Air Apa Saja yang Layak Dipakai Bersesuci?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Selamat malam ustadz, saya ingin bertanya terkait bab bersuci, karena saya memperhatikan bersuci dari hadast baik kecil maupun besar terlihat sepele namun ternyata banyak me nimbulkan keraguan, apakah air yang saya gunakan telah benar-benar dapat dijadikan bersuci atau tidak, atas perhatiannya saya haturkan terimakasih. Jazakillah

Wahyudi – Surabaya

Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh

Bapak Wahyudi yang dimuliakan oleh Allah SWT, memang persoalan bab bersuci ini terlihat gampang, namun sejatinya bersuci adalah merupakan elemen terpenting dalam menjalankan setiap ibadah sehingga hal yang nampak sepele dimata kita ternyata sangat berat timbanganya dimata Allah SWT. Baiklah pak Wahyudi saya akan coba jelaskan bahwa  Dalam melaksanankan segala macam aktifitas, Islam menganjurkan untuk membersihkan seluruh anggota badan termasuk didalamnya bersuci dari hadast kecil (Keadaan tidak suci dari perkara yang membatalkan seperti wudhu’, kentut dan buang air besar) maupun hadast besar (kebalikan dari hadast kecil seperti belum mandi Junub). Perkara bersuci dari hadast kecil terlihat sepele dan banyak yang menggampangkanya, namun apakah seluruh umat Islam sudah paham jenis-jenis air yang dapat digunakan sebagai penghilang hadast?

Baca juga : Hukum Tawassul

Didalam kiab Fathul Qorib dijelaskan bahwa “at-thaharah” dengan dibaca Fathah huruf tha’nya, secara bahasa dapat bermakna bersih. Sedangkan secara syara’. Dapat didefinisikan melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan diperbolehkanya sholat. Yaitu wudhu’, mandi, tayammum dan menghilangkan najis. Untuk bersuci tentu saja media yang umumnya digunakan adalah air, Allah SWT berfirman :

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. Al-Furqon : 48)

Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah bersabda :

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan An Nasa’i)

Para Fuqoha kemudian membagi jenis air menjadi 7 macam yang dapat dijadikan untuk bersuci. Tujuh jenis air yang dapat digunakan untuk bersuci tersebut adalah, air hujan, air laut, air sungai, air sumber, air sumur air salju dan air embun.

Jenis air yang ketujuh tersebut kemudian dibagi lagi menjadi empat bahagian, diantaranya :

Pertama air suci yang dapat mensucikan pada perkara lain, serta tidak makruh digunakan. Kedua, air suci dan mensucikan perkara lain namun makruh digunakan pada anggota badan, bukan pada pakaian, yakni air musyammas (air yang dipanaskan). Ketiga adalah air yang suci namun tidak dapat digunakan untuk bersuci disebut air musta’mal (air yang sudah dipergunakan untuk menghilangkan najis, jika warna dan tidak berbau) selain musta’mal ada juga yang disebut dengan air mutaghayyir , air yang berubah warnanya karena tercampur sesuatu barang yang juga suci seperti kopi dan teh, hukum air tersebut suci namun tidak dapat mensucikan. Dan jenis yang keempat adalah adalah air yang terbagi menjadi dua bahagian.

Pertama adalah air najis yang sedikit. Yaitu air yang terkena najis, baik sampai berubah sifatnya ataupun tidak, dan kondisi air tersebut kurang dari dua Qolah (satu qolah dalam beberapa pendapat adalah 100 liter air). Dan yang kedua adalah air mutanajis, adalah air yang lebih dari qulah namun tetap berubah sifatnya.

Demikianlah penjelasanya bapak Wahyudi, semoga Allah selalu memberikan kita magfirah dan Rahmatnya sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung dimata Allah SWT.

Wallahu’alamubissowab 

Comment

LEAVE A COMMENT