Berbahaya Bila Al Quran Ditafsirkan Sembarang Orang

Jakarta – Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj mengungkapkan bahwa Al Quran tidak boleh ditafsirkan oleh sembarang orang karena itu akan sangat berbahaya. Sebaliknya, Al Quran harus disampaikan oleh orang yang benar-benar memahaminya.

Pernyataan itu diucapkan Kiai Said saat memberikan ceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Irfan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta, Jumat (16/11/2018).

“Ada berbagai tipe ayat Al Quran. Ada ayat yang muhkamah, ayat jelas yang tidak butuh butuh penafsiran seperti keseluruhan surat Al Ikhlas,” ujar Kiai Said dikutip dari nu.or.id.

Baca juga : Begini Uniknya Pernak-Pernik Peringatan Maulid Nabi di Indonesia dan Mancanegara

Sebaliknya, yang berlawanan dengan muhkama adalah mutasyabihat yaitu ayat Al-Qur’an yang membutuhkan penafsiran. Salah satunya ayat yang menjelaskan tentang batalnya wudlu, aw laamastum al-nisa. 

Ia menguraikan maksud penggalan ayat itu dari perspektif empat mazhab. Imam Syafi’i menyatakan bahwa sentuhan kulit antara perempuan dan laki-laki, sengaja ataupun tidak, disertai syahwat ataupun tidak, dihukumi batal wudhunya. 

Sementara  Imam Hanafi menafsiri laamastum sebagai bahasa halus dari hubungan badan. Jika tidak begitu, wudhunya tidak batal. Adapun Imam Maliki dan Imam Hambali saling menyenggol itu batal, bukan satu pihak.

“Jadi enggak gampang (memahami ayat Al-Qur’an),” kata pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah itu.

Kiai Said menerangkan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang mutlaqah (absolut) dan muqayyadah (tidak mutlak). Ia mencontohkan pada ayat tentang perintah menaati Allah dan Rasul-Nya yang bersifat mutlak dan menaati pemerintah yang bersifat tidak mutlak, yakni dengan syarat pemerintah yang baik.

Ada lagi ayat haqiqi (realistis) dan majazi (metaforis). Kiai Said menjelaskan ayat yadullahi fauqa aydihim, tangan Allah di atas tangan mereka. Tangan  yang dimaksud bukan secara fisik, melainkan kekuasaan. Pun dengan wajhu rabbika, bukan wajah Allah, tetapi Zat-Nya. Ayat wa jaa rabbuka wal malaku shaffan shaffa, juga bukan Allah datang, tetapi perintah atau kebijakan-Nya.

Comment

LEAVE A COMMENT