Pahlawan Nasional Untuk Pemersatu Islam dan Pengawal Pancasila

Jakarta – Kasman Singodimedjo adalah salah satu tokoh islam yang ikut berperan besar merumuskan Pancasila menjelang Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dahulu. Tak salah, bila pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2018, pemerintah secara resmi menganugerahkan pahlawan nasional kepada tokoh Muhammadiyah ini.

Pemberian gelar pahlawan nasional tersebut diberikan sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 123/TK/TAHUN 2018 tanggal 6 November 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Pemberian gelar pahlawan tersebut dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Kasman Singodimedjo adalah tokoh dari Jawa Tengah yang menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Menjelang kemerdekaan Indonesia, Kasman dipercaya menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Kasman pun berperan besar dalam pengesahan Undang-Undang Dasar 1945, tepatnya pada 18 Agustus 2018. 

Kasman mengutarakan usul mengenai penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Usul ini sempat menuai penolakan dari golongan Islam.

Baca juga : Kuatkan Lembaga dan Keilmuan Pesantren, Pemerintah Luncurkan Beasiswa Santri

Ki Bagus Hadikusumo yang mewakili golongan islam, menolak usulan tersebut. Sebab, tujuh kata tersebut merupakan kesepakatan bersama yang telah dicapai pada rapat Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada 22 Juni 1945. Namun tujuh kata itu mengalami penolakan dari Indonesia bagian Timur, jika kata dalam Piagam Jakarta tersebut tetap ada. 

Soekarno dan Hatta kemudian mempercayai Kasman untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo.  Di sinilah Kasman berperan besar dalam pemersatuan golongan Islam dan Nasionalis. 

Menurut cerita mantan sekretaris pribadi Kasman Singodimedjo, almarhum AM Fatwa yang dikutip dari Kompas.com, waktu itu Kasman berbicara empat mata dengan Ki Bagus Hadikusumo. Sebab, dua utusan sebelumnya yang juga mewakili golongan Islam, yakni Teuku Muhammad Hasan dan KH Wahid Hasyim, gagal membujuk Ki Bagus Hadiksumo. Kasman pun sejatinya merupakan perwakilan dari golongan Islam.

"Pak Kasman sama sekali tak menganggap Pancasila bertentangan dengan Islam. Bagi Beliau, Pancasila merupakan bagian dari Islam," ujar Fatwa.

Tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu pun dihapuskan dan kemudian diganti menjadi ''Ketuhanan yang Maha Esa'', sebagaimana tertulis pada Sila pertama Pancasila. 

Kasman menjelaskan kepada Ki Bagus Hadikusumo bahwa makna dari Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan ketundukan umat Islam kepada Allah SWT. Di samping itu Kasman juga mendudukkan situasinya kepada Ki Bagus Hadikusumo bahwa saat itu kondisi memang sedang genting karena masih ada tekanan dari Jepang dan sekutu.

"Indonesia saat itu butuh UUD sesegara mungkin sebagai syarat berdirinya negara agar diakui oleh pihak internal maupun eksternal. Enam bulan kemudian ada kesempatan untuk merevisinya lagi, itu yang diucapkan Pak Kasman," ujar Fatwa

Argumentasi Kasman tersebut berhasil meluluhkan hati Ki Bagus Hadikusumo. UUD 1945 saat itu pun berhasil disahkan berkat kebesaran hati golongan Islam melalui peran Kasman Singodimedjo.

Kasman aktif dunia pergerakan dimulai sejak dirinya aktif di Muhammadiyah. Pada1925, dia menjadi salah satu tokoh sentral di Jong Islamieten Bond (JIB). Sebuah perkumpulan pemuda Islam yang menjadi cikal bakal organisasi pergerakan lainnya.

Pada 1938, Kasman turut membentuk Partai Islam Indonesia di Surakarta bersama KH Mas Mansur, Farid Maruf, Sukiman, dan Wiwoho Purbohadidjoyo. Momen itu sekaligus menabalkan dirinya sebagai eksponen golongan Islam. Di zaman pendudukan Jepang, Kasman pun aktif sebagai Komandan Pembela Tanah Air (Peta) Jakarta.

Comment

LEAVE A COMMENT