Jangan Seret Agama Untuk Kepentingan Politik

Jombang – Di tahun politik ini, berbagai hal dijadikan komoditi politik, termasuk agama. Kondisi ini dinilai sangat tidak elok, karena tujuan agama dan politik itu jelas berbeda. Agama untuk membimbing umat untuk berbuat kebaikan, sementara politik bertujuan untuk mencari kekuasaan. Karena itu, jangan menyeret agama untuk kepentingan politik.

Penegasan itu disampaikan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pada acara Haul ke-3 KH Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (6/11/2018). Gus Mus meminta politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis untuk merebut kekuasaan. Langkah itu dinilai dapat merugikan agama islam, apalagi sampai dituduh sebagai pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

“Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Allah dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik,” ujar Gus Mus.

Baca juga : Generasi Islam Milenial Harus Cerdas dan Pahami Agama Dengan Baik

Gus Mus mengajak semua pihak untuk berpikir jernih demi kedamaian dan kelancaran proses Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia. Pasalnya, proses demokrasi seperti ini adalah hal yang biasa.

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al Maidah ditarik ke politik, perkara lima tahun sekali kok dibelain sampai kayak mau kiamat, padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," tegas Gus Mus.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politik sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

Gus MusJadi tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil. Menurutnya, itu hanya untuk kepentingan sesaat. Lebih bahaya lagi, bila dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Seperti dalil itu dulu mengharamkan, sekarang malah membolehkan.

Gus Mus mengaku heran dengan kelompok Islam yang menamakan diri gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," ungkap Gus Mus dikutip dari nu.or.id.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang tidak paham agama secara mendalam akan berfatwa terus.

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa-red) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," pungkas Gus Mus.

Comment

LEAVE A COMMENT