan oleh Allah SWT secara berpasang-pasangan, diciptakan berbangsa-bangsa dan berbagai suku untuk saling mengenal sehingga keberlangsungan generasi dapat tetap terjaga, sesuai dengan firmanNya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. Annisa’ : 1)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-rum : 21).

Hubungan yang di luar telah digariskan tersebut jelas dalam Islam dipandang sebagai perilaku menyimpang. Sebagaimana kita kitahui akhir-akhir ini telah terjadi pergaulan yang malampaui batas dan sangat meresahkan masyarakat. Terdapat sekelompok orang yang menjalin hubungan layaknya suami-istri namun dengan sesama jenis. Keberadaan mereka saat ini tidak lagi secara sembunyi-sembunyi bahkan secara terang-terangan dengan membangun komunitas. Kelompok ini bahkan telah menuntut pemerintah untuk diakui keberadaanya dengan mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Perilaku yang menyimpang tersebut jika ditinjau dari segi agama tentu saja menyalahi fitrah manusia yang telah diciptakan berpasang-pasangan. Maka secara terang Allah mengatakan bahwa kelompok LGBT sebagai orang-orang yang telah melampau batas.

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ

وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

artinya : Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Asy-Syu’ara’ : 165-166).

Masyarakat secara umum tentu saja merasa cemas dan was-was akan keberadaan kelompok LGBT, karena selain mengancam keberadaan lembaga perkawinan sebagai satu-satunya lembaga yang mempunyai otoritas untuk mengesahkan sebuah hubungan yang didasarkan atas perintah Tuhan dalam bentuk pernikahan, keberadaan kelompok LGBT juga secara langsung akan mengancam keberlangsungan generasi umat manusia.

Mencermati persoalan tersebut, apakah lantas kelompok LGBT harus disingkirkan dengan jalan kekerasan? Maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya telah mengeluarkan fatwa terkait LGBT agar terdapat jalan keluar bagi kelompok LGBT maupun masyarakat yang kemungkinan rentan terhadap prilaku seksual yang menyimpang tersebut.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan ketentuan hukum terkait LGBT di antaranya,

1.   Hubungan seksual hanya dibolehkan bagi seseorang yang memiliki hubungan suami-isteri, yaitu pasangan             lelaki dan wanita berdasarkan nikah yang sah secara syar’i.

2.  Orientasi seksual terhadap sesama jenis adalah kelainan yang harus disembuhkan serta penyimpangan yang          harus diluruskan.

3.  Homoseksual, baik lesbian maupun gay hukumnya haram, dan merupakan bentuk kejahatan (Jarimah).

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia juga merekomendasikan beberapa hal terkait LGBT, diantaranya:

1.  DPR-RI diminta segera menyusun peraturan perundang-undangan yang mengatur :

a.  Tidak melegalkan komunitas homoseksual, baik lesbi maupun gay, serta komunitas lain yang memiliki orientasi seksual menyimpang;

b.  Hukuman berat terhadap pelaku sodomi, lesbi, gay, serta aktifitas seks menyimpang lainya yang dapat berfungsi sebagai zawajir mawani’ (membuat pelaku menjadi jera dan orang yang belum melakukan menjadi takut untuk melakukanya);

c.  Memasukkan aktifitas seksual menyimpang sebagai delik umum dan merupakan kejahatan yang menodai martabat luhur manusia.

d.  Melakukan pencegahan terhadap berkembangnya aktifitas seksual menyimpang ditengah masyarakat dengan sosialisasi dan rehabilitasi.

2.  Pemerintah wajib mencegah meluasnya kemenyimpangan orientasi seksual di masyarakat dengan melakukan layanan rehabilitasi bagi pelaku dan disertai dengan penegakan hukum yang keras dan tegas.

3.  Pemerintah tidak boleh mengakui pernikahan sesama jenis.

4.  Pemerintah dan masyarakat agar tidak membiarkan keberadaan aktifitas homoseksual, sodomi, pencabulan dan orientasi seksual menyimpang lainya hidup dan tumbuh ditengah masyarakat.

(Disarikan dari Fatwa Majelis Ulama. Nomor 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi, Dan Pencabulan).

Comment

LEAVE A COMMENT