Kata MUI Makanan Halal Bisa Jadi Haram Bila

Jakarta - Mencari makanan halal merupakan salah satu prioritas bagi sebagian umat Muslim di dunia, termasuk Indonesia. Lalu bagaimana dan apakah makanan itu sesuai yang digariskan oleh islam?

Makanan halal, sesuai definisi umum, adalah segala jenis makanan yang tidak mengandung zat yang haram, serta diperoleh dengan cara yang baik. Namun ternyata, makanan halal bukan hanya makanan yang tidak mengandung bahan-bahan yang disebut haram seperti bangkai, darah, babi, binatang buas, khamr, dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah SWT.

Baca juga : Agama Dapat Menjadi Penyelesai Peradaban Dunia

Ivon Widiahtuti dari Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) MUI mengungkapkan, sebenarnya makanan yang diharamkan itu sangat sedikit sehingga orang akan mudah mengetahui. Tapi kenyataannya justru kadang-kadang banyak orang yang tidak sadar makanan yang dikonsumsinya masuk kategori halal.

“Makanan yang sejatinya halal atau diperbolehkan dalam Islam bisa berubah menjadi haram apabila terkontaminasi dengan bahan atau alat dari makanan haram. Misalnya, tercampur dengan bagian-bagian dari tubuh babi atau campuran khamr,” ungkap Ivon saat menjadi narasumber talkshow “Indonesia Halal Expo (Indhex)”  di Smesco, Pancoran, Jakarta, belum lama ini. 

Ivon menjelaskan, mengonsumsi makanan halal tak sekadar makanan atau minuman yang berasal dari bahan-bahan halal. Tetapi juga fasilitas dalam pembuatan kuliner tersebut. Misalnya, wadah, alat-alat masak seperti kuas, dan sebagainya.

"Tidak hanya bahan yang halal), tetapi juga bagaimana fasilitas alatnya untuk membuat produk tersebut. Kalau alatnya mengandung hal-hal yang haram, tentunya akan mengubah status kehalalannya. Itulah konsepnya, tidak hanya bahan, tetapi fasilitasnya," tukasnya.

Comment

LEAVE A COMMENT