Dahulukan Makan Sebelum Shalat

Pada prinsipnya ibadah shalat adalah salah satu cara umat Islam berkomunikasi secara spiritual dengan Tuhan. Di dalam shalat terdapat banyak rukun baik fi’liyah (gerakan) maupun qouliyah (perkataan) sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Karena itulah, mengerjakan shalat di samping penting memerhatikan kesempurnaan shalat dalam aspek rukunnya, juga sangat penting adalah aspek kekhusukan.

Karena pentingnya shalat sebagai sarana berkomunikasi spiritual, Allah bahkan mengancam bagi orang yang bershalat karena lalai:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Artinya: Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5).

Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menafsirkan ayat ini sebagai peringatan bagi mereka yang mengerjakan shalat tidak sempurna dan tidak khusyuk. Tidak sempurna artinya dalam shalat ia terlaly terburu-buru sampai tidak memerhatikan syarat dan rukun-rukunnya. Sementara khusuk berarti ia hanya melakukan gerakan shalat tetapi tidak menghayati arti dan tujuan hakiki dari shalat. 

Karena itulah, sebelum shalat Rasulullah menganjurkan persiapan yang sempurna sehingga ketika shalat tidak ada lagi hal yang dapat menganggu seperti teringat makan atau menahan buang hajat yang dapat mengganggu kesempurnaan dan kekhusu’an shalat.

Baca juga : Hati-Hati! Jangan Lewat Depan Orang Shalat

Sering kita mendengar dahulukan makan sebelum shalat. Apakah perkataan ini benar? Sebenarnya anjuran mendahulukan makan sebelum shalat adalah salah satu Sunnah Nabi untuk mengajarkan kepada umat Islam mengosongkan pikiran dan hati dari makanan sehingga mencegah ketergesaan dan menciptakan kekhusukan shalat.

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda:  

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

Artinya : “Jika makan malam telah tersajikan, maka dahulukan makan malam terlebih dahulu sebelum shalat Maghrib. Dan tak perlu tergesa-gesa dengan menyantap makan malam kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah perintah ini merupakan anjuran Sunnah bukan wajib. Artinya disunnahkan mendahulukan makan malam jika hidangan sudah tersedia sebelum shalat. Jika makanan sudah siap dan sudah kondisi lapar sejatinya disunnah makan terlebih dahulu sebelum shalat. Tujuannya adalah menciptakan kekhusukan dalam shalat.

Bahkan dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa pada saat makan pun tidak disunnahkan untuk terburu-buru meski sudah masuk waktu shalat. Hal ini berlaku baik makan siang maupun makan malam.

Dalam riwayat yang berbeda Aisyah r.a. berkata,'Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:  

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, begitu pula tidak ada shalat bagi yang menahan (kencing atau buang air besar).” (HR. Muslim).

Hadist ini semakin mempetegas anjuran untuk mendahulukan shalat jika makanan sudah tersedia. Anjuran makan ini juga dibarengi juga dengan ketidakbolehan menahan buang hajat ketika shalat. Artinya anjuran ini dilakukan agar ketika shalat kita sudah tidak teringat lagi makanan dalam posisi perut kosong atau kepentingan lain yang dapat menimbulkan ketergesaan dalam shalat dan menghilangkan kekhusukan shalat.

Walaupun pada saat sudah masuk waktu shalat, jika makanan sudah tersedia dan dalam kondisi lapar sebaiknya mendahulukan makan.  Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, "jika makan malam dihidangkan bersamaan dengan waktu iqamat shalat, maka dahulukanlah makan malam, dan jangan terburu-buru menikmati hidangan hingga selesai."

Anjuran ini sebenarnya berlaku umum baik shalat berjamaah dan shalat sendirian. Kecuali  Imam Malik yang membedakan untuk mendahulukan shalat jamaah daripada makan terlebih dahulu karena pentingnya shalat berjamaah. Namun, apabila makanan yang sudah tersedia itu makanan ringan yang tidak membutuhkan waktu yang cukup lama boleh didahulukan sebelum shalat jamaah.

Hikmah dari hadist dan pendapat ulama tersebut sebenarnya lebih pada anjuran untuk melakukan shalat dalam keadaan khusuk dan dapat terlaksana kesempurnaan shalat tanpa terganggu dengan pikiran seperti makan, buang hajat atau kepentingan lainnya. Shalat merupakan ibadah penting yang tidak hanya berisi gerakan dan ucapan, tetapi memerlukan hati dan penghayatan.

Karena itulah, ketika shalat seseorang harus bisa mengosongkan pikiran dan hati hanya tertuju untuk menghayati seluruh makna gerakan dan perkataan dalam shalat yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Semoga cara shalat kita tidak seperti yang digambarkan oleh Allah sebagai orang yang celaka karena lalai.

Wallahu a’lam

Comment

LEAVE A COMMENT