Hati-Hati! Jangan Lewat Depan Orang Shalat

Sebagian dari kita mungkin sering melihat dan mengalami orang yang jalan melewati orang yang sedang shalat. Sebenarnya persoalan ini tidak sekedar menghukumi orang yang lewat saja, tetapi bagaimana orang yang shalat di tengah jalan yang memang menjadi kebiasaan lalu lalang orang.

Ulama berbeda pendapat terhadap persoalan tersebut. Hukumnya dosa bagi orang yang melewati orang yang shalat yang sudah membuat pembatas. Ulama Hanafiyah menghukuminya dengan makruh tahrim bagi orang yang lewat depan orang shalat dan di tempat sujudnya apabila orang tersebut sudah mempunyai pembatas. Berbeda apabila orang tersebut tidak menggunakan pembatas. Begitu juga hukumnya boleh dan tidak berdosa ketika maksud melewati tersebut dengan tujuan mengisi celah kosong dalam barisan shalat.

Imam Malik mengatakan dosa melewati orang yang sedang shalat baik ada atau tidaknya pembatas. Namun, sebagaimana Imam Hanafi, boleh melewati apabila untuk kepentingan mengisi barisan shalat. Hal ini berbeda dengan Imam Syafii yang mengatakan haram hukumnya melewati orang shalat jika telah ada pembatas shalat, meskipun orang yang lewat tidak punya jalan lain. Dalil terhadap hukum ini didasarkan pada hadist:

Jika orang yang lewat tahu dosa apa yang akan dia dapat dengan melewati orang yang sedang shalat, niscaya berdirinya menunggu selama empat puluh tahun lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang shalat. (Bukhari Muslim).

Sementara itu mayoritas ulama sepakat hukumnya makruh bagi orang shalat di tempat yang dapat menghalangi orang lewat seperti shalat di jalan atau tempat umum tanpa pembatas. Karena itulah inilah kegunaan sajadah agar dapat memberikan batasan lokasi sujudnya.

Baca juga : 4 Hal Perbedaan Laki-laki dan Perempuan dalam Shalat

Lalu bagaimana menghalangi orang yang hendak lewat saat kita sedang shalat? Orang yang sedang shalat boleh mengahalangi dan menahan orang yang hendak lewat di depannya. Dalil atas kebolehan tersebut adalah hadist Nabi :

Artinya: Jika kalian sedang shalat, maka jangan biarkan orang lain lewat di depan kalian. Dan jika ia tetap memaksa lewat, maka bunuhlah orang itu karena dia bersama jin Qarin (HR Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah). 

Hadis itu sekedar memberikan pentingnya menghalangi orang yang lewat bukan dengan cara ekstrim membunuhnya. Melalukan tindakan seperti itu hanya terjadi pada awal Islam ketika boleh melakukan sesuatu dalam shalat, tetapi hal itu sudah dihapuskan.

Menghalangi orang shalat termasuk rukhsoh artinya diperbolehkan asal tidak membuat gerakan berat dan banyak yang dapat membatalkan shalat. Ulama menganjurkan dengan beberapa tindakan semisal memberikan isyarat, membaca tasbih dan mengeraskan bacaan. Ketiganya bisa dipilih tetapi tidak boleh ketiganya.

Sementara itu, semua ulama berpendapat tetap sahnya shalat walaupaun dilewati orang lain. Tidak termasuk sesuatu yang dapat membatalkan shalat jika ada orang yang melewati di depannya. Hanya saja sebagian ulama mengatakan hilangnya kesempurnaan shalat.

Kesimpulannya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam melihat pesoalan ini. Pertama sebaiknya shalat tidak dilakukan di jalan umum atau tempat banyak orang lalu lalang. Kedua, bawalah pembatas shalat seperti sajadah untuk memberikan batasan dan tanda sedang shalat. Ketiga, bagi orang lewat agar menunda untuk melewati orang shalat sampai selesai, kecuali memang tidak ada jalan lain dan kondisinya sangat penting atau darurat.

Wallahu a’lam bissawab

Comment

LEAVE A COMMENT