TGB: Tidak Tepat Mengaitkan Bendera Rasulullah di Zaman Sekarang

Jakarta – Zaman milenial sekarang ini jelas tidak tepat bila disamakan dengan zaman jahiliyah saat Rasulullah Muhammad SAW berperang melawan kaum Quraisy. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak, terutama umat muslim, untuk jujur menyikapi kasus pembakaran bendera HTI di Garut beberapa waktu lalu.

Pernyataan itu diungkapkan oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB). Menurutnya, sangat tidak tepat bila bendera tersebut dikaitkan dengan bendera Rasulullah SAW.

"Kita semua harus jujur dengan apa yang terjadi. Saya pikir ketika kita bicara tentang atribut bendera, tidak pas kalau semata kita bicara bahwa,  Itu bendera Rasul, misalnya. Itu kan zaman Rasul bendera itu sudah ada," kata TGB di Jakarta, Kamis (25/10/2018) dikutip dari detik.com.

TGB mengungkapkan bahwa dia telah mengecek literatur soal bendera Rasulullah dan tidak pernah menemukan literatur yang menceritakan bendera Rasulullah dikibarkan di situasi damai.

"Sampai hari ini, saya mengecek di semua khazanah kitab-kitab hadis tentang perjalanan Rasul. Dari awal sampai akhir, saya belum pernah menemukan ada satu narasi terkait dengan bendera Rasul itu dikibar-kibarkan di Madinah dalam keadaan damai. Dalam keadaan damai dan biasa-biasa saja, masak bendera masa perang dikibarkan, itu tidak pernah ada. Sampai sekarang saya tidak pernah menemukan," papar TGB.

Aksi pembakaran bendera itu terjadi pada Peringatan Hari Santri di Garut, 22 Oktober lalu. Pihak kepolisian menyebut bendera yang dibakar itu adalah bendera HTI, organisasi terlarang di Indonesia.

Terkait HTI, TGB mengungkapkan bahwa organisasi itu juga dilarang di negara lain. Pelarangan tersebut tak serta merta menjadi sebuah sikap anti-Islam. Dia menyebut ada 20 negara yang melarang, termasuk Turki, Arab Saudi, sampai Mesir.

"Kelompok itu dilarang di Turki, Saudi, Mesir, mungkin lebih 20 negara. Apakah itu berarti pemerintah Turki anti-Islam? Apakah itu berarti pemerintah Saudi anti-Islam? Mesir anti-Islam? Ketika melarang kelompok itu, untuk ada di situ saya pikir bukan. Jadi kenapa dilarang pasti ada alasan obyektifnya," ungkap TGB.

Ia menilai, tak seharusnya peristiwa pembakaran bendera itu disebut sebagai pelecehan terhadap bendera Rasul. Sebab pada praktiknya, pengibaran bendera di luar konteks peperangan sebagai sebuah kekeliruan. Ia menegaskan Indonesia saat ini dalam keadaan damai sehingga pengibaran bendera tersebut tidak tepat.

"Menurut saya tidak bisa begitu saja kita bicara, bahwa itu melecehkan bendera Rasul. Karena pada praktiknya kalau pun ada panji, itu panji pada saat perang. Seperti yang berulang kali saya sampaikan, Indonesia adalah tempat di bumi Allah yang paling aman dan damai di tengah perbedaan yang luar biasa tapi dipersatukan diikat semangat kebangsaan," paparnya.

Kendati demikian, TGB tetap tidak membenarkan aksi pembakaran bendera itu. Jika bendera tersebut dikibarkan di luar konteks perang, ada baiknya dilipat diserahkan ke penegak hukum.

Comment

LEAVE A COMMENT