Satu Desa Satu Hafiz Jurus Jitu Tangkal Radikalisme

Bandung – Gagasan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil “satu desa satu hafiz Al Quran” dinilai sangat jitu untuk menangkal serangan radikalisme dan terorisme. Tidak hanya itu, program itu juga bisa meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat desa.

Penilaian itu disampaikan oleh Ketua DPW PKB Jabar Syaiful Huda. Ia sangat mengapresiasi program tersebut karena secara keilmuan satu desa satu hafiz bisa menjadi cara untuk mencetak mubaligh inklusif. Disamping itu seorang hafiz secara tidak langsung menempa kepribadiannya agar lebih berkarakter sesuai dengan ajaran Al Quran.

“Dengan kaderisasi hafiz quran bisa menjadi upaya untuk meningkatkan mental karena siapapun yangvmengkaji islam dengan mendalam pasti akan akan menjadi generasi yang unggul secara akhlak, mental, dan karakter,” kata Huda di Bandung, Minggu (11/11/2018).

Baca juga : Segala Usaha ‘Melacurkan’ Agama Untuk Kepentingan Politik Harus Ditolak

Di tataran dunia pendidikan, terang Huda, program hafiz sudah lebih dulu menjadi salah satu jalur khusus untuk menempuh jenjang pendidikan. Praktis, dengan menekankan satu hafiz di satu desa memberikan peluang bagi remaja di pedesaan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Seperti diketahui di beberapa perguruan tinggi sudah menerapkan jalur penerimaan khusus kepada hafiz Al Quran.

Selain itu, program tersebut mampu mendongkrak remaja pedesaan untuk masuk ke perguruan tinggi, Huda menilai hal tersebut menjadi investasi berharga untuk menciptakan motor pertumbuhan dan perkembangan desa.

“Ini mobilisasi sosial ketika anak desa ini jadi hafiz bisa sekolah, bisa kuliah, dan setelah kuliah ini pengetahuannya semakin komprehensif wawasannya tidak hanya ilmu agama, tapi juga pengetahuan yang lain. Ada mobilisasi dahsyat mungkin 10-15 tahun ke depan kita akan melihat wajah-wajah di desa ini terjadi perubahan luar bisa,” ungkapnya.

Lebih lanjut Huda menegaskan bahwa program satu desa satu hafiz ini merupakan salah satu cara untuk menangkal paham radikalisme. Sebab, pembelajaran Al Quran dikaji secara menyeluruh.

“Radikalisme lahir karena pemahaman agama yang dangkal. Pemahaman yang dangkal karena tidak komprehensif menafsirkan Al Quran,”pungkasnya.

Comment

LEAVE A COMMENT