Sadio Mane: Striker Liverpool Yang Rendah Hati, Rajin Ibadah dan Bersihkan Toilet Masjid

Liverpool – Sadio Mane adalah trio muslim bersama Mohammed Salah dan Xherdan Shaqiri, yang menjadi andalan Liverpool musim ini. Sane dikenal cepat dan taktis mengoyak pertahanan lawan dari sisi kiri, sementara Salah berada di belakang Roberto Frimino sebagai penggedor utama Liverpool. Shaqiri piawai dalam mengolah umpan dari kanan dengan set piece kaki kiri ke jantung pertahanan lawan.

Keberadaan trio muslim adalah ‘nafas’ permainan tim asuhan Juergen Klopp tersebut. Sejauh ini, Liverpool bersaing ketat dengan Manchester United dalam perburuan gelar juara musim ini. Dari 13 laga yang telah dimainkan, Liverpool mengoleksi 33 poin, tertinggal 2 poin dari Manchester City.

Terlepas aksi ciamik trio Muslim dalam setiap laga the Reds, ada sisi luar biasa dari sosok Sadio Mane. Pemain yang juga masuk nominasi lima calon pemain terbaik Afrika tahun ini, dikenal sebagai seorang Muslim yang rendah hati dan disiplin dalam berlatih. Dalam sebuah video yang sempat viral di media sosial, tampak Mane tidak sungkan ikut membersihkan toilet di sebuah masjid di Liverpool. Bahkan itu bukan sekali dilakukan, tapi hampir setiap ia memiliki waktu senggang, ia selalu datang ke masjid tersebut dan membantu marbot masjid.

Baca juga : Polri Lakukan Pemetaan dan Profiling Masjid Terpapar Radikalisme

“Sadio meminta agar video tidak disebarkan. Dia ingin tetap rendah -hati dan tidak dipublikasi, ”Abu Usamah Al-Tahabi, imam Masjid Al Rahma di daerah Toxteth di Liverpool, kepada BBC.

“Dia sering datang ke masjid ini. Di rumahnya, ia memiliki Bentley,  tetapi ia datang ke sini dengan mobil yang tidak terlalu mewah, jadi dia menyamar. Dia bukan orang yang mencari gembar-gembor. Ia pribadi yang santun dan jauh dari arogansi,” ungkap Al-Tahabi.

Video ini bukan satu-satunya bukti tentang perilaku baik mantan pemain Southampton tersebut. Sebelum final Liga Champions pada bulan Mei, ia memberikan kaos Liverpool kepada penduduk setempat di kota kelahirannya Bambali di Senegal.

“Ada 2.000 di desa. Saya membeli 300 kaos Liverpool untuk dikirim ke orang-orang di desa, sehingga para penggemar bisa mengenakan untuk menonton pertandingan final, ”kata Mane.

Bambali adalah tempat Mane menyaksikan comeback terkenal Liverpool melawan AC Milan untuk memenangkan final Liga Champions 2005. Saat itu, Maneberusia 13 tahun. Saat itu tak terbersit sedikit pun di pikirannya bahwa suatu saat ia akan mengenakan kostum Liverpool.

“Sadio berasal dari komunitas miskin. Dia tipe pria siap membantu siapa pun. Dia memiliki banyak inisiatif dan telah membantu membangun sebuah masjid di kampung halamannya,” tambah Al-Tahabi.

Comment

LEAVE A COMMENT